hujair.sanaky@staff.uii.ac.id

Satria Umami; ALIRAN ALIRAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

July 16th, 2012 · No Comments

MAKALAH

ALIRAN ALIRAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN

ISLAM DI INDONESIA

Oleh:

Satria Umami

NIM: 10913170

Disusun untuk memenuhi tugas

Materi Kuliah Pengantar Pendidikan Islam

Dosen Pengampu:

Hujair AH. Sanaky

I. PENDAHULUAN

Dalam pandangan islam, pendidikan sangat mempengaruhi dalam memberi corak hitam putihnya perjalanan hidup seseorang oleh karena itu ajaran islam menetapkan bahwa pendidikan merupakan kewajiban bagi pria dan wanita dan berlangsung seumur hidup,semenjak dari buaian hingga ajal dating kedudukan tersebut secara tidak langsung telah menempatkan pendidikan sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan hidup dan kehidupan manusia.

Dalam hal ini Dewey berpendapat bahwa, pendidikan sebagai salah satu kebutuhan hidup (a necessity of life), salah satu fungsi sosial (a sosial function), sebagai bimbingan (a divertion), sebagai sarana pertumbuhan (a means of grouth), yang mempersiapkan dan membukakan serta membentuk disiplin hidup. Dengan demikian pendidikan menyandang misi keseluruhan aspek kebutuhan hidup dan sejalan dengan dinamika serta perubahan-perubahan yang terjadi, sebagai akibat logisnya, maka pendidikan senantiasa mengandung pemikiran dan kajian baik secara konseptual dan operasionalnya, sehingga diperoleh relevansi dan kemempuan menjawab tantangan serta memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh umat manusia. Dengan menganalisa berbagai filsafat, seperti filsafat Yunani, Barat, dan lainnya maka muncullah berbagai macam disiplin ilmu dengan menggunakan analisa filsafat, sehingga berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan yang berkembang sekarang ini menemukan kembali relevansinya dan berkemampuan untuk menjawab tantangan serta memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh umat manusia, begitu juga halnya dalam lapangan pendidikan, demi menjaga relevansinya dalam kehidupan masyarakat dan lebih mampu lagi meningkatkan fungsinya bagi kesejahteraan hidup masyarakat, maka lahirlah filsafat pendidikan yang merupakan cabang filsafat sebagai pembantu dalam memecahkan masalah-masalah, khususnya dalam lapangan pendidikan.

Dari dulu sampai sekarang ini pendidikan merupakan hal yang paling penting untuk membawa mereka kepada kehidupan yang lebih baik, dan masalah sukses tidaknya pendidikan tidak lepas dari factor pembawaan dan lingkungan. Pembawaan dan lingkungan merupakan hal yang tidak mudah untuk di jelaskan sehingga memerlukan penjelasan dan uraian yang tidak sedikit telah bertahun-tahun lamanya para ahli didik, ahli biologi, ahli psikologi,dan lain-lain memikirkan dan berusaha mencari jawaban, tentang perkembangan manusia itu sebenarnya bergantung kepada pembawaan ataukah lingkungan.

Dalam hal ini penulis akan memaparkan beberapa pendapat dari aliran-aliran klasik, di antaranya aliran nativisme, naturalisme, empirisme dan konvergensi, serta pengaruhnya terhadap pemikiran dan praktek pendidikan di Indonesia, serta pandangan islam terhadap pendidikan.

II. Macam-Macam Aliran Pendidikan Di Indonesia

a) Aliran Nativisme

Istilah Nativisme dari asal kata Natives yang artinya terlahir. Nativisme adalah sebuah doktrin filosofis yang berpangaruh besar terhadap pemikiran psikologis. Tokoh utama aliran ini adalah Arthur Schopenhauer (1788-1869), seoran filosofis Jerman. Airan ini identik dengan pesimistis yang memandang segala sesuatu dengan kaca mata hitam. Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia itu telah di tentukan oleh faktor-faktor yang di bawa manusia sejak lahir, pembawaan yang telah terdapat pada waktu lahir itulah yang menentukan hasil perkembangannya.

Menurut aliran nativisme, pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. Dalam ilmu pendidikan pandangan seperti ini di sebut pesimistis pedagogis. Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak itu sendiri. Bagi nativisme lingkungan lingkungan sekitar tidak mempengaruhi perkembangan anak, penganut aliran ini menyatakan bahwa kalau anak mempunyai pembawaan jahat maka dia akan menjadi jahat, sebaliknya kalau anak mempunyai pembawaan baik maka dia akan baik.

Pembawaan baik dan buruk ini tidak dapat di ubah dari luar. Jadi menurut pemaparan di atas telah jelas bahwa pendidikan menurut aliran nativisme tidak bisa mengubah perkembangan seorang anak atau tidak mempunyai pengaruh sama sekali. Karena menurut mereka baik buruknya seoang anak di tentukan oleh pembawaan sejak lahir, dan peran pendidikan di sini hanya sebatas mengembangkan bakat saja. Misalnya: seorang pemuda sekolah menengah mempunyai bakat musik, walaupun orang tuanya sering menasehati bahkan memarahinya supaya mau belajar, tapi fikiran dan perasaanya tetap tertuju pada musik dan dia akan tetap berbakat menjadi pemusik.

b) Aliran Naturalisme

Nature artinya alam atau yang di bawa sejak lahir aliran ini di pelopori oleh seorang filusuf Prancis JJ. Rousseau (1712-1778). Berbeda dengan nativisme naturalisme berpendapat bahwa semua anak yang baru dilahirkan mempunyai pembawaan baik, dan tidak satupun dengan pembawaan buruk, bagaimana hasil perkembangannya kemudian sangant di tentukan oleh pendidikan yang diterimanya atau yang mempengaruhinya. Jika pengaruh itu baik maka akan baiklah ia akan tetapi jika pengaruh itu jelek, akan jelek pula hasilnya.

Dikatakan oleh tokoh aliran ini yaitu J.J. Rousseau sebagai berikut:”semua anak adalah baik pada waktu baru datang dari sang pencipta, tetapi semua rusak di tangan manusia”. Oleh karena itu sebagai pendidik Rousseau mengajukan “pendidikan alam” artinya anak hendaklah di biarkan tumbuh dan berkembang sendiri menurut alamnya, manusia atau masyarakat jangan banyak mencampurinya. Rousseau juga berpendapat bahwa pendidikan yang diberikan orang dewasa malahan dapat merusak pembawaan anak yang baik itu, aliran ini juga di sebut negativisme.

Jadi dengan kata lain pendidikan tidak diperlukan yang di laksanakan adalah menyerahkan anak didik kealam, agar pembawaan yang baik itu tidak menjadi rusak oleh tangan manusia melalui proses dan kegiatan pendidikan itu. Rousseau ingin menjauhkan anak dari segala keburukan masyarakat yang serba di buat-buat sehingga kebaikan anak-anak yang di peroleh secara alamiyah sejak saat kelahirannya itu dapat berkembang secara sepontan dan bebas. Ia mengusulkan perlunya permainan bebas kepada anak didik untuk mengembangkan pembawaannya, kemampuannya dan kecenderungannya. Jadi menurut aliran ini pendidikan harus di jauhkan dari anak-anak, seperti di ketahui, gagasan naturalisme yang menolak campur tangan pendidikan, sampai saat ini malahan terbukti sebaliknya pendidikan makin lama makin diperlukan.

c) Aliran Empirisme

Kebalikan dari aliran empirisme dan naturalisme adalah empirisme dengan tokoh utama Jhon Locke (1632-1704). Nama asli aliran ini adalah The School of British Empirism (aliran empirisme inggris). Doktrin aliran empirisme yang sangat mashur adalah tabula rasa, sebuah istilah bahasa Latin yang berarti buku tulis yang kosong atau lembaran kosong. Doktrin tabula rasa menekankan arti penting pengalaman, lingkungan dan pendidikan dalam arti perkembangan manusia semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir di anggap tidak ada pengaruhnya.

Dalam hal ini para penganut empirisme menganggap setiap anak lahir seperti tabula rasa, dalam keadaan kosong dan tak punya kemapuan apa-apa. Aliran empirisme berpendapat berlawanan dengan aliran nativisme dan naturalisme karena berpendapat bahwa dalam perkembangan anak menjadi manusia dewasa itu sama sekali di tentukan oleh lingkungannya atau oleh pendidikan dan pengalaman yang di terimanya sejak kecil, manusia-manusia dapat di didik menjadi apa saja kearah yang baik maupun kearah yang buruk menurut kehendak lingkungan atau pendidikannya. Dalam pendidikan pendapat kaum empiris ini terkenal dengan nama optimisme pedagogis.

Kaum behaviouris pun sependapat dengan kaum empiris, sebagai contoh di kemukakan di sini kata-kata waston, seorang behaviouris tulen dari Amerika ”berilah saya anak yang baik keadaan badannya dan situasi yang saya butuhkan, dan dari setiap orang anak, entah yang mana dapat saya jadikan dokter, seorang pedagang, seorang ahli hukum, atau jika memang di kehendaki menjadi seorang pengemis atau pencuri”.

Dari pemaparan dan contoh di atas jelas menurut pandangan empirisme bahwa peran pendidik sangat penting sebab akan mencetak anak didik sesuai keinginan pendidik tapi dalam dunia pengetahuan pendapat seperti ini sudah tidak di akui lagi, umumnya orang sekarang mengakui adanya perkembangan dari pengaruh pembawaan dan lingkungan. Suatu pembawaan tidak dapat mencapai perkembangannya jika tidak di pengaruhi oleh lingkungan di samping itu orang berpendapat bahwa dalam batas-batas yang tertentu kita dilahirkan dengan membawa intelegensi. Di katakan dalam batas-batas tertentu karena sepanjang pengetahuan kita tahu bahwa intelegensi dapat kita kembangkan.

d) Aliran Konvergensi

Aliran konvergensi merupakan gabungan dari aliran-aliran di atas, aliran ini menggabungkan pentingnya hereditas dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia, tidak hanya berpegang pada pembawaan, tetapi juga kepada faktor yang Sama pentingnya yang mempunyai andil lebih besar dalam menentukan masa depan seseorang.

Aliran konvergensi mengatakan bahwa pertumbuhan dan perkemangan manusia itu adalah tergantung pada dua faktor, yaitu: faktor bakat atau pembawaan dan faktor lingkungan, pengalaman atau pendidikan. Inilah yang di sebut teori konvergensi. (Convergentie : penyatuan hasil, kerjasama mencapai satu hasil. Konvergeren : menuju atau berkumpul pada satu titik pertemuan).

William Stern (1871-1939), seorang ahli pendidikan bangsa Jerman, dan sebagai pelopor aliran ini mengatakan “kemungkinan-kemungkinan yang di bawa lahir itu adalah petunjuk-petunjuk nasib depan dengan ruangan permainan. Dalam ruangan permainan itulah letaknya pendidikan dalam arti seluas-luasnya, tenaga-tenaga dari luar dapat menolong, tetapi bukanlah ia yang menyebabkan pertumbuhan itu, karena ini datangnya dari dalam yang mengandung dasar keaktifan dan tenaga pendorong”.

Jadi menurut Williem seorang anak di lahirkan di dunia sudah disertai pembawaan baik maupun buruk. Bakat yang di bawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu. Sebaliknya lingkungan yang baik dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat bakat yang di perlukan untuk pengembang itu. sebagai contoh pada hakikatnya kemampuan anak berbahasa dengan kata-kata, adalah juga hasil konvergensi.

Pada anak manusia ada pebawaan untuk berbicara dan melalui situasi lingkungannya anak belajar berbicara dalam bahasa tertentu. Lingkungan pun mempengaruhi anak didik dalam mengembangkan pembawaan bahasanya, karena itu anak manusia mula-mula menggunakan bahasa lingkungannya karena itu teori W. Stern di sebut teori konvergensi (memusatkan ke satu titik). Jadi menurut teori konvergensi: Pendidikan mungkin untuk di laksanakan, Pendidikan di artikan sebagai pertolongan yang di berikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik. Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan. Dari ketiga teori tersebut jelaslah bahwa semua yang berkembang dalam diri suatu individu di tentukan oleh pembawaan dan juga oleh lingkungannya. Seorang anak dapat berkata-kata juga di pengaruhi oleh dua faktor, pembawaan dan lingkungan. Jika salah satu dari kedua faktor itu tidak ada, tidaklah mungkin kepandaian berkata-kata dapat berkembang.

Pengaruh aliran-aliran klasik terhadap pemikiran dan praktek pendidikan di Indonesia, Di Indonesia telah di terapkan berbagai aliran-aliran pendidikan, penerimaan tersebut dilakukan dengan pendekatan efektif fungsional yakni diterima sesuai kebutuhan, namun ditempatkan dalam latar pandangan yang konvergensi. Meskipun dalam hal-hal tertentu sangat diutamakan bakat dan potensi lainnya dari anak, namun upaya penciptaan lingkungan untuk mengembangkan bakat dan kemampuan itu diusahakan pula secara optimal, dengan kata lain, meskipun peranan pandangan empirisme dan nativisme tidak sepenuhnya ditolak, tetapi penerimaan itu dilakukan dengan pendekatan eksistis fungsional yakni diterima sesuai dengan kebutuhan, namun di tempatkan dalam latar pandangan yang konvergensi seperti telah dikemukakan, tumbuh-kembang, manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor, yakni hereditas, dan anugerah.

Faktor terakhir itu merupakan pencerminan pengakuan atas adanya kekuasaan yang ikut menentukan nasib manusia. Dari paparan diatas jelas bahwa Indonesia yang mayoritas agama Islam lebih condong pada aliran konvergensi yakni factor yang mempengaruhi perkembangan adalah pembawaan dan lingkungan.pembawaan merupakan potensi-potensi yang ada pada diri manusia sejak lahir yang perlu dikembangkan dengan adanya pendidikan atau lingkungan.

Dalam hadis Nabi:“semua anak dilahirkan atas kesucian atau kebersihan (dari segala dosa atau noda) dan pembawaan beragama tauhid,sehingga ia jelas bicaranya.maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anaknya menjadi yahudi atau nasrani atau majusi,”(HR. Abu ya’lah, altab rani, dan al baihaqi dari aswad bin sari’) Hadits diatas menerangkan bahwa anak dilahirkan dalam keadaan suci atau belum mengetahui apa-apa kecuali bekal potensi dan hereditas yang dibawanya.sedangkan perkembangan selanjutnya itu akan dipengaruhi oleh factor lingkungan atau pendidikan dan orang tua disini sebagai pendidik mempunyai peran atau andil yang sangat penting untuk mengarahkan anak kejalan yang mereka kehendaki dewasa ini hampir tidak ada yang menganut teori nativisme, naturalisme, maupun empirisme, mereka lebih condong pada aliran konvergensi.

III. Konsep Islam Tentang Pendidikan

1. Filsafat Pendidikan Islam

Dalam ajaran Islam, pada hakikatnya manusia sebagai khalifah Allah di bumi ini manusia mempunyai potensi untuk memahami, menyadari dan kemudian merencanakan pemecahan problem hidup dan kehidupannya, serta bertanggung jawab dalam pemecahan problem tersebut.Dalam kata lain Islam menghendaki agar manusia melaksanakan pendidikan diri sendiri secara bertanggung jawab, agar tetap berada dalam klehidupan yang islami.

Pertanyaan-pertanyaan tentang berbagai masalah hidup dan kehidupan manusia memang merupakan tantangan bagi manusia untuk menjawabnya jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi dasar pelaksanaan dan praktek pendidikan.Ketepatan akan jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mampu merumuskan tujuan pendidikan secara tepat dan hal ini akan mengarahkan usaha-usaha kependidikan yang tepat pula di sinilah letak peranan filsafat pendidikan.

Perkembangan filsafat dalam Islam telah menghasilkan berbagai macam alternatif jawaban terhadap berbagai macam pertanyaan dalam hidup dan kehidupan manusia jawaban antara hubungan manusia dengan tuhan, tentang keyakinan dan kepercayaan hidup telah melahirkan ilmu kalam pertanyaan-pertanyaan tentang dekatnya manusia dalam hubungan dengan tuhan, tentang kembali kepada Tuhan menimbulkan ilmu tasawwuf, ilmu fiqh merupakan kodifikasi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang apa dan bagaimana nilai-nilai dan norma-norma kehidupan dan tingkah laku.

Ilmu-ilmu tersebut berhasil dikembangkan dalam dunia Islam, dengan menggunakan metode yang khas islami, yaitu metode ijtihad.Ijtihad adalah menggunakan segenap akal dan potensi manusiawi lainnya untuk mencari kebenaran dan mengambil kebijaksanaan dengan bimbingan al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad Saw.

Begitu juga dalam memecahkan masalah pendidikan Islam (problema yang dihadapi umat Islam) filsafat Islam dengan menggunakan metode khasnya yaitu ijtihad namun para filosof Muslim menggunakannya secara bervariasi.

Metode spekulatif dan kontemplatif merupakan metode utama dalam setiap cabang filsafat dalam sistem filsafat Islam disebut tafakkur baik kontemplatif maupun tafakkur adalah berpikir secara mendalam dan dalam situasi yang tenang dan sunyi untuk mendapatkan sesuatu yang dipikirkan biasanya metode ini berkaitan dengan masalah-masalah yang abstrak, misalnya hakikat hidup menurut Islam, hakikat iman, Islam, sifat Tuhan, takdir, malaikat dan sebagainya.

Pendekatan normatif, norma artinya nilai juga berarti aturan atau hukum-hukum. Norma menunjukkan keteraturan suatu system, nilai juga menunjukkan baik dan buruk. Menurut filsafat Islam, sumber nilai adalah tuhan dan semua bentuk norma akan mengarahkan manusia kepada Islam. Pendekatan normatif dimaksudkan untuk mencari dan menetapkan aturan-aturan dalam kehidupan nyata dan dalam filsafat Islam dapat disebut sebagai pendekatan syar’iyyah, yaitu mencari ketentuan dan menetapkan ketentuan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh menurut syariat Islam obyeknya adalah berkaitan dengan tingkah laku dan amal perbuatan, Metode ijtihad dalam fiqih seperti istihsan, maslahah al-mursalah, al-‘aadah al-muhakkamah, merupakan contoh-contoh metode normatif dalam sistem filsafat Islam.

Analisa konsep yang juga disebut sebagai analisa bahasa konsep berarti tangkapan atau pengertian seseorang terhadap suatu obyek kata-kata, kalimat dan bahasa pada hakikatnya merupakan kumpulan dari pengertian-pengertian, dari konsep-konsep konsep seseorang tentang suatu obyek berbeda antara satu dengan yang lainnya, dan konsep inipun dibatasi oleh waktu dan tempat, al-Quran dan hadits-hadits Nabi Saw adalah juga menggunakan bahasa manusia, yang juga berarti kumpulan-kumpulan dari konsep-konsep yang dimengerti oleh manusia.

Dalam sistem filsafat Islam menafsirkan dan juga menta’wilkan ayat-ayat al-Quran merupakan praktek konkret dari pendekatan analisa konsep atau analisa bahasa ajaran Islam penuh dengan konsep-konsep filosofis tentang hidup dan kehidupan manusia, seperti iman, Islam, ihsan, amal saleh, takwa, bahagia dan sebagainya semuanya adalah menjadi problema pendidikan Islam.

Pendekatan histories, History artinya sejarah, yaitu mengambil pelajaran dari peristiwa dan kejadian masa lalu, Peristiwa sejarah berguna untuk memeberikan petunjuk dalam membina masa depan dengan demikian peristiwa sejarah banyak manfaatnya untuk pendidikan, Ayat al-Quran banyak menganjurkan untuk mengambil pelajaran dari sejarah. Dalam sistem filsafat Islam penggunaan Sunnah Nabi Saw sebagai sumber hukum, penelitian-penelitian akan hadits-hadits, yang menghasilkan pemisahan antara hadits palsu dan hadits shahih, pada hakikatnya merupakan contoh praktis dari penggunaan analisa historis dalam filsafat pendidikan Islam.

Pendekatan ilmiah terhadap masalah aktual, yang pada hakikatnya merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari pola berpikir rasional, empiris dan eksperimental yang telah berkembang pada masa jayanya filsafat dalam Islam. Demikian beberapa pendekatan filosofis yang mungkin digunakan dalam memecahkan problematika pendidikan di kalangan umat Islam. Adapun pendekatan mana yang efektif dan efisien tentunya tergantung kepada sifat, bentuk dan ciri khusus problema yang dihadapi.

Dengan demikian filsafat pendidikan Islam ialah filsafat pendidikan yang berasal dari prinsip-prinsip dan ruh Islam. Berdasasrkan prinsip-prinsip dan ruh Islam tidak menyebabkan kehilangan unsur-unsur kemajuan dan tidak menghilangkan sifat eksperimental, sesuai dengan kemajuan zaman. Di samping itu, filsafat pendidikan Islam juga merupakan studi tentang penggunaan dan penerapan metode dalam memecahkan problematika pendidikan umat Islam dan memberikan arah serta tujuan yang jelas terhadap pelaksanaan pendidikan umat Islam.

  1. Pandangan Islam Tentang Pendidikan

Agama Islam adalah agama yang universal, yang mengajarkan umat manusia mengenai berbagai aspek kehidupan, baik duniawi maupun ukhrawi. Salah satu di antara ajaran tersebut adalah mewajibkan kepada umat Islam untuk melakukan pendidikan. Karena pendidikan merupakan kebutuhan hidup manusia yang mutlak harus dipenuhi demi untuk mencapai kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat. Dengan pendidikan itu pula manusia akan mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan untuk bekal kehidupannya. Apabila kita memperhatikan ayat yang pertama kali diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhamma Saw, maka nyatalah bahwa Allah telah menekankan perlunya orang belajar baca tulis dan ilmu pengetahuan.

Firman Allah dalam Surat al-Alaq ayat 1-5 sebagai berikut:

ù&tø%$# ÉOó™$$Î/ y7În/u‘ “Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7š/u‘ur ãPtø.F{$# ÇÌÈ “Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ

Artinya:

Bacalah dengan (menyebut) Nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Di samping menekankan pada umatnya untuk belajar, Islam juga menyuruh umatnya untuk mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Islam mewajibkan umatnya untuk belajar dan mengajar, manusia itu sebagai makhluk yang dapat dididik dan mendidik. Banyak ayat al-Quran dan hadits yang menjelaskan hal tersebut, antara lain di dalam Surat al-Taubah ayat 122.

$tBur šc%x. tbqãZÏB÷sßJø9$# (#rãÏÿYuŠÏ9 Zp©ù!$Ÿ2 4 Ÿwöqn=sù txÿtR `ÏB Èe@ä. 7ps%öÏù öNåk÷]ÏiB ×pxÿͬ!$sÛ (#qßg¤)xÿtGuŠÏj9 ’Îû Ç`ƒÏe$!$# (#râ‘É‹YãŠÏ9ur óOßgtBöqs% #sŒÎ) (#þqãèy_u‘ öNÍköŽs9Î) óOßg¯=yès9 šcrâ‘x‹øts† ÇÊËËÈ

Artinya:

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Sabda Nabi Muhammad Saw sebagai berikut:

Artinya: “Jadilah kamu pendidik yang penyantun, ahli fikih dan ahli ilmu, disebut pendidik bila seseorang  telah mendidik manusia dengan ilmunya sedikit-sedikit lama kelamaan banyak” (HR. Bukhari).

IV. KESIMPULAN

Filsafat sebagai hasil pemikiran para ahli filsafat telah melahirkan berbagai macam pandangan atau ide yang diantaranya ialah lahirnya pandangan tentang filsafat pendidikan. Begitu pula halnya dengan filsafat pendidikan, bahwa dalam sejarahnya telah melahirkan berbagai pandangan atau aliran. Karena kesimpulan filsafat tidak pernah mandeg, maka setiap keputusan atau kesimpulan yang diperoleh tidak pernah merupakan kesimpulan final.

Filsafat Pendidikan Islam merupakan jawaban yang berasal dari prinsip-prinsip dan ruh Islam atas pertanyaan-pertanyaan tentang berbagai masalah pendidikan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi dasar pelaksanaan dan praktek pendidikan. Ketepatan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mampu merumuskan tujuan pendidikan secara tepat dan akan mengarahkan usaha kependidikan yang tepat pula.

Pendidikan menurut ajaran Islam merupakan kewajiban bagi umat Islam demi mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dunia dan akhirat, dan akan mendapatkan ilmu pengetahuan untuk bekal kehidupannya.

Pendidikan islam dengan berbagai model dan corak metode aliranya harus berupaya membangun pendidikan yang relevan dan bermutu sesuai dengan kebutuhan masyarakat islam Indonesia, menyelenggarakan pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, pendidikan yang demokratis dan profesional, berusaha mengurangi peran pemerintah dalam implementasi pendidikan dan merampingkan birokrasi pendidikan sehingga lebih fleksibel dalam pelaksanaan pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Hamdani Ali, MA. Filsafat Pendidikan, Kota Kembang, Yogyakarta: 1986.

Jalaluddin dan Abdullah. Filsafat Pendidikan, Gaya Media Pratama, Jakarta: 1997.

Omar Mohammad al-Toumy. Falsafah Pendidikan Islam, alih bahasa DR. Hasan Langgulung, Bulan Bintang, Jakarta: 1979.

Zuhairini, Dra. Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta: 1995.

Tags: artikel

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment