hujair.sanaky@staff.uii.ac.id

RIBKHAN NASRULLOH; MOMOK, STANDAR KELULUSAN PENDIDIKAN DI INDONESIA

July 16th, 2012 · No Comments

MOMOK, STANDAR KELULUSAN

PENDIDIKAN DI INDONESIA

Disusun Oleh:

RIBKHAN NASRULLOH Sos I

makalah ini disusun untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah

Pengantar Sistem Pendidikan Islam

Dosen Pengampu:

Hujair AH. Sanaky,

A. Pendahuluan

Membicarakan persoalan dunia pendidikan tak pernah usai. Kenapa ? karena, pendidikan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Dan kehidupan sendiri merupakan pendidikan (live is education). Beragam perpektif senantiasa menyertai tatkala kita memperbincangkan tentang dunia pendidikan.

Pasalnya dengan melalui pendidikan-lah seseorang akan mengalami proses konversi baik pengetahuan maupun status social. Seseorang yang tadinya sebagai rakyat biasa, tatkala seorang mengeyam pendidikan dan sudah menyandang gelar di belakang namanya, secara otomatis status social mereka bukan lagi orang biasa, tetapi sudah menjadi kaum berpendidikan atau priyayi.[1]

Kegandurangan terhadap intitusi pendidikan ini juga sangat terasa dimulainya tahun ajaran baru. Beribu-ribu orang tua bersama calon siswa atau mahasiswa, berduyun-duyun mendatangi intitusi pendidikan untuk menjadi warga sekolah dan warga kampus, terkadang orang tua rela melakukan apa saja agar putra-putri mereka bias diterima di intitusi tertentu.

Pendidikan merupakan sarana untuk mencari khasanah keilmuan yang ada pada diri siswa. baik ilmu pengetahuan, sosial, teknologi dll. Pendidikan di Indonesia dari tahun-ketahun mengalami perubahan baik dari segi kurikulum, sarana dan prasanan pendidikan, dan alokasi anggaran untuk pengembangan pendidikan.

Dunia pendidikan kita disibukkan dengan UN (ujian nasional) baik ditingkat sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah atas (SMA). Di satu sisi pemerintah telah menentukan ”standar kelulusan” seorang pesertadidik ( siswa) dengan dalih meningkatkan mutu pendidikan, di sisi lain pesertadidik belum siap menghadapi standar kelulusan yang di tetapkan pemerintah sehingga memaksa semua pihak menghalalkan segala macam cara demi mencapai standar kelulusan tersebut.

Berbagai macam masalah baik dari interen siswa maupun dari interen pendidik (guru) masih terjadi. Salah satu contoh fenomenal yang saat ini terjadi yaitu terjadinya ”contek massal” yang di lakukan oleh siswa pada saat ujian dan tidak itu juga ”banyak pendidik” (guru) kita yang kurang disiplin dalam memberikan contoh keteladanan kepada siswa (peserta didik) begitu santer disiarkan oleh media baik cetak maupun elektronik [2]

Tidak itu juga masalah gejolak sosial baik ditingkat sekolah menengah pertama (SMA) sampai pada tingkat perguruan tinggi menambah permasalahan dalam pendidikan kita. Maka dari itulah penulis merasa tertarik untuk mendiskusikan makalah yang berkaitan dengan “Momok, Standar Kelulusan Pendidikan Di Indonesia”

B. Permasalahan

Pendidikan merupakan proses sekaligus sistem yang bermuara, berujung pada pencapaian kualitas hidup manusia yang dianggap ideal.[3] Dalam sejarah kehidupan manusia, hampir tidak ada sekolompok manusia yang tidak menggunakan pendidikan sebagai alat untuk mengembangkan kualitasnya. Pendidikan sebagai usaha sadar yang di butuhkan untuk generasi muda yang profesional demi menunjang perannya di masa depan.

Selain itu pendidikan diyakini mampu mengubah pranata sosial, politik, budaya bahkan peradaban sebuah bangsa, ditentukan sejauh mana pendidikan telah berfungsi. Sebagaimana yang telah di lakukan oleh Negara-negara maju Asia seperti Jepang, Malaysia dan Singapura.

Secara umum pendidikan di Indonesia ( pendidikan nasional ) masih memiliki banyak persoalan, pendidikan kita tidak berorientasi atau bertitik tolak pada pemberdayaan masyarakat, sehingga tujuan pendidikan untuk mengentarkan pada kecerdasan bangsa telah sirna diganti dengan praktik-praktik “memberatkan” rakyat untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas.[4]

Carut marutnya sistem pendidikan di Indonesia terlihat kurang konsistenya pemerintah dalam menangani permasalah yang ada dalam dunia pendidikan. Salah satu contoh dengan adanya standar kelulusan yang di bebankan kepada siswa sihingga menimbulkan praktek-praktek kecurangan yang dilakukan siswa dan institusi pendidikan.

Belum lagi masalah kecurangan-kecurangan yang di lakukan siswa dan istitusi pendidikan selesai dunia pendidikan kita dikejutkan adanya gejalak sosial yang menimbulkan  sentimen antar kelompok siswa baik di tingkat Sekolah Menengah Atas ( SMA )  sampai ketingkat Perguruan Tinggi.

Secara sosiologis, kekerasan dan ketidak jujuran sudah menggurita dalam kehidupan masyarakat kita. Penyelesain konflik selalu disertai dengan tindakan kekerasan. Tindakan kekerasan dan ketidak jujuran bukan hannya dilakukan indivindu-indivindu sebagai anggota masyarakat tetapi juga oleh aparat Negara.

Perguruan Tinggi sebagai salah satu institusi yang menciptakan mahasiswa sebagai professional intlektual mulai luntur dari khasanah kehidupan mahasiswa, mereka lebih mengedepankan tindakan arogan dalam menyelesaikan masalah internal. Belum lagi dengan adanya stadarisasi kelulusan bagi siswa SMA yang bertujuan untuk meningkatkan mutu kelulusan menjadi momok bagi siswa itu sendiri.

Esensi dasar pendidikan adalah wahana membentuk jati diri dan prilaku dalam koridor kecerdasan (kognitif), sikap (efektif) dan ketrampilan ( psikomotorik ). Lingkungan, kurikulum, metode, dan kultur budaya merupakan unsur-unsur yang bertalian erat dengan out-come pendidikan itu sendiri.

Menurut Slamet Imam Santoso menyatakan bahwa tujuan pendidikan menghasilkan manusia yang baik. Manusia yang baik dimana pun ia berada akan memperbaiki lingkungan.[5]

C. Pembahasan

Berdasarkan GBHN, dasar pendidikan nasional adalah Falsafah Negara Pancasila dan Undang-Undang dasar 45. Pasal 3 dalam Tap MPR Nomer IV/MPR/ 1973 di jelaskan:

tujuan pendidikan nasional adalah membentuk manusia pembengunan ber-pancasila dan membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohaniny, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, dapat mengembangkan kreativitas dan tanggung jawa, dapat menyuburkan sikap demokratis dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang ringgi disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya, dan sesame manusia sesuai dengan yang termaktub dakam Undang-Undang Dasar 45”

Dalam Undang-Undang No 20 tentang system pendidikan Nasional pasal 3 dijelaskan bahwa : :

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membenytuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk perkembangan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis secara bertangung jawab”[6]

Ki Hajar Dewantara lewat gerakan tamansiswanya mengatakan “Ing Ngarso Sun Thulodho, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wur Handayani”.[7]

Dari sekapur sirih yang dilotarkan oleh Ki Hajar Dewantara merupakan sebuah kritikan terhadap pendidikan kita yang belum sesuai dangan apa yang diharapkan oleh tokoh pendiri tamansiswa. Bahwasanya guru adalah sebagai teladan bagi siswa yang di harapan untuk mengubah pola pikir siswa yang beradab dan mempunyai professional intelektual.

Winarno Surakhman mengatakan kualitas pendidikan Indonesia sejak proklamasi mengalami penurunan dan telah mencapai titik nadirnya dewasa ini. Menurut beliau hal ini disebabkan karena tidak adanya komitmen pemerintah terhadap amanat UUD 45 yaitu mewujudkan suatu sistem pendidikan mencerdaskan rakyat.[8] Kurangnya perhatian pemerintah dan komitmen pemerintah terhadap pentingnya pendidikan nasional menimbulkan kesenjangan terhadap dunia pendidikan kita.

Kurangnya komitmen pemerintah pusat dan daerah untuk menjadikan pendidikan sebagai titik tolak reformasi masyarakat dan bangsa Indonesia menuju masyarakat yang cerdas dan demokrastis, telah tampak ketidak arahan pengembangan pendidikan nasional.

Dengan standarisasi kelulusan bukan suatu jaminan bahwa pesertadidik (siswa) mengalami peningkatan prestasi dalam mencapai nilai akadimiknya. Fenomena yang terjadi saat ini dengan adanya standar kelulusan siswa merasa terbebani dan hilangnya rasa kebebasan mereka dalam mengexplore potensi-potensi yang ada pada diri mereka.

Adanya standarisasi kelulusan yang tidak di imbangi dengan mutu pendidikan baik dari segi prasana di tingkat daerah, kurikulum, professional pendidik, dan sasaran kelulusan pesertadidik (siswa) akan menghambat laju perkembangan pendidikan di indonesia. Pemerintah seolah memaksakan kehendak untuk mencapai sebuah tranformasi dalam dunia pendidikan untuk mencapai tujuannya yaitu meningkatkan mutu prestasi pesertadidik

D. Kesimpulan

Setiap tanggal 2 Mei kita selalu memperingati hari pendidikan Nasional sebagai salah satu wujud apresiasi masyarakat dalam menilai perkembangan dunia pendidikan. Momentum 2 Mei jadikan salah satu evaluasi baik di tingkat pusat yaitu kementrian pendidikan maupun ditingkat daerah

Konsep standarisasi kelulusan yang di dengungkan oleh pemerintah sebagai salah satu tranformasi menuju pendidikan yang profesional menjadi  beban mental bagi siswa itu sendiri dari, baik di tingkat pusat maupun daerah yang mengakibatkan munculnya kecurang-kecurangan yang dilakukan pesertadidik ( siswa ) dan institusi pendidikan. Seharusnya pola pendidikan kita membentuk komitmen kejujuran dalam berfikir dan bertindak, memberikan life skill, menanamkan nilai-nilai humanisme pada siswa.

Referensi

Agus, Wibowo, 2008, Malpraktek Pendidikan, Yogyakarta : Genta Press,

Tirtaraharja, Umar, 2005, PengantarPendidikan, Jakarta : PT Rineka Cipta,Editor, Shindunata, 2000, Menggagas Paradigma Baru Pendidikan, Yogyakarta :Kanesius,

Sanaky, Hujair AH, 2003, Paradigma Pendidikan Islam  Membangun Masyarakat Madani Indonesia, Yogyakarta : Safiria Insania Press,

Breaking New, MetroTv, 2011

Hamalik Oemar, 2007, Dasar-dasar Perkembangan Kurikulum, PT Remaja

Catatan kaki


[1] Agus Wibowo,  Malpratek Pendidikan  (Genta Press, 2008) hlm,  v

[2] MetroTv, Breking New, Juni .2011

[3] Agus Wibowo, Malpraktek pendidikan Genta Press, 2008, hlm 32

[4] Hujair AH, Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam Membangun Masyarakat Madani Indonesia, hlm. 9

[5] Prof. Dr. Umar Tirtaraharja dan Drs S.L La Sulo Pengantar Pendidikan Edidi Revisi. PT Rineka Cipta Jakarta. 2005, hlm.305

[6] Hamalik Oemar, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum,PT Remaja Rosdakarya 2007, hlm 131-132

[7] Agus Wibowo, Malpraktek Pendidikan, PT Genta Press, 2008, hlm 128

[8] Tilaar H.A.R, Standarisasi Pendidikan Nasional, Suatu Tinjauan Kritis, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2006, hlm, 2

Tags: Uncategorized

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment