hujair.sanaky@staff.uii.ac.id

MASA ORIENTASI SISWA DAN MASA PERKENALAN MAHASISWA

July 13th, 2012 · No Comments


MASA ORIENTASI SISWA DAN MASA PERKENALAN MAHASISWA

MEWUJUDKAN PENDIDIKAN TANPA KEKERASAN

Oleh:

Hujair AH. Sanaky[1]

Abstrak

Stop kekerasan dalam dunia pendidikan, karena tidak sesuai dengan visi dan misi pendidikan. Untuk melaksanakan pendidikan tanpa kekerasan diperlukan penanaman nilai-nilai, perilaku prasosial, mendisiplinkan peserta didik dengan cara yang positif, mengajari cara-cara menyelesaikan masalah konflik tanpa kekerasan dengan diikuti pedoman yang jelas, mengikat bagi guru dan peserta didik. Harus dilakukan kontrol terhadap berbagai kegiatan yang dilakukan siswa dan mahasiswa yang berpotensi kekerasan baik fisik maupun verbal. Kegiatan siswa maupun mahasiswa yang berindikasi, berpotensi kekerasan, harus dihentikan dan diberikan sanksi yang tegas.

Kata kunci: Stop kekerasan dalam dunia pendidikan”

Pendahuluan

Dalam menyambut kedatangan siswa dan mahasiswa baru, tiap tahun ajaran baru selalu dihadapakan dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan kampus yang dikenal dengan istilah MOS dan di Perguruan Tinggi dikenal ”Masa Perkenalan Mahasiswa” (Pekan Ta’aruf). Bagi siswa di sekolah, orang tua selalu disibukan dengan berbagai permintaan yang aneh-aneh dari panitia MOS, seperti penggaris ”warna hitam” dengan ukuran tertentu, minuman miniral 700 mg, dan lain-lain. Mahasiswa baru diminta oleh ”senior” atau ”panitia Pekan Ta’aruf” untuk selalu mencari sesuatu ”diluar kewajaran” dengan wantu yang cukup pendek. Orang tua siswa dan mahasiswa baru, selalu disibukan, dihadapkan pada persoalan klasik, terstruktur, membudaya, mendarah daging, dilembaga pendidikan di Indonesia, yang sebenarnya tidak memiliki dampak terhadap kepribadian siswa dan mahasiswa baru ketika mengikuti pelajaran dan kuliah, setelah mengikuti MOS dan Pekan Ta’aruf.

MOS dan Pekan Ta’aruf didesain sedemikian rupa sebagai ajang ”pengenalan sekolah” dan ”kampus”, dengan berbagai kegiatan, berupa kegitan baris-berabris, berlari-lari, bernyanyi-nyanyi, ceramah-ceramah, diskusi-diskusi, bakti sosial, ada hukuman, kegiatan mengumpulan sesuatu yang ditentukan panitia, dan sebagainya yang dianggap oleh ”desainer” kegiatan tersebut dianggap sebagai ajang pembentukan kepribadian siswa dan mahasiswa yang akan masuk sekolah dan kampus. Tapi sayangnya, sering terjadi kekerasan verbal (tidak langsung) dan kekerasan fisik (langsung) yang memiliki dampak yang sangat ”menyedihkan” bagi lembaga pendidikan kita di Indonesia.

Pada awal tahun siswa dan mahasiswa baru, orang tua, siswa dan mahasiswa selalu disibukkan untuk mencarikan sesuatu yang ditentukan oleh panitia atau senior yang kadang-kadang tidak wajar, seperti mencari jenis ikan yang beratnya ditentukan, membawa dot, memberi nama julukan pada diri sendiri, menirukan suara binatang tertentu, berbicara dengan tembok, membuat topi dari bola, membuat topi dari koran di atasnya ditempelkan balon, membuat tas dari kardus, mencarikan suatu jenis makanan yang tidak ada merknya atau sudah langkah, mencari pisang ”gandeng”, dan sebagainya. Bila seorang siswa atau mahasiswa tidak memenuhi permintaan tersebut akan diberikan hukum dan hukumannya selalu tidak mendidik.[2] Terdengar suara ”bentakan” dari panitia atau senior yang begitu keras, terdengar suara pukulan didinding begitu keras, dan lain-lain perilaku panitia dan senior terhadap yuniornya atau siswa dan mahasiswa baru.

Dalam kegiatan tersebut, siswa wajib memegang ular dari berbagai ukuran, agar berani, tapi ketika ditanya reporter salat satu siaran TV, bila diluar ketemu ular gimana sikapmu, jawab siswa tidak tahu. Dipihak lain siswa juga ”dihipnotisme” agar siswa mandiri, kata seorang guru, akibatnya siswa menangis, terharu, agar siswa bersikap baik, pola ini sebagai nuansa baru dalam MOS, kata gurunya, tapi ketika seorang siswa ditanya reporter, apa pengaruhnya, jawabannya tidak ada yang dirasakan (pengaruh) terhadap dirinya. Tetapi ada yang lebih menarik dalam pandangan konsep pendidikan, kata seorang guru, kegiatan-kegiatan dalam MOS agar ”mengubah kebiasaan buruk” siswa. Hal ini menunjukkan paradigma yang dibangun lembaga pendidikan dan para guru bahwa anak yang berasal dari Sekolah Lanjutan Pertama, selalu membawa ”kebiasaan buruk”. Betapa ”buruk”nya paradigma-persepsi yang dibangun lembaga pendidikan dan para gurunya terhadap siswa yang akan masuk Sekolah Lanjutan Atas (SMA).

Dalam situasi seperti itu, memang terlihat yunior (siswa) tidak berdaya, dibuat tidak kritis, karena tidak memiliki hak untuk membantah, hak demokrasi, humanisnya terabaikan. Alasan mendasar bersifat klasik dan tidak dapat dipertanggung jawabkan adalah ”penggembelengan” mental dan perilaku, Apakah benar seperti itu, pola dan strategi penggembelengannya? Maka secara jujur dapat dikatakan bahwa kegiatan tersebut di atas (memegang ular, dihipnotis, beratribut yang aneh-aneh, dan sebagainya) bila ditropong dengan menggunakan ”kacamata” pedagogik, tanpaknya tidak memiliki nilai-nilai ”educatif”, tidak memiliki nilai ”mendidik”, nilai pembinaan, tetapi hanya mengandung nilai-nilai ”kelucuan”, tapi sebenarnya juga ”tidak lucu”, menyedihkan bahkan membahayakan dan mengaburkan ”nilai-nilai pembianaan” disuatu lembaga pendidikan.

Penggembelengan ataukah Perilaku “Feodalisme”

Dunia pendidikan Indonesia antara apa yang diidealkan (das solen) dangan realitas di dunia (das sein) sering berbeda. Nilai-nilai ideal tersebut telah disosialisasikan dan ditransferkan pada peserta didik, seiring dengan itu kekerasan-pun sering terjadi dalam dunia pendidikan, yang mengembangkan nilai-nilai normatif ideal tersebut. Memang tak seorang pun menginginkan terjadinya tindak kekerasan, apalagi di lembaga pendidikan yang sepatutnya menyelesaikan masalah secara edukatif. Tetapi mengapa masih dijumpai perilaku kekerasan?[3] Apakah ada sesuatu yang salah ataukah memeng demikian rapuhkah dunia pendidikan di Indonesia, sehingga kekerasan[4] sering terjadi, cenderung selalu meningkat, baik itu kekerasan guru terhadap murid, perkelahian antar pelajarn, perkelahian antar mahasiswa, kekerasan terjadi dalam kegiatan siswa dan mahasiswa, seperti Masa Orientasi Siswa (MOS) dan Masa Perkenalan Mahasiswa. Kegiatan-kegiatan MOS dan Pekan Ta’aruf tersebut seakan-akan sudah membudaya, menjadi culture di lembaga-lembaga pendidikan pada setiap tahun ajaran baru. Orang tua dan masyarakat selalu disibukan dengan kegiatan tersebut dan selalu kita membaca dan mendengar berita tentang aksi kekerasan baik bersifat verbal maupun fisik, bahkan sampai merenggut nyawa. Namun pertanyaan kenapa praktek kekerasan terus menerus terjadi di dunia pendidikan kita? Apa penyebabnya? Apakah ada sesuatu yang salah dari sistem pendidikan kita?

Telah terjadi perilaku “feodalisme” dalam dunia pendidikan. Perilaku ini masih tumbuh subur, dimulai dari kegiatan yang disebut MOS dan OSPEK, atau sejenisnya, yang telah mengekalkan “culture” praktek “feodalisme” di lembaga pendidikan yang berbuntut pada perilaku kekerasan. Sebenarnya institusi pendidikan berfungsi sebagai lembaga pendidikan untuk membentuk manusia-manusia merdeka berjiwa demokratis, humanis, “kenapa” konsep “feodalisme” pertama kali ditanamkan ketika anak mulai “mengenal sekolah” dan “mengenal kampus”. Apapun alasannya apakah kegiatan tersebut untuk ajang perkenalan ataukah membangun mental-kepribadian untuk siap masuk sekolah atau kuliah, kegiatan tersebut telah membangun sikap “feodal” untuk pertama kalinya siswa mengenal Sekolah Lanjutan Atas dan kampus.

Kelemahan mendasar dalam konteks ini adalah penegakkan hukum dalam kegiatan tersebut masih sangat minimal. Inilah kemudian melanggengkan seluruh struktuk dan praktek kekerasan yang terjadi dalam kegiatan tersebut di lembaga-lembaga pendidikan. Katakan saja, kontrol dan pengawasan institusi pendidikan, kepala sekolah, guru, rektor, dekan, ketua program studi, sangat lemah, bahkan mungkin saja tidak ada, sehingga lembaga pendidikan secara institusional maupun pimpinannya secara personal tidak mengetahui praktek “kekerasan” dan bahkan perilaku “premanisme” yang terjadi di lembaga yang dipimpinnya. Dari realitas tersebut, harus ada keberanian melakukan tindakan melawan praktek kekerasan, terus menerus disuarakan, baik di forum seminar, diskusi, atau bila perlu menggugat[5] dan menghentikan kegiatan tersebut.

Berkembangnya kekerasan dalam dunia pendidikan juga terjadi karena sistem yang telah melembaga, sehingga menjadi suatu cultur organisasi, tersistematis, terstruktur dalam lembaga pendidikan. Tesa ini dapat dapat dibuktikan dengan melihat fenomena yang terjadi di beberapa lembaga pendidikan dengan merajalelannya “irasionalitas” bentuk kekerasan dalam pendidikan, menunjukkan betapa lemahannya sistem pendidikan kita. Kelemahan sistem ini terjadi karena lemahnya kepemimpinan dalam lembaga pendidikan yang diakibatkan oleh tidak jelasnya visi pendidikan. Jika keadaan ini terus berlangsung, maka perilaku dan tindak kekerasan dalam pendidikan tidak dapat diatasi, daftar kekecewaan juga diperpanjang dengan munculnya kasus-kasus kekerasan yang melibatkan oknom guru dan murid, bahkan di lingkungan kampus ada kekerasan secara turun-temurun yang disebut dengan kegiatan “perploncon” dilakukan oleh senior pada yuniornya secara tersistematik dan tersktruktur.

Agar perilaku kekerasan dalam dunia pendidikan dapat diredam, harus ada visi pendidikan yang jelas dan sistem pendidikan yang terbuka atas kontrol publik. Mayarakat mempunyai hak untuk mengetahui bagaimana sistem pendidikan, pembinaan dalam lembaga pendidikan. Orang tua murid dan mahasiswa harus tahu apa manfaat kegiatan MOS dan Pekan Ta’aruf tersebut terhadap “kompetensi” yang akan dimiliki peserta didik. Di sini diperlukan keterbukaan lembaga-lembaga pendidikan terhadap keingintahuan masyarakat. Maka untuk menciptakan lembaga pendidikan terbuka atas control publik, dibutuhkan tiga syarat; pertama, dibutuhkan figur pemimpin yang berkarakter, mempunyai visi pendidikan yang jelas, dapat menciptakan struktur dan kultur pendidikan yang sehat;[6] kedua, memiliki kemampuan managemen memadai untuk mengatur dan mengontrol berbagai kegiatan siswa di sekolah; ketiga, setiap lembaga pendidikan dapat mempertanggung jawabkan kinerjanya kepada pemangku kepentingan, yaitu orangtua dan masyarakat;[7] dan keempat, secara terbuka dapat menerima kritik, saran perbaikan dari pengguna prodak pendidikan.

Institusi pendidikan merupakan sebuah ranah (domain) sosial, diharapkan mampu berperan sebagai kawah candradimuka untuk lahirnya intelektualitas, moralitas, orde kehidupan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian, demokrasi, kebebasan dan perdamaian. Bila demikian, maka perilaku kekerasan, premanisme, tidak harus terjadi dalam berbagai kegiatan di lingkunagn lembaga pendidikan. Padahal lembaga pendidikan diharapkan mampu mambangun dan membentuk karaktek dan kepribadin bangsa (nation and character building),[8] membangun moral keagamaan, demokrasi, kebebasan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Pembentukan karakteristik dan kepribadian bangsa merupakan hal yang sangat penting bahkan sangat mendesak, agar masyarakat memiliki keadaban (civility), yang merupakan suatu ciri dari masyarakat madani demokrasi dan beradab. Upaya ke arah ini harus dilakukan melalui kegiatan dan aktivitas pembinaan yang menyenangkan, memanusikan, memberdayakan potensi siswa dan mahasiswa. Lembaga atau institusi pendidikan dieksplisitkan sebagai center of excellence bagi terwujudnya pembedayaan potensi manusia dan humanisme. Hal ini menunjukkan sebuah institusi pendidikan berarti sebuah lingkungan yang jauh lebih berwibawa dibandingkan dengan lingkungan pabrik, bengkel, pasar, hotel, atau dibandingkan barak militer. Ini karena secara eksistensial, setiap manusia dalam lingkungan pendidikan didorong untuk mengenal hakikat kemanusiaan dirinya secara utuh, potensi dirinya dengan berbagai varian potensi yang dimiliki, belajar menerima keberadaan orang lain dengan prinsip “teposelira”. Itulah mengapa pembudayaan akal budi dalam dunia pendidikan seiring sejalan dengan pengukuhan hati nurani dan dalam dunia pendidikan itulah intelektualitas berfungsi merawat hati nurani,[9] dan merawat perilaku.

Karakter bangsa kita, sesungguhnya adalah bangsa yang berbudaya tinggi, bangsa berbudi halus, bangsa yang toleran, bangsa yang tepaselira, menjungjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Katakan saja, para leluhur, nenek moyang kita, telah meninggalkan instrumen-instrumen budaya, bahasa, budi pekerti, sopan santun, tenggang rasa, sesungguhnya tidak untuk menjadikan anak bangsa ini berjiwa keras, hoby, suka pada kekerasan, brutal, premanisme, dan sebagainya. Pertanyaannya, kenapa mutiara-mutiara instrumen tersebut sekan-akan hilang, teggelam ditelan masa dari kehidupan bangsa ini, bila kita menyaksikan berbagai tayangan televisi, berbagai berita di media cetak, mengenai bentuk-bentuk tindak kekerasan yang dilakukan di lembaga pendidikan dan masyarakat.[10] Apakah konsep pendidikan kita tidak mampu membangun karaktek bangsa berbudaya tinggi, berbudi halus, toleran, tepaselira, menjungjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai kebebasan.

Pemerintah telah merespon persoalan di atas dengan pelbagai peraturan perundangan yang lebih responsif, seperti UU Perlindungan Anak (UU PA), UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU RKDRT). Kenyataannya tidak secara otomatis akan menghapus tindak kekerasan bahkan kejahatan kemanusiaan tersebut, bahkan terkesan terus berlanjut, intensitasnya makin meningkat dengan motif semakin beragam, bukan hanya kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan psikis. Artinya, di era modern, reformasi dan globalisasi ini, banyak sekali kejadian-kejadian yang sangat ironis, menyedihkan dan memalukan menimpa bangsa kita “terutama” dalam dunia pendidikan. Tentu saja sangat tidak sesuai dengan tujuan, visi dan misi pendidikan nasional bangsa ini yang berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia Pancasilais yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan nasional tersebut sangat mulia, tapi pendidikan dengan bentuk kekerasan yang ada di bangsa kita ini selalu saja ada dan tanpaknya belum dapat terselesaikan dan hilang.[11]

Dari tahun ke tahun, tanpaknya kekerasan yang terselubuh dalam kegiatan MOS dan Pekan Ta’aruf, kekerasan dalam pembelajaran, dalam proses pendidikan, tidak semakin berkurang, tetapi meningkat. Kekerasan telah terjadi di masyarakat dan lembaga pendidikan, baik yang bersifat verbal maupun kekerasan fisik yang selalu merebah dan ditayangkan oleh beberapa stasium TV, seakan-akan perilaku kekerasan sudah melembaga dan terstruktur. Ada apa dengan bangsa ini, apakah pilar-pilar budaya, moral, etika, akhlak sudah hilang dari kehidupan bangsa ini. Mengapa dan kenapa kekerasan ada di mana-mana dan terjadi di mana saja. Apakah sistem pendidikan kita tidak mampu lagi menghasilkan manusia-manusia yang berbudaya, berbudi, bermoral, berakhlak, ataukah pendidikan budi pekerti yang mendidik kehalusan, sopan santun, menghormati hak-hak asasi, seakan-akan hilang dari lembaga-lembaga pendidikan. Apakah sekolah-sekolah hanya mengajarkan pendidikan budi pekerti dalam bentuk “pendidikan kognitif” semata atau mungkin saja di sekolah-sekolah sudah hilang atau kelihatan tidak diajarkan lagi. Sehingga lahir anak bangsa yang tidak perduli dengan orang lain, keras, kurang santun, yang penting apa mau kita, harus diikuti dan tidak boleh dihalang-halangi atau dibatas-batasi. Bila demikian kondisnya, maka bangsa ini dalam kondisi sakit, kita harus sedih dan prihatin, sebab kerinduan pada perilaku bangsa yang tidak primitive, tidak brutal, tidak bar-barian, tidak demonstrative, tapi perilaku bangsa yang berbudaya, santun, penuh toleransi menjadi kian terasa.

Berbagai tindak kekerasan yang terjadi di institusi pendidikan kita itu jelas memprihatinkan, mengharukan dan bahkan memalukan. Menggambarkan tindakan primitifisme, bar-barianisme, brutalisme, dan sebagainya predikat untuk itu. Para pelajar (siswa dan mahasiswa) merupakan generasi penerus bangsa ini, mereka adalah para calon pemimpin bangsa negara ini. Bila awal masuk sekolah, masuk kampus, semasa belajarnya, mereka terbiasa dengan perilaku kekerasan, baik aktif (terlibat langsung) maupun pasif (menyaksikan), dapat dipastikan cara-cara kekerasan itu pulalah yang akan mereka tempuh untuk menyelesaikan segala perbedaan ketika mereka sudah di masyarakat atau di lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta.

Bila semua ini terus berlangsung di institusi-institusi pendidikan kita, lantas apa jadinya bangsa dan negara ini. Hukum hanya akan menjadi asesoris. Sedangkan yang berlaku hukum rimba, adu otot, dan anarkisme. Berbeda pendapat tentu saja boleh, berunjuk rasa juga boleh, bahkan yang terakhir ini merupakan salah satu ciri demokrasi. Yang tidak boleh adalah menyelesaikan perbedaan pendapat dengan kekerasan dan anarkisme. Barangkali ada baiknya, bila tema-tema seperti demokrasi, menghargai pendapat orang lain, dan penyelesaian perbedaan pendapat dijadikan kurikulum di kampus-kampus dan sekolahan kita. Faktor lain, orang tua, pimpinan lembaga pendidikan, dosen, guru-guru, pemimpin bangsa, harus menjadi teladan terlebih dulu. Perlu diberlakukan kontrol sosial dengan cara memberi ”sanksi” kepada siswa yang melanggar aturan atau tata tertib sekolah harus sudah sesuai, tapi saja, efektivitasnya masih dipertanyakan, karena sangat terkait dengan lingkungan di dalam dan di luar sekolah yang mendukung tujuan hukuman tersebut. Maka dalam upaya membentuk perilaku yang berkaitan dengan pendidikan moral dan kedisiplinan merupakan pembahasan yang banyak dikaji dalam pendidikan. Cara yang biasa digunakan adalah dengan menghukum siswa mulai dari yang ringan berupa ungkapan verbal yang “menyakitkan”, hingga tidak jarang siswa mendapatkan hukuman fisik yang tidak sepadan dengan kesalahan siswa. Pendidikan semestinya dapat memberikan pencerahan dan bimbingan terhadap hukuman yang belum humanis. Pendekatan dan strategi yang dilakukan tersebut memang berbeda dengan konsep pendidikan konvensional tentang reward and punishmen yang pada dasarnya berfungsi sebagai sebagai reinforcerment.

Terjadinya Kekerasan

Ada beberapa indikator model kekerasan yang dapat diamati sebagai proses terjadinya kekerasan, yaitu

(1) Kekerasan terbuka, kekerasan yang dilakukan seseorang terhadap orang lain yang dapat dilihat dan diamati secara langsung, seperti perkelahian, tawuran, bentrokan massa, dan yang berkaitan dengan tindakan fisik lainnya;

(2) Kekerasan tertutup, kekerasan yang dilakukan seseorang terhadap orang lain secara tersembunyi, seperti mengancam dan intimidasi;

(3) Kekerasan agresif, kekerasan dilakukan seseorang terhadap orang lain dengan tujuan mendapatkan seseuatu, seperti perampokan, pemerkosaan, dll.

Ketiga indikator model kekerasan di atas, selalu menjadi langganan dalam dunia pendidikan kita saat ini, tetapi tidakan kekerasan tidak pernah diinginkan oleh siapapun, apalagi di lembaga pendidikan yang sepatutnya menyelesaikan masalah secara edukatif.

Namun tak dapat dihindari, di lembaga pendidikan ternyata masih menyimpan dan sering terjadi tindakan yang sifatnya ”destruktif”. Beberapa analisa yang dapat diajukan untuk mencermati pemicu terjadinya kekerasan dalam dunia pendidikan, adalah:

(a) Kekerasan dalam dunia pendidikan muncul akibat adanya pelanggaran yang disertai dengan hukuman terutama berupa hukuman fisik.

(b) Kekerasan dalam dunia pendidikan dapat terjadi akibat buruknya sistem dan kebijakan dunia pendidikan yang berlaku. Kurikulum dunia pendidikan di negeri ini ternyata lebih mengandalkan kemampuan aspek kognitif dan mengabaikan aspek pendidikan yang efektif sehingga proses humanisasi dalam pendidikan menjadi sesuatu yang jauh dari harapan. Mengabaikan pendidikan budi pekerti yang mendidik kehalusan, sopan santun, menghargai yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, menghormati hak-hak asasi.[12]

(c) Mungkin saja sistem pendidikan kita menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang tertekan, tidak kritis, bertindak dan berpikir dalam acuan suatu struktur kekuasaan yang hanya mengandalkan kepentingan sekelompok kecil rakyat Indonesia.[13]

(d) Kekerasan dalam pendidikan dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat dan tayangan media massa yang sarat dengan aksi-aksi kekerasan dan ditayangkan secara berlebih-lebihan.

(e) Kekerasan dalam pendidikan merupakan cerminan dalam perkembangan kehidupan masyarakat kita yang mengalami transformasi begitu cepat sehingga membuka ruang bagi timbulnya sikap ”instant solution”.

(f) Kekerasan dalam pendidikan dipengaruhi oleh latar belakang sosial-ekonomi pelaku.[14]

Bagaimana Pendidikan Meredam Kekerasan

Pendidikan adalah suatu proses menaburkan benih-benih budaya dan perdaban manusia yang hidup dan dihidupi oleh nilai-nilai atau visi yang berkembang dan dikembangkan di dalam suatu masyarakat. Inilah pendidikan sebagai suatu proses pembudayaan.[15] Pendidikan dalam perspektif UU 20 Tahun 2003, didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[16] Dalam perspektif yang sama, pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Begitu mulia tunjuan pendidikan nasional tersebut diselenggarakan di Indonesia, yang tersurat dalam UU tersebut. Namun pertanyaannya, kenapa praktek kekerasan itu terus menerus terjadi di masyarakat dan di dunia pendidikan kita? Apakah ada sesuatu yang salah dari sistem pendidikan dan kehidupan kita di Indonesia? Bila dicermati, ada beberapa penyebab yang dapat mendasarinya, yaitu:

(1) Dari pengajar itu sendiri, masih cukup banyak para pengajar, bahkan di sekolah-sekolah negeri yang cukup ternama, melakukan praktek kekerasan seperti menampar, menjewer atau mencubit dan yang paling sering dilakukan adalah intimidasi secara psikologis kepada para peserta didiknya;

(2) Terjadi perilaku feodalisme, perilaku ini masih tumbuh subur di hampir seluruh lembaga pendidikan. Perilaku ini dimulai dengan dari kegiatan yang namanya MOS, OSPEK dan atau sejenisnya. Tendensinya adalah mengekalkan praktek feodalisme di lembaga pendidikan yang berbuntut pada perilaku kekerasan. Kegiatan tersebut harus ditinjau kembali, karena seharusnya institusi pendidikan berfungsi membentuk manusia-manusia merdeka yang berjiwa demokratis. Kenapa konsep feodalisme, pertama kali ditanamkan ketika anak mulai sekolah dan masuk kampus. Apapun alasannya untuk pengenalan dan membangun mental untuk siap masuk sekolah atau kuliah, kegiatan tersebut membangun sikap ”feodalisme” untuk pertama kalinya, maka harus ditinjau kembali atau dihentikan sama sekali;

(3) Penegakkan hukum yang masih minimal, inilah yang kemudian melanggengkan seluruh struktuk dan praktek kekerasan yang terjadi di lembaga pendidikan. Kontrol dan pengawasan institusi pendidikan sangat lemah, sehingga lembaga pendidikan secara institusional maupun pimpinannya secara personal tidak mengetahui praktek kekerasan dan premanisme yang terjadi di lembaga yang dipimpinnya.

(4) Bagi orang tua, perlu melakukan control dan pengawasan terhadap putra-putrinya. Orang tua diharapkan dapat membuka komunikasi dua arah yang jujur dan terbuka untuk anak menjadi penting dan perioritas. Harus ada keberanian melakukan tindakan untuk melawan praktek kekerasan, terus menerus disuarakan, baik di forum kumpul-kumpul, seminar, diskusi, atau bila perlu menggugat.[17]

Mamang harus ada upaya dan usaha untuk; men-stop kekerasan dalam dunia pendidikan, karena tidak sesuai dengan visi dan misi pendidikan; anak harus dipandang sebagai siswa, sebagai guru, sekaligus sebagai teman; guru sebagai tenaga profesioal dituntut untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, memanusiakan, dan memberdayakan potensi anak dengan memperhatikan varian kecerdasan anak; strategi pembelajaran yang digunakan diupayakan agar menciptakan setting pembelajaran dan lingkungan belajar yang ramah, tidak ada ketegangan dalam pembelajaran sehingga memudahkan anak menerima informasi yang disampaikan; perlu reformulasi tentang reward dan punishment dalam praktik pendidikan di keluarga, sekolah dan masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip dalam ajaran Islam dan dilakukan secara bertahap serta disesuaikan dengan tingkat kesalahan yang dilakukan;[18] diperlukan penanaman nilai-nilai dan perilaku prasosial, mendisiplinkan peserta didik dengan cara yang positif, mengajarinya menyelesaikan masalah konflik tanpa kekerasan dengan diikuti pedoman yang jelas dan mengikat bagi guru dan peserta didik, serta pengawasan kooperatif oleh komunitas sekolah, orangtua dan tokoh masyarakat. Hal ini semestinya dilakukan agar dapat mengatasi tindak kekerasan, seperti tawuran antar pelajar dan tindak kejahatan serta kekerasan lain yang sering terjadi di sekolah dan luar sekolah.

Dari mana harus dimulai untuk meredam perilaku kekerasan yang membudaya ini. Menurut penulis, harus dimulai dari tiga lingkungan pendidikan yaitu mulai dari lingkungan rumah atau keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Pertama, lingkungan rumah atau keluarga adalah tempat pertama kali anak belajar mengenal aturan yang berlaku. Orang tua mulai melakukan pembiasaan perilaku, contoh-contoh perilaku yang baik, dengan pembiasaan sikap moral, akhlak, sopan santun, menciptakan sikap disiplin, sikap menghargai sesamanya, sikap menghargai pendapat walaupun berbeda, menghormati yang tua, menyangi yang muda, dan menghindari tindakan kekerasan dalam lingkungan keluarga. Sudah barang tentu dalam pembelajaran di lingkungan keluarga, anak cenderung mencontoh perilaku yang terjadi di rumah, menjadi kebiasaan, menjadi perilaku, dan membudaya.

Tapi disisi lain, banyak orang tua menganggap kekerasan pada anak adalah hal yang wajar. Hal itu merupakan bagian dari upaya mendisiplinkan anak. Tapi mereka sendiri lupa bahwa orangtua adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam mengupayakan kesejahteraan, perlindungan, peningkatan kelangsungan hidup, mengoptimalkan tumbuh kembang anaknya. Bila dicermati, “kekerasan yang terjadi di dalam lingkungan keluarga menduduki porsi terbesar dalam kasus kekerasan yang menimpa anak-anak pada rentang usia tiga sampai 18 tahun”. Sudah barang tentu dalam proses belajar ini, anak cenderung melakukan kesalahan. Bertolak dari kesalahan yang dilakukan, tentu saja anak akan lebih mengetahui tindakan-tindakan yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, patut atau tidak patut.[19] Pada hakekatnya, kekerasan orang tua terhadap anaknya boleh saja dilakuakan, asalkan tidak melanggar norma-norma yang ada di masyarakat dengan dalih supaya anak patuh pada orang tua. Hakekat anak adalah titipan dari sang Ilahi, mestinya harus kita jaga sebaik mungkin dan sudah seharusnya kita didik setinggi mungkin jangan samapai telantarkan.[20]

Kedua, di lingkungan sekolah, berusaha membangun dan mengembangkan rana kognitif, afeksi, dan psikomotorik anak dalam pembelajaran. Para guru berusaha membangun model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centre) dengan mengoptimal semua potensi siswa, memanusiakan, menyenangka dengan memperhatikan varian kecerdasan yang dimiliki siswa. Menurut Howard Gardner dalam bukunya Multiple Intelligences, dikutip Seto Mulyadi, menyatakan bahwa skala kecerdasan yang selama ini dipakai ternyata memiliki banyak keterbatasan sehingga kurang dapat meramalkan kinerja yang sukses untuk masa depan seseorang. Menurut Gardner, kecerdasan seseorang meliputi unsur-unsur: kecerdasan matematika-logika, kecerdasan bahasa, kecerdasan musikal, kecerdasan visual, kecerdasan kinestetik, kecerdasan inter-personal, kecerdasan intra-personal, dan kecerdasan naturalis.[21] Dengan mengetahui varian kecerdasan tersebut, para guru didorong untuk dapat memahami jenis kecerdasan murid-muridnya, sekaligus dapat mengajarkan meteri pelajaran dan mengembangkan serta memberdayakan murid-muridnya sesuai dengan jenis kecerdasan tersebut.

Respons sekolah terhadap fenomena kekerasan sendiri bermacam-macam. Beberapa sekolah yang sangat maju sudah menciptakan sistem yang cukup efektif untuk mengurangi insiden-insiden kekerasan dan memberi dukungan pada korban kekerasan. Tapi sampai kini ada sejumlah guru masih menganggap atau merasa bahwa hukuman fisik sebagai strategi dalam pembelajaran untuk menegakkan wibawa guru di mata murid. Maka, guru sengaja membuat atau mengkondisikan suasana agar murid takut pada guru. Maka setelah terkondisi rasa takut, si murid akan mau melaksanakan perintah gurunya. Menurut guru, yang penting si murid tidak berani berkutik di hadapan guru demi wibawa. Bahkan sangat ironis sekali, ada sebagian guru yang bangga jika ditakuti murid. Paradigma hukuman menjadi fenomena bagi sebagian guru yang kurang percaya diri dan kurang mampu untuk mengelola pembelajaran, sehingga menurut mereka "tanpa hukuman, murid tidak akan disiplin," murid tidak patuh, kata guru yang masih menggunakan cara kekerasan dalam memberi pelajaran kepada siswa.

Kekerasan dalam dunia pendidikan tampaknya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu;

(1) Menyiksa fisik yakni menyakiti siswa dengan cara menjewer, menendang, memukul, menempeleng, mencubit, sampai menjambak rambut. Konon strategi ini digunakan oleh guru zaman penjajahan sampai beberapa waktu kemudian. Kini, guru membawa kayu atau alat pemukul lainnya untuk menyakiti fisik siswa bukan zamannya lagi. Mestinya hukuman menyehatkan fisik si anak atau yang bersifat mendidik -- membuat siswa lebih pintar dengan hukuman, bukan malah membuat si anak harus berobat gara-gara hukuman. Keberhasilan masa lalu dengan kekerasan bukan terletak pada cara kekerasan itu, melainkan motivasi peserta didik memang tinggi dalam belajar.

(2) Membunuh karakter dengan meneror mental si anak. Misalnya, anak tidak mengerjakan perkejaan rumah langsung dihukum, anak tidak diberikan ikut pelajaran gara-gara terlambat, tanpa ditanyakan terlebih dahulu penyebab keterlambatan itu; anak tidak diberikan ikut pelajaran gara-gara belum bayar uang sekolah, padahal bayar uang sekolah bukan urusan anak, menjadi urusan orangtua, kalau belum bayar uang sekolah mestinya orangtualah yang dipanggil ke sekolah untuk memberikan keterangan soal keterlambatan pembayaran.[22]

Cara-cara yang dilakukan tersebut telah menutup komunikasi, menutup dialog, menutup diskusi dengan siswa yang berkait dengan kesalahan yang dilakukan. Anak harus menerima hukuman, padahal mereka ingin menyampaikan kejadian yang sesungguhnya. Dalam kondisi ini, bahkan bukan si anak saja yang menjadi sasaran maran dan dimaki, tapi kadang orangtua pun disebut-sebut dan diseret-seret dalam kasus siswa di sekolah. Apa begitu diajar sama orangtuamu? Saya tidak peduli walau orangtua-mu berpangkat tinggi sekalipun. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa guru itu sudah arogan, kehilangan kendali, dan kehilangan akal dalam mendidik. Kondisi ini menunjukkan sikap guru yang kehabisan akal, kurangan ide, kurang strategilah yang masih menggunakan kekerasan dalam mendidik dan menyelesaikan masalah siswanya. Pembelajaran dengan strategi kekerasan sudah waktunya untuk ditinggalkan, dihentikan, sebab refrensi (landasan teori) yang mendukungnya sulit ditemukan, dan bahkan tidak ada dalam kamus teori pendidikan dan teori mendidik. Sebuah gagasan maupun strategi pembalajaran akan dianggap baik jika ada teori yang mendukung, seperti halnya dalam karya tulis ilmiah.[23]

Proses pendidikan dan pengajaran di sekoalah harus mengembangkan konsep pendidikan ”humanis”, pemberdayakan potensi anak, dan dilakukan dalam pembelajaran, sebab pendidikan adalah ilmu normatif. Fungsi institusi pendidikan menumbuhkan etika dan moral subjek didik ke tingkat yang lebih baik dengan cara atau proses yang baik pula serta dalam konteks positif. Sebab dalam realitas di lingkungan pendidikan kita, masih ada beberapa bentuk kekerasan yang masih merajalela merupakan indikator bahwa kegiatan pendidikan kita masih jauh dari nilai-nilai kemanusiaan dan disinilah urgensinya humanisasi pendidikan. Konsep humanisasi pendidikan merupakan upaya untuk menyiapkan generasi bangsa yang cerdas nalar-pengetahuan, cerdas emosional, cerdas spiritual, bukan malah menciptakan individu-individu yang berwawasan sempit, tradisional, pasif, tidak mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi.

Perilaku kekerasan pada dasarnya adalah insting ”primitf manusia” untuk bertahan hidup dan menunjukan kekuatan dan kekuasaan serta sebagai saluran ekspresi dan emosi yang terpendam. Pertanyaannya, kenapa insting ”primitf manusia” dapat terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia, sehingga terjadi dekadensi ”kemanusiaan”. Tanpaknya Tim Evaluasi yang dibentuk oleh Presiden diharapkan dapat meng”humanisasi” kembali dunia pendidikan kita.[24] Tapi seiring dengan terbentuknya Tim tersebut, kekerasanpun masih sering terjadi di lingkungan pendidikan kita, menjadi kebiasaan, hal biasa, membudaya, dan berulang-ulang terjadi dunia ”pendidikan kedinasan” milik pemerintah yang sering ditayangkan di TV pada acara-acara kegiatan mahasiswa baru. Pada konteks ini, diperlukan kontrol dan pengawasan terhadap kegiatan siswa dan mahasiswa perlu dilakukan secara terus menerus. Tanpak konsep MOS, Pekan Ta’aruf, dan apapun namanya untuk kegiatan calon mahasiswa baru, perlu perubahan paradigma dengan mengembangkan konsep humanisme, demokratis, bertujuan untuk mengoptimalkan, mengembangkan potensi, membentuk karaktek dan kepribadin bangsa (nation and character building), membangun moral dan etika sosial-keagamaan, calon siswa dan calon mahasiswa. Ini berarti desain kegiatan tersebut perlu direformasi total dengan melakukan kegiatan yang bertujuan membentuk ”karakter” dan ”kepribadian” calon siswa dan mahasiswa untuk masuk ke dunia sekolah dan kampus.

Ketiga, di lingkungan masyarakat, di mana tempat anak belajar bersosialisasi, belajar bergaul, mengenal kebiasaan, mengenal aturan dan norma-norma yang berlaku di lingkungan masyarakat. Sudah barang tentu dalam proses belajar ini, anak cenderung meniru kebiasaan atau contoh-contoh yang diperoleh di lingkungan masyarakat. Mungkin saja bagi sebagian orang, menganggap kekerasan yang terjadi di masyarakat adalah hal yang wajar. Mereka beranggapan adalah bagian dari dinamika kehidupan dalam bermasyarakat, tapi mungkin saja, mereka lupa bahwa di lingkungan masyarakat adalah tempat anak bersosialisasi, bermasyarakat, bergaul, yang akan membentuk sikap dan tingkah laku seseorang.

Hal-hal yang sering terjadi di lingkungan masyarakat adalah bentuk tindakan yang dapat berupa kekerasan verbal, seperti ejekan, hinaan, fitnah, mengancam, dan membuat komentar-komentar berbau rasis, dan kekerasa secara mental atau psikologis, seperti mengucilkan, mempermalukan di depan umum, meneror lewat telepon genggam, membentak, dan sebagainya, serta tindakan fisik, memukul, menampar, menendang, meludahi, dan sebagainya. Memang pelaku biasanya sengaja menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikologis, untuk mendapatkan kepuasan karena merasa lebih berkuasa sehingga target biasanya orang yang lebih lemah dan tidak cukup memiliki dukungan sosial untuk melawan.[25] Hal lain adalah perilaku para pemimpin masyarakat dan tokoh panutan sendiri juga tidak memberi contoh yang baik.

Peran media, terutama TV dan Surat Kabar pun ikut menyebarkan kekerasan, berlomba-lomba ”mengeksplitir” berbagai berita bentuk kekerasan. Dalam siaran TV kita dapat menyaksikan para tokoh berdebat, saling mengancam, untuk mempertahan pandangan dan prinsipnya, seakan-akan menarik, tapi memalukan. Tayangan TV juga selalu menayangkan perkelahian antar pelajar, perkelahian antar mahasiswa, perkelahian antar desa, perkelahian antar sporter bola, pengrusakan rumah warga karena berbeda aliran, perkelahian antar anggota demostrasi yang menuntut pembubar suatu aliran tertentu. Berita-berita tersebut didesain sedemikian besar-besaran, ditayangkan secara berulang-ulang, dibeberapa stasiun siaran TV, seakan-akan tidak ada ruang untuk berita lain, sehingga menjadi semakin menarik pemirsa. Tanpaknya bentuk perilaku kekerasan menjadi tontonan, komoditas tersendiri yang dapat dijual di tengah masyarakat. Sunggung ironisnya bangsa ini, medianya kurang selektif terhadap hal-hal yang tidak perlu diekspolitir secara besar-besaran dan berlebih-lebihan. Contoh lain, kasus sex ”beberapa artis” ”dibloap” sedemikain gencar dan besar-besaran, sehingga berpengaruh terhadap anak-anak dibawah ”umum”, yang topik cerita mereka tentang siaran berita sex, bahkan memburu video tersebut. Sungguh ironisnya bangsa ini, siaran dan tayangan TV-nya kurang atau dapat ”dikatakan tidak” memiliki rasa perduli terhadap nilai-nilai pendidikan dalam siaran dan tayangan mereka atau siaran dan tayangan tidak memiliki kandungan ”educatif” yang dapat mendidik anak bangsa ini. Pertanyaannya, seberapa efektitas undang-undang penyiaran di nagara ini atau mungkin perlu melakukan reformasi total terhadap undang-undangan penyiaran di nagara ini. Sebab muncul ”rumor” disebagai kecil masyarakat bahwa yang diadili bukan ”artis” yang melakukan perbuatan tersebut, tetapi stasiun siaran TV dengan reporternya yang harus diadili, karena telah berlebih-lebihan memperbesar persoalan tersebut, dengan mendatangkan ”para ahli” berdiskusi dalam tayangannya, sebenarnya tidak dapat menyelesaikan persoalan tersebut, tetapi menambah ”buming” persoalan tersebut di pemirsa dengan tidak memandang faktor umum yang menyaksikan siaran dan nilai-nilai pendidikan dalam siaran dan tayangan tersebut.

Dari pemikiran di atas, hemat penulis masyarakat harus melakukan pengawasan atau kontrol publik terhadap kegiatan ektrakurikuler di sekolah dan kampus, agar perilaku primitifisme, bar-barianisme, brutalisme, dalam lingkungan masyarakat terdidik harus dapat dikekang atau dihilangkan sama sekali. Para pelajar (siswa dan mahasiswa) pada awal memasuki sekolah dan kamupus harus dikenalkan dengan konsep humanisme, demokrasi, konsep manusia berkarakter dan berbudaya, sebagai calon pemimpin bangsa negara ini. Tetapi bila pada awal masuk sekolah, masuk kampus, semasa belajarnya, sudah terbiasa dengan perilaku kekerasan, baik aktif, maupun pasif, dapat dipastikan cara-cara tersebut pulalah yang akan ditempuh untuk menyelesaikan segala perbedaan ketika mereka sudah di masyarakat atau di lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta. Diperlukan kontrol dan pengawasan secera terus menerus terhadap kegiatan ektrakurikuler siswa dan mahasiswa. Katakan saja, konsep MOS, Pekan Ta’aruf, apapun namanya untuk kegiatan calon mahasiswa baru, perlu dilaukan perubahan paradigma untuk mengembangkan konsep pengetahuan, sikap, skills, membangun konsep humanisme, demokratis, dengan tujuan membentuk “karaktek” dan “kepribadin” bangsa, membangun moral dan etika sosial-keagamaan calon siswa dan calon mahasiswa untuk masuk ke dunia sekolah dan kampus.

Penutup

Kata akhir dari tulisan ini, segera hentikan bentuk kekerasan apapun, baik dilingkungan sekolah, lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat. Ciptakan budaya yang santun dan sopan, berbudi halus, sikap toleran dan tepaseliro. Pendidikan kita harus mampu melahirkan manusia-manusia yang berbudaya, berbudi, bermoral, berakhlak. Oleh karena itu, pendidikan budi pekerti yang mendidik kehalusan, sopan santun, menghargai yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, menghormati hak-hak asasi, harus didesan dalam kurikulum l pendidikan yang lebih bersifat aaplikatif.

Kegiatan ”Masa Orientasi Siswa” (MOS) dan ”Pekan Ta’aruf Mahasiswa” perlu ditinjau kembali. Buatkanlah aturan yang ketat dan pengawasan dari kepala sekolah, rektor, dekan, ketua prodi, guru dan dosen untuk mengendalikan kegiatan-kegiatan tersebut. Bila tidak, kegiatan tersebut harus dihentikan, karena tidak ”memiliki dampak posetif” dalam perkembangan pengetahuan, kepribadian, sikap, dan keterampilan siswa ataupun mahasiswa ketika mengikuti pendidikan di sekolah dan di kampus.

Para guru harus menghentikan paradigma hukuman fisik sebagai strategi dalam pembelajaran untuk menegakkan wibawanya di mata murid. Hentikan paradigma kegaiatan MOS yang tidak sesuai dengan nilai-nilai pendidikan. Ciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, memanusiakan, dan memberdayakan potensi anak. Pendidikan budi pekerti dan melalui keteladanan seorang guru di sekolah ataupun pembinaan yang lebih intesif terhadap kegiatan-kegiatan siswa dalam wadah ekstrakurikuler kiranya dapat mencegah aksi-aksi kekerasan yang dilakukan kalangan pelajar. Pemerintah atau KPI harus dapat menunjukkan taringnya dalam menindak tegas stasiun-stasiun siaran televisi yang masih menayangkan acara yang mengandung kekerasan atau perilaku-perilaku amoral lainnya.

DAFTAR BACAAN

Anwari WMK, Sebuah Refleksi http://www.jubilee-school.net/jubilee/index. php?option=com_ content& task=view&id= 213&Itemid=38, access, selasa, 3/2/2009, jam. 05.00 wib.

Artikel: Pendidikan tanpa Kekerasan From:http://beutyreligi. wordpress. Com/2007/06/07/pendidikan-tanpa-kekerasan/, access, selasa, 3/2/2009, jam. 12.45 wib.

Assegaf, Abd. Rachman, dkk, Kondisi dan Pemicu Kekerasan dalam Pendidikan, Ringkasan Laporan Hasil Penelitian "Kondisi dan Pemicu Kekerasan dalam Pendidikan" http://www.ditpertais.net/istiqro/ist02-03.asp, access, selasa, 3/2/3009, jam. 11.45 wib

Guru Gunakan Kekerasan, Ketinggalan Zaman, From:http://www. indoforum. org/showthread. php?t=65709,access, selasa, 3/2/2009, jam. 12.30 wib.

Hasil Seminar Nasional, Reaktualisasi Pendidikan Tanpa Kekarasa, Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, 21 Februari 2009.

Komentar: Ancaman Kekerasan di Lembaga Pendidikan, Nopember 26, 2007, http://anggara.org/2007/11/26/ancaman-kekerasan-di-lembaga-pendidikan/, access, selasa, 3/2/2009, jam. 05.00 wib.

Kekerasan di Dunia Pendidikan, http://www.bloggaul.com/ foksraad/ readblog/ 74581/kekerasan-dalam-dunia-pendidikan, Diterbitkan Mei 14, 2007 access, selasa, 3/2/2009, jam. 11.30 wib.

Mulyadi, Seto, Suses dan Profesional Sebagai Guru, makalah disampaikan dalam seminar nasional tentang Reaktualisasi Pendidikan Tanpa Kekerasan, Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Agama Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Sabtu, 21 Februari 2009.

Pendidikan tanpa Kekerasan, From: http://beutyreligi.wordpress.com/2007/ 06/07/pendidikan-tanpa-kekerasan/, access, selasa, 3/2/2009, jam. 12.45 wib.

Samhadi, Sri Hartati, Budaya Kekerasan di Lembaga Pendidikan, From: http://www2.kompas. com/kompas-cetak/0704/14/Fokus/3456065.htm, access, selasa, 3/2/2009, jam.10.30 wib

Surat Kabar Kedaulatan Rakyat, Mengapa Kekerasan Ada di Mana-mana?, Opini, Tajuk Rencana Kedaulatan Rakyat, Kamis, 26 Februari 2009, hlm14.

Tilaar, H.A.R., Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999).

Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Catatan kaki:


[1] Dosen Tetap Fakultas Ilmu Agama Islam, Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.. Tulisan ini sudah di publikasikan di www.sanaky.com

[2] Hasil survey dan wawancara dengan siswa dan mahasiswa pada tahun 2009 di Yogyakarta.

[3] Abd. Rahman Assegaf, Pendidikan Tanpa Kekerasan Tipologi Kondisi, Kasus dan Konsep, hlm.1.

[4] Assegaf, menggatakan bahwa Tindak kekerasan tak pernah diinginkan oleh siapapun, apalagi di lembaga pendidikan yang sepatutnya menyelesaikan masalah secara edukatif. Namun tak bisa ditampik, di lembaga ini ternyata masih sering terjadi tindak kekerasan. Akhir 1997, di salah satu SDN Pati, seorang ibu guru kelas IV menghukum murid-murid yang tidak mengerjakan PR dengan menusukkan paku yang dipanaskan ke tangan siswa. Di Surabaya, seorang guru oleh raga menghukum lari seorang siswa yang terlambat datang beberapa kali putaran. Tapi karena fisiknya lemah, pelajar tersebut tewas. Dalam periode yang yang tidak berselang lama, seorang guru SD Lubuk Gaung, Bengkalis, Riau, menghukum muridnya dengan lari keliling lapangan dalam kondisi telanjang bulat. Bulan Maret 2002 yang lalu, terjadi pula seorang pembina pramuka bertindak asusila terhadap siswinya saat acara camping. (Kasus asusila pembina pramuka terhadap siswanya ditayangkan dalam acara ”Derap Hukum” SCTV pada pertengahan Maret 2002, sedangkan kasus keterlibatan para pelajar dan mahasiswa dalam narkoba, pencurian, bahkan pembunuhan, tidak sepi dari pemberitaan media secatk maupun layar kaca, terutama pada acara ”Patroli” Indosiar pukul 11.00-12.00 tiap hari). Kasus lain di Yogyakarta, pada tanggal 22 April 2002, ketika diadakan peringatan hari Kartini di salah satu SMU, seorang siswa, karena tidak berbusana ”Kartinian”, ditelanjangi di hadapan rekan –rekannya hingga siswi tersebut tinggal mengenakan celana dalamnya (Kasus ini dimuat dalam Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat dan Jawa Pos selama dua hari berturut-turut, pada 24 dan 25 April 2002, dan masuk dalam komentar editorial). Kasus lain pula, pada April 2002, di Padang, seorang pelajar kelas I salah satu SMK menikam hingga tewas teman sekolah yang tinggal satu kost dengannya. Aksi perbuatan ini dilakukan hanya karena korban tidak mau memasakan nasi untuknya (Kasus ini ditayangkan dalam acara ”Derap Hukum” SCTV pada Sabtu 27 April 2002 pukul 21.30 WIB). Abd. Rahman Assegaf, Pendidikan Tanpa Kekerasan Tipologi Kondisi, Kasus dan Konsep, hlm. 2-3.

[5] Periksa lebih lanjut: Komentar, Ancaman Kekerasan di Lembaga Pendidikan, Nopember 26, 2007, From: http://anggara.org/ 2007/11/26/ancaman-kekerasan-di-lembaga-pendidikan/, accessed, Selasa, 3/2/2009, jam. 05.00 wib.

[7] Ibid, http://www.bloggaul.com/foksraad/readblog/74581/kekerasan-dalam-dunia-pendidikan, Diterbitkan Mei 14, 2007, accessed, selasa, 3/2/2009, jam. 11.30 wib.

[8] Azyumardi Azra, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, Rekonstruksi dan Demokratisasi, hlm. xiii, xiv dan xv.

[9] Anwari WMK, Sebuah Refleksi,From:http://www.jubilee-school.net/jubilee/index.php?option=com_ content& task=view&id= 213&Itemid=38, access, selasa, 3/2/2009, jam. 05.00 wib.

[10] Baca: Surat Kabar Kedaulatan Rakyat, Mengapa Kekerasan Ada di Mana-mana?, Opini, Tajuk Rencana Kedaulatan Rakyat, Kamis, 26 Februari 2009, hlm14.

[12] Drs. Abd. Rachman Assegaf, M. Ag., dkk, Kondisi dan Pemicu Kekerasan dalam Pendidikan, Ringkasan Laporan Hasil Penelitian "Kondisi dan Pemicu Kekerasan dalam Pendidikan" http://www.ditpertais.net/istiqro/ist02-03.asp, access, selasa, 3/2/3009, jam. 11.45 wib

[13] H.A.R. Tilaar, Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), hlm.4.

[14] Abd. Rachman Assegaf, dkk, Kondisi dan Pemicu Kekerasan dalam Pendidikan, Ringkasan Laporan Hasil Penelitian "Kondisi dan Pemicu Kekerasan dalam Pendidikan" http://www.ditpertais.net/istiqro/ist02-03.asp, access, selasa, 3/2/3009, jam. 11.45 wib

[15] H.A.R. Tilaar, Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), hlm.9.

[16] Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.

[17] Baca: Komentar, Ancaman Kekerasan di Lembaga Pendidikan, Nopember 26, 2007, http://anggara.org/ 2007/11/ 26/ancaman-kekerasan-di-lembaga-pendidikan/, access, selasa, 3/2/2009, jam. 05.00 wib.

[18] Hasil Seminar Nasional, Reaktualisasi Pendidikan Tanpa Kekarasa, Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, 21 Februari 2009.

[19] Artikel: Pendidikan tanpa Kekerasan From:http://beutyreligi. wordpress. Com/2007/06/07/pendidikan-tanpa-kekerasan/, access, selasa, 3/2/2009, jam. 12.45 wib.

[20] Artikel: Pendidikan tanpa Kekerasan From:http://beutyreligi. wordpress. Com/2007/06/07/pendidikan-tanpa-kekerasan/, access, selasa, 3/2/2009, jam. 12.45 wib.

[21] Seto Mulyadi, Suses dan Profesional Sebagai Guru, makalah disampaikan dalam seminar nasional tentang Reaktualisasi Pendidikan Tanpa Kekerasan, Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Agama Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Sabtu, 21 Februari 2009, hlm.4-5.

[22] Guru Gunakan Kekerasan, Ketinggalan Zaman, From:http://www.indoforum.org/showthread. php?t=65709,access, selasa, 3/2/2009, jam. 12.30 wib.

[23] Guru Gunakan Kekerasan, Ketinggalan Zaman, From:http://www.indoforum.org/showthread. php?t=65709,access, selasa, 3/2/2009, jam. 12.30 wib.

[25] Baca: Sri Hartati Samhadi, Budaya Kekerasan di Lembaga Pendidikan, From: http://www2.kompas. com/kompas-cetak/0704/14/Fokus/3456065.htm, access, selasa, 3/2/2009, jam.10.30 wib

DAFTAR BACAAN

Anwari WMK, Sebuah Refleksi http://www.jubilee-school.net/jubilee/index. php?option=com_ content& task=view&id= 213&Itemid=38, access, selasa, 3/2/2009, jam. 05.00 wib.

Artikel: Pendidikan tanpa Kekerasan From:http://beutyreligi. wordpress. Com/2007/06/07/pendidikan-tanpa-kekerasan/, access, selasa, 3/2/2009, jam. 12.45 wib.

Assegaf, Abd. Rachman, dkk, Kondisi dan Pemicu Kekerasan dalam Pendidikan, Ringkasan Laporan Hasil Penelitian "Kondisi dan Pemicu Kekerasan dalam Pendidikan" http://www.ditpertais.net/istiqro/ist02-03.asp, access, selasa, 3/2/3009, jam. 11.45 wib

Guru Gunakan Kekerasan, Ketinggalan Zaman, From:http://www. indoforum. org/showthread. php?t=65709,access, selasa, 3/2/2009, jam. 12.30 wib.

Hasil Seminar Nasional, Reaktualisasi Pendidikan Tanpa Kekarasa, Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, 21 Februari 2009.

Komentar: Ancaman Kekerasan di Lembaga Pendidikan, Nopember 26, 2007, http://anggara.org/2007/11/26/ancaman-kekerasan-di-lembaga-pendidikan/, access, selasa, 3/2/2009, jam. 05.00 wib.

Kekerasan di Dunia Pendidikan, http://www.bloggaul.com/ foksraad/ readblog/ 74581/kekerasan-dalam-dunia-pendidikan, Diterbitkan Mei 14, 2007 access, selasa, 3/2/2009, jam. 11.30 wib.

Mulyadi, Seto, Suses dan Profesional Sebagai Guru, makalah disampaikan dalam seminar nasional tentang Reaktualisasi Pendidikan Tanpa Kekerasan, Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Agama Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Sabtu, 21 Februari 2009.

Pendidikan tanpa Kekerasan, From: http://beutyreligi.wordpress.com/2007/ 06/07/pendidikan-tanpa-kekerasan/, access, selasa, 3/2/2009, jam. 12.45 wib.

Samhadi, Sri Hartati, Budaya Kekerasan di Lembaga Pendidikan, From: http://www2.kompas. com/kompas-cetak/0704/14/Fokus/3456065.htm, access, selasa, 3/2/2009, jam.10.30 wib

Surat Kabar Kedaulatan Rakyat, Mengapa Kekerasan Ada di Mana-mana?, Opini, Tajuk Rencana Kedaulatan Rakyat, Kamis, 26 Februari 2009, hlm14.

Tilaar, H.A.R., Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999).

Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.


[1] Dosen Tetap Fakultas Ilmu Agama Islam, Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.. Tulisan ini sudah di publikasikan di www.sanaky.com dan Blog sanaky.

[2] Hasil survey dan wawancara dengan siswa dan mahasiswa pada tahun 2009 di Yogyakarta.

[3] Abd. Rahman Assegaf, Pendidikan Tanpa Kekerasan Tipologi Kondisi, Kasus dan Konsep, hlm.1.

[4] Assegaf, menggatakan bahwa Tindak kekerasan tak pernah diinginkan oleh siapapun, apalagi di lembaga pendidikan yang sepatutnya menyelesaikan masalah secara edukatif. Namun tak bisa ditampik, di lembaga ini ternyata masih sering terjadi tindak kekerasan. Akhir 1997, di salah satu SDN Pati, seorang ibu guru kelas IV menghukum murid-murid yang tidak mengerjakan PR dengan menusukkan paku yang dipanaskan ke tangan siswa. Di Surabaya, seorang guru oleh raga menghukum lari seorang siswa yang terlambat datang beberapa kali putaran. Tapi karena fisiknya lemah, pelajar tersebut tewas. Dalam periode yang yang tidak berselang lama, seorang guru SD Lubuk Gaung, Bengkalis, Riau, menghukum muridnya dengan lari keliling lapangan dalam kondisi telanjang bulat. Bulan Maret 2002 yang lalu, terjadi pula seorang pembina pramuka bertindak asusila terhadap siswinya saat acara camping. (Kasus asusila pembina pramuka terhadap siswanya ditayangkan dalam acara ”Derap Hukum” SCTV pada pertengahan Maret 2002, sedangkan kasus keterlibatan para pelajar dan mahasiswa dalam narkoba, pencurian, bahkan pembunuhan, tidak sepi dari pemberitaan media secatk maupun layar kaca, terutama pada acara ”Patroli” Indosiar pukul 11.00-12.00 tiap hari). Kasus lain di Yogyakarta, pada tanggal 22 April 2002, ketika diadakan peringatan hari Kartini di salah satu SMU, seorang siswa, karena tidak berbusana ”Kartinian”, ditelanjangi di hadapan rekan –rekannya hingga siswi tersebut tinggal mengenakan celana dalamnya (Kasus ini dimuat dalam Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat dan Jawa Pos selama dua hari berturut-turut, pada 24 dan 25 April 2002, dan masuk dalam komentar editorial). Kasus lain pula, pada April 2002, di Padang, seorang pelajar kelas I salah satu SMK menikam hingga tewas teman sekolah yang tinggal satu kost dengannya. Aksi perbuatan ini dilakukan hanya karena korban tidak mau memasakan nasi untuknya (Kasus ini ditayangkan dalam acara ”Derap Hukum” SCTV pada Sabtu 27 April 2002 pukul 21.30 WIB). Abd. Rahman Assegaf, Pendidikan Tanpa Kekerasan Tipologi Kondisi, Kasus dan Konsep, hlm. 2-3.

[5] Periksa lebih lanjut: Komentar, Ancaman Kekerasan di Lembaga Pendidikan, Nopember 26, 2007, From: http://anggara.org/ 2007/11/26/ancaman-kekerasan-di-lembaga-pendidikan/, accessed, Selasa, 3/2/2009, jam. 05.00 wib.

[7] Ibid, http://www.bloggaul.com/foksraad/readblog/74581/kekerasan-dalam-dunia-pendidikan, Diterbitkan Mei 14, 2007, accessed, selasa, 3/2/2009, jam. 11.30 wib.

[8] Azyumardi Azra, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, Rekonstruksi dan Demokratisasi, hlm. xiii, xiv dan xv.

[9] Anwari WMK, Sebuah Refleksi,From:http://www.jubilee-school.net/jubilee/index.php?option=com_ content& task=view&id= 213&Itemid=38, access, selasa, 3/2/2009, jam. 05.00 wib.

[10] Baca: Surat Kabar Kedaulatan Rakyat, Mengapa Kekerasan Ada di Mana-mana?, Opini, Tajuk Rencana Kedaulatan Rakyat, Kamis, 26 Februari 2009, hlm14.

[12] Drs. Abd. Rachman Assegaf, M. Ag., dkk, Kondisi dan Pemicu Kekerasan dalam Pendidikan, Ringkasan Laporan Hasil Penelitian "Kondisi dan Pemicu Kekerasan dalam Pendidikan" http://www.ditpertais.net/istiqro/ist02-03.asp, access, selasa, 3/2/3009, jam. 11.45 wib

[13] H.A.R. Tilaar, Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), hlm.4.

[14] Abd. Rachman Assegaf, dkk, Kondisi dan Pemicu Kekerasan dalam Pendidikan, Ringkasan Laporan Hasil Penelitian "Kondisi dan Pemicu Kekerasan dalam Pendidikan" http://www.ditpertais.net/istiqro/ist02-03.asp, access, selasa, 3/2/3009, jam. 11.45 wib

[15] H.A.R. Tilaar, Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), hlm.9.

[16] Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.

[17] Baca: Komentar, Ancaman Kekerasan di Lembaga Pendidikan, Nopember 26, 2007, http://anggara.org/ 2007/11/ 26/ancaman-kekerasan-di-lembaga-pendidikan/, access, selasa, 3/2/2009, jam. 05.00 wib.

[18] Hasil Seminar Nasional, Reaktualisasi Pendidikan Tanpa Kekarasa, Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, 21 Februari 2009.

[19] Artikel: Pendidikan tanpa Kekerasan From:http://beutyreligi. wordpress. Com/2007/06/07/pendidikan-tanpa-kekerasan/, access, selasa, 3/2/2009, jam. 12.45 wib.

[20] Artikel: Pendidikan tanpa Kekerasan From:http://beutyreligi. wordpress. Com/2007/06/07/pendidikan-tanpa-kekerasan/, access, selasa, 3/2/2009, jam. 12.45 wib.

[21] Seto Mulyadi, Suses dan Profesional Sebagai Guru, makalah disampaikan dalam seminar nasional tentang Reaktualisasi Pendidikan Tanpa Kekerasan, Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Agama Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Sabtu, 21 Februari 2009, hlm.4-5.

[22] Guru Gunakan Kekerasan, Ketinggalan Zaman, From:http://www.indoforum.org/showthread. php?t=65709,access, selasa, 3/2/2009, jam. 12.30 wib.

[23] Guru Gunakan Kekerasan, Ketinggalan Zaman, From:http://www.indoforum.org/showthread. php?t=65709,access, selasa, 3/2/2009, jam. 12.30 wib.

[25] Baca: Sri Hartati Samhadi, Budaya Kekerasan di Lembaga Pendidikan, From: http://www2.kompas. com/kompas-cetak/0704/14/Fokus/3456065.htm, access, selasa, 3/2/2009, jam.10.30 wib

Tags: artikel

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment