hujair.sanaky@staff.uii.ac.id

SUBUR; AKTUALISASI PENDIDIKAN ISLAM

July 16th, 2012 · No Comments

Book Review

PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM :

MEMBANGUN MASYARAKAT MADANI DI INDONESIA; DRS. HUJAIR AH. SANAKY, MSI.

AKTUALISASI PENDIDIKAN ISLAM

DALAM MASYARAKAT MADANI DI INDONESIA[1]

Oleh:

SUBUR

NIM. 11913122

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah

PENGANTAR SISTEM PENDIDIKAN ISLAM

Dosen Pengampu :

Hujair AH. Sanaky

A. Pendahuluan

Pada era reformasi[2] ini, masyarakat Indonesia ingin mewujudkan perubahan dalam semua aspek kehidupan. Akhir-akhir ini sering muncul ungkapan dari sebaagian pejabat pemerintah, politisi, cendekiawan, dan tokoh-tokoh masyarakat tentang masyarakat madani (sebagai terjemahan dari kata civil society). Tampaknya, semua potensi bangsa Indonesia dipersiapkan dan diberdayakan untuk menuju masyarakat madani yang merupakan cita-cita dari bangsa ini. Masyarakat madani diprediski sebagai masyarakat yang berkembang sesuai dengan potensi budaya, adat istiadat, dan agama. Demikian pula, bangsa Indonesia pada era reformasi ini diarahkan untuk menuju masyarakat madani, untuk itu kehidupan manusia Indonesia akan mengalami perubahan yang fundamental yang tentu akan berbeda dengan kehidupan masayakat pada era orde baru. Kenapa, karena dalam masyarakat madani yang dicita-citakan, dikatakan akan memungkinkan “terwujudnya kemandirian masyarakat, terwujudnya nilai-nilai tertentu dalam kehidupan masyarakat, terutama keadilan, persamaan, kebebasan dan kemajemukan (pluraliseme)”, serta takwa, jujur, dan taat hukum.

Konsep masyarakat madani merupakan tuntutan baru yang memerlukan berbagai torobosan di dalam berpikir, penyusunan konsep, serta tindakan-tindakan. Dengan kata lain, dalam menghadapi perubahan masyarakat dan zaman, “diperlukan suatu paradigma baru di dalam menghadapi tuntutan-tuntutan yang baru”, demikian kata filsuf Kuhn. Karena menurut Kuhn, apabila tantangan-tantangan baru tersebut dihadapi dengan menggunakan paradigma lama, maka segala usaha yang dijalankan akan memenuhi kegagalan”[3].

Untuk mengantisipasi pendidikan yang terkungkung oleh politik bangsa, baik era Orde Baru maupun pada era reformasi maka diperlukan terobosan pemikiran kembali konsep dasar pembaharuan pendidikan Islam menuju masyarakat madani, karena pendidikan adalah sarana terbaik yang didesain untuk menciptakan suatu generasi baru pemuda-pemudi yang tidak akan kehilangan ikatan dengan tradisi mereka sendiri tapi juga sekaligus tidak menjadi bodoh secara intelektual atau terbelakang dalam pendidikan mereka atau tidak menyadari adanya perkembangan-perkembangan disetiap cabang pengetahuan manusia.

B. Permasalahan

Masyarakat madani merupakan masyarakat yang sadar akan hak-hak warga masyarakat dan melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara, masyarakat yang terbuka, toleran, menghargai[4] hak asasi manusia dan yang paling menonjol dalam ciri masyarakat madani adalah demokratis. Tuntutan perubahan menuju masyarakat madani di Indonesia memerlukan berbagai perubahan pada semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, serta sangat membutuhkan individu dan masyarakat dengan kemampuan yang tinggi.

Pendidikan sebagai sarana terbaik untuk membentuk suatu generasi, dituntut untuk peran sertanya dalam membangun masyarakat tesebut. Oleh karena itu, pendidikan sangat diperlukan untuk mempersiapkan individu dan masyarakat sehingga memiliki kemampuan dan motivasi serta masyarakat madani indonesia yang mempunyai identitas berdasarkan budaya Indonesia.[5] Dapat dipahamai bahwa sektor pendidikan Islam memiliki peran yang strategis dan fungsional dalam upaya membangun masyarakat madani di Indonesia. Konsep seperti apakah yang ditawarkan oleh pendidikan Islam dalam mewujudkan masyarakat madani di Indonesia. Masalah yang perlu dicermati dalam pembahasan ini adalah bagaimanakah pendidikan Islam didesain menuju masyarakat madani Indonesia.

C. Pembahasan

Istilah masyarakat Madani sebenarnya telah lama hadir, walaupun dalam wacana akademi di Indonesia belakangan mulai tersosialisasi. “Dalam bahasa Inggris ia lebih dikenal dengan sebutan “Civil Society”. Kata madani sepintas orang mendengar asosiasinya dengan kata Madinah, memang demikian karena kata Madani berasal dari dan terjalin erat secara etimologi dan terminologi dengan Madinah yang kemudian menjadi ibukota pertama pemerintahan Muslim. Dalam masyarakat tersebut Nabi Muhammad berhasil memberlakukan nilai-nilai keadilan, prinsip kesetaraan hukum, jaminan kesejahteraan bagi semua warga, serta perlindungan terhadap kelompok minoritas. Dengan begitu, kalangan pemikir Muslim menganggap masyarakat (kota) Madinah sebagai prototype masyarakat ideal produk Islam yang dapat dipersandingkan dengan masyarakat ideal dalam konsep civil society.

Salah satu cara untuk mewujudkan masarakat madani di indonesia adalah dengan melakukan demokratisasi pendidikan, sebab pendidikan merupakan sarana untuk melakukan internalisasi nilai-nilai demokrasi kepada masyarakat. Untuk menjawab persoalan tersebut, perlu dirumuskan suatu perencanaan pendidikan dan pelatihan yang strategis, efektif dan efisien dalam rangka membangun sumberdaya manusia muslim indonesia yang cakap, terampil, inovatif serta memiliki semangat kompetitif dalam kehidupan masyarakat. Untuk itu dalam pembahasan ini lebih difokuskan pada upaya pendidikan Islam bagi pemberdayaan manusia dan masyarakat unggul, upaya demokratisasi pendidikan Islam, model-model pendidikan alternatif, dan peran Pendidikan Islam dalam masyarakat Indonesia.

1. Pendidikan Islam Bagi Pemberdayaan Manusia (Humanisasi) dan Masyarakat Unggul Menuju Masyarakat Madani Indonesia.

. Pendidikan merupakan proses humanisasi, merupakan proses yang terbuka dimana manusia diberdayakan dan dioptimalkan potensi (fitrah) bawaannya maka dibutuhkan konsep pendidikan yang dapat memberi gambaran yang komprehensif dengan menekankan keharmonisan hubungan baik sesama manusia, masyarakat maupun lingkungan yang didasarkan pada nilai-nilai normatif illahiyah. Pendidikan dalam konsep Islam sebenarnya telah menetapkan dasar dan bertujuan untuk membangun manusia sebagi insan kamil, yaitu manusia yang paripurna, integral, totalitas dalam membangun hidup dan kehidupannya. Proses pendidikan harus harus berupaya mengembangkan manusia agar memiliki pengetahuan, keterampilan, spiritual dan berpikir rasional, sehingga tumbuh perilaku manusia yang mencintai demokrasi, perdamaian, hidup selaras, stabil, berbudi dan berbudaya sebagai makhluk Tuhan dan makhluk sosial yang hidup bersama manusia lain dengan tujuan memakmurkan, mengontrol, dan mengatur alam semesta berdasarkan otoritas Tuhan.

Sedangkan manusia dan masyarakat yang unggul dalam masyarakat madani adalah manusia dalam menjalankan hidupnya merupakan pengabdian kepada Allah semata, cara terbaik untuk mendapatkan prestasi dalam hidup adalah dengan mempunyai ilmu dan memiliki etos kerja yang tinggi, serta berorientasi ke masa depan[6].

Manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki potensi (fitrah) bawaan ini bersifat integral-holistik dan tidak hanya berorientasi kepada permasalahan ukhrowi saja tetapi harus terintegrasi dengan persoalan-persoalan dunia, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, sosial kemasyarakatan, dan sebagainya. Pandangan ini didasarkan pada konsep ajaran Islam tidak menghendaki pada penghayatan agama yang mengarah kepada pelarian diri dari kehidupan duniawi, tetapi bahkan sebaliknya, Islam mengajarkan asketisme duniawi, yaitu memakmurkan dan memajukan kehidupan dunia, tanpa tenggelam dalam kenikmatan semu[7]

2. Demokratisasi Pendidikan Islam Menuju Terbentuknya Masyarakat Madani Indonesia

Masyarakat madani pada prinsipnya memiliki makna ganda, yaitu masyarakat yang beriman, berpengetahuan, demokrasi, toleransi, memiliki potensi, aspirasi, motivasi dan hak asasi. Namun yang paling dominan adalah masyarakat yang demokrasi. Masyarakat madani juga merupakan masyarakat yang religius[8]. Maka pendidikan dalam hal ini Pendidikan Islam harus mampu membangun masyarakat demokratis, beradab, religius ilahiyah, masyarakat yang menghargai hak asasi manusia, menghargai perbedaan paham, pluralitas, memiliki partisipasi sosial yang tinggi dengan menjunjung nlai-nilai etika dan moral sehingga dapat terwujud masyarakat madani indonesia yang religius dan demokratis.

Pendidikan Islam seperti madrasah, pesantren, dan lembaga-lembaga Islam lainnya, dalam proses belajar mengajarnya dapat melaksanakan demokratisasi pendidikan di kelas sehingga mampu membawa membawa peserta didik untuk dapat menghargai kemampuan dan kemajemukan teman dan guru atau menghargai perbedaan-perbedaan yang ada. Demokratisasi pendidikan juga dapat ditempuh dengan mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan dunia sekarang yang sangat dibutuhkan oleh peserta didik dan masyarakat (pragmatisme), tanpa harus melupakan hari kemarin[9]. Sebagai contoh jika peserta didik kebanyakan berlatar belakang masyarkat petani, maka orangtuanya cenderung menuntut hasil nyata dari pendidikan anaknya agar mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian, dan seterusnya.

Freire menyarankan upaya untuk mencapai demokratisasi pendidikan yang berwawasan adalah dengan menciptakan kebebasan intelektual antara pendidik dan peserta didik dalam proses belajar mengajar di kelas. Proses belajar harus terbuka , penuh dialog dan penuh tanggung jawab antara pendidik dan peserta didik dalam bentuk egaliter dan kesetaraan[10].

Pendidikan dan Pendidikan Islam selama ini terkesan menganut asas subject matter oriented yang membebani peserta didik dengan informasi kognitif dan motorik yang kadang-kadang kurang relevan dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan psikologi peserta didik. Dengan pendidikan yang demokratisasi tentu akan terjadi kesetaraan atau sederajat dalam kebersamaan antara peserta didik dengan pendidik. Pengajaran tidak harus top down namun harus diimbangi dengan bottom up sehingga tidak ada lagi pemaksaan kehendak pendidik, tetapi yang akan terjadi adalah tawar menawar kedua belah pihak dalam menentukan tujuan, materi, media, proses belajar mengajar dan evaluasi hasil belajarnya.[11]

Demokratisasi pendidikan merupakan pendidikan hati nurani, artinya pendidikan yang lebih menghargai potensi manusia dikatakan lebih humanis beradab dan sesuai dengan cita-cita masyarakat madani. Tilaar, menyatakan bahwa tuntutan terbentuknya masyarakat madani Indonesia, mengandung berbagai unsur, yaitu: (1) kebebasan intelektual, (2) kesempatan untuk bersaing (3) mengembangkan kepatuhan spiritual dan moral, (4) pendidikan yang mengakui untuk berbeda dan (5) percaya kepaada kemampuan manusia[12].

Demokratisi pendidikan di dalam masyarakat madani adalah bagaimana proses pendidikan Islam dapat menyiapkan peserta didik agar terbiasa bebas berbicara dan mengeluarkan pendapat secara bertanggung jawab dan turut bertanggung jawab, terbiasa mendengar dengan baik dan menghargai pendapat dan pandangan orang lain menumbuhkan keberanian moral yang tinggi, dan mempelajari kehidupan masyarakat.

3. Model-model Pendidikan Islam Alternatif dalam Masyarakat Madani Indonesia

Berbagai bentuk dan jenis pendidikan Islam di Indonesia, seperti Pondok Pesantren, Madrasah, Sekolah Umum bercirikan Islam dan Perguruan Tinggi Islam. Selain itu, jenis Pendidikan Islam luar sekolah seperti Taman Pendidikan Alqur’an (TPA). Keberadaan lembaga-lembaga pendidikan tersebut, sebagai khazanah pendidikan dan diharapkan dapat membangun dan memberdayakan umat Islam di Indonesia secara optimal, tetapi pada kenyataannya bahwa pendidikan islam di Indonesia tidak mempunyai kesempatan yang luas untuk bersaing dalam membangun umat yang besar ini.

Perkembangan yang mencolok pada tahun 90-an adalah munculnya sekolah-sekolah elite Muslim yang dikenal.sebagai “Sekolah Islam”, “Sekolah Unggulan” atau “Sekolah Islam Unggulan”. Istilah lain yang sering digunakan adalah “ SMU Model” atau “ SMU Islam Model”. Contoh : Sekolah Islam al-Azhar, di komplek Masjid Agung al-Azhar di Kebayoran Baru Jakarta, SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarya, SMU Insan Cendekia di Serpong, SMU Madinah di Parung dan MIN 1 Malang.

Pendidikan islam sekarang ini juga dihadapkan pada persoalan-persoalan yang cukup kompleks, yakni persoalan globalisasi, reformasi dan masyarakat madani indonesia.tantangan yang dihadapi sekarang adalah bagaimana upaya utuk membangun paradigma baru pendidikan Islam, visi, misi dan tujuan yang didukung dengan sistem kurikulum atau materi pendidikan, manajemen dan organisasi, metode pembelajaran untuk dapat mempersiapkan manusia yang berkualitas, bermoral tinggi dalam menhadapi perubahan masyarakat global yang begitu cepat. Perubahan yang harus dilakukan oleh pendidikan Islam antara lain: (1) membangun sistem pendidikan Islam yang mampu mengembangkan SDM yang berkualitas, (2) menata manajemen pendidikan Islam dengan berorientasi pada manajemen berbasis sekolah, (3) meningkatkan demokratisasi penyelenggaraan pendidikan Islam.

Dari keempat model yang dikemukakan dapat ditarik lagi pada desain model pendidikan Islam yang lebih operasional lagi, yaitu:

a. Mendesain model pendidikan yang handal dan mampu bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan yang lain.

b. Model pendidikan Islam tetap mengkhususkan pada desain “ pendidikan keagamaan”

c. Model pendidikan agama Islam tidak dilaksanakan di sekolah-sekolah formal tetapi dilaksanakan di luar sekolah.

d. Desain model pendidikan diarahkan pada dua dimensi, yakni: dimensi dialektika (horisontal) dan dimensi ketundukan (vertikal)

Lembaga-lembaga pendidikan Islam juga harus mendesain model-model pendidikan alternatif yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan sekarang ini. Hasim Amir mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan yang idealistik, yakni pendidikan yang integralistik, humanistik, pragmatik, dan berakar pada budaya yang kuat[13]

Adapun model-model pendidikan Islam alternatif ada tiga pendekatan yang ditawarkan sebagai pola alternatif pendidikan Islam yaitu pendekatan sistematik (perubahan total) pendekatan suplementer yaitu dengan menambah sejumlah paket pendidikan yang bertujuan memperluas pemahaman, pendekatan komplementer yaitu dengan upaya mengubah kurikulum dengan sedikit radikal untuk disesuaikan secara terpadu sedangkan konsep pendidikannya adalah pendidikan integralistik, humanistik, dan gerakan pada bendaya. Kemudian baru ditarik model pendidikan sila yang lebih operasional yaitu mendesain model pendidikan umum Islami, mendesain model pendidikan Islam yang tetap mengkhususkan pada desain pendidikan keagamaan, seperti yang ada sekarang, model pendidikan Islam yang tidak dilaksanakan di sekolah-sekolah formal tetapi dilaksanakan di luar sekolah, artinya pendidikan agama dilaksanakan di rumah atau lingkungan keluarga, masjid, masyarakat (tempat kursus-kursus, pengajian-pengajian dan kajian-kajian keagamaan) serta mendesain model pendidikan diarahkan pada dua dimensi yaitu dimensi dialektika (horisontal) dan dimensi ketundukan vertikal.

Apapun model model pendidikan islam yang ditawarkan dalam masyarakat madani Indonesia, pada dasarnya harus berfungsi untuk memberikan kaitan antara peserta didik dengan nilai-nilai ilahiyah, pengetahuan dan keterampilan, nilai-nilai demokrasi, masyarakat dan lingkungan sosio-kulturalnya yang terus berubah dengan cepat, sebab pada saat yang sama pendidkan secara sadar juga digunakan sebagai instrumen untuk perubahan dalam sistem politik dan ekonomi secara keseluruhan.

4. Kontribusi dan Peran Pendidikan Islam dalam Masyarakat Madani Indonesia

Bagaimana kontribusi dan peran pendidikan Islam dalam masyarakat madani dalam buku Paradigma Pendidikan Islam : Membangun Masarakat Madani Indonesia Karya Drs. Hujair AH. Sanaky, MSI. ini dimaksudkan agar pendidikan Islam mempersiapkan dan mampu menghasilkan output pendidikan yang unggul, maka lembaga-lembaga pendidikan Islam harus mampu melakukan pembenahan dan pembaharuan dengan cara: program lembaga-lembaga pendidikan Islam lebih diorentasikan kepada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengembangan ketrampilan dengan meningkatkan kemampuan untuk menggunakan berbagai teknologi elektronik, lembaga-lembaga pendidikan Islam harus mampu mengembangkan atau melakukan depresivikasi program-program bidang studi yang sesuai dengan kebutuhan tenaga dibidang-bidang tertentu atau sesuai dengan kurikulum dan silabi relevan dengan kompetensi mencakup spiritual, illahiyah, knowledge, skill, ability dan kultural-sosial yang diarahkan pada kebutuhan pasar. Diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas, manajemen dan organisasi yang efektif, sumber dana yang memadai dan efisien dengan memanfaatkan sarana yang tersedia. Sehingga eksistensi pendidikan Islam diharapkan mampu berkomunikasi dan berkompetisi dengan berbagai lembaga pendidikan lainnya dalam membangun manusia yang utuh (insan kamil) menuju masyarakat madani.

Untuk menuju masyarakat madani di indonesia paling tidak pendidikan peran pendidikan Islam dapat mempersiapkan atau memproses manusia yang akan memiliki kemampuan intelektual, keterampilan atau kemahiran, kemampuan sosial, kemampuan membangun masyarakat yang beradab, memiliki kemampuan kinerja tinggi serta memiliki kemampuan spiritual ilahiyah yang tinggi. Untuk mewujudkan peran diatas pendidikan Islam perlu melakukan perubahan dengan mendesain ulang konsep filosofis yang jelas dan baku, visi misi tujuan dan fungsi lembaga , kurikulum, materi dan proses pendidikannya agar dapat memenuhi tuntutan perubahan dan kebutuhan masyarakat.

C. KESIMPULAN

Dari uraian dan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa pembaruan pendidikan Islam menuju masyarakat madani Indonesia, sebagai berikut:

1. Pada era reformasi, pendidikan Islam mengalami pergeseran paradigma, sehingga perubahan yang harus dilakukan pada aspek filosofis, visi, misi, tujuan, kurikulum, metodologi, manajemen serta strategi dan pendidikan Islam harus disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat madani Indonesia.

2. Pendidikan Islam, perlu melakukan pembaruan pada aspek filosofis, visi, misi, tujuan, kurikulum, metodologi, manajemen serta strategi dan pendidikan Islam untuk menuju masyarakat madani Indonesia sebagai berikut:

a. Landasan filosofis dan teori pendidikan Islam, harus dikembangkan dan dijabarkan atas dasar asumsi-asumsi yang kokoh dan jelas tentang konsep dasar ketuhanan (ilahiyah), konsep dasar manusia (insaniyah) dan konsep dasar alam semesta dan lingkungan, yang didasarkan pada al-Qur’an dan Hadis yang harus dilihat secara utuh, integratif dan interaktif.

b. Merumuskan misi dan visi pendidikan Islam secara jelas dan tepat.

c. Tujuan pendidikan Islam perlu dirumuskan secara jelas dan tepat karena akan menentukan arah isi, motivasi, dan pelaksanaan pendidikan serta tolok ukur keberhasilannya.

d. Kurikulum pendidikan Islam, perlu dikembangkan lebih bersifat problematik, strategis, antisipatif dan aplikatif untuk memecahkan problem-problem yang dihadapi umat manusia.

e. Penggunaan metode dan pendekatan dalam proses belajar mengajar didasarkan pada learning based atau student learning dan bukan teaching learning serta learning competency, sehingga peserta didik diharapkan memiliki seperangkat tindakan dan perilaku Islami, cerdas, penuh tanggungjawab sebagai syarat untuk dapat dianggap mampu melaksanakan tugas dalam bidang pekerjaan tertentu.

3. Paradigma pendidikan Islam, perubahan paradigma dari paradigma lama yang berorientasi ke masa lalu (pertengahan) ke paradigma yang berorientasi ke masa depan, mengalihkan paradigma yang hanya mengawetkan kemajuan ke paradigma yang merintis kemajuan, paradigma sentralistik ke paradigma desentralistik.

4. Pendidikan untuk masyarakat madani Indonesia adalah pendidikan yang memberdayakan manusia dan masyarakat yang unggul.

5. Mengembangkan demokratisasi pendidikan, tegasnya dengan demokratisasi pendidikan diharapkan dapat menghasilkan lulusan merdeka, berpikir kritis, toleran dengan pandangan orang lain.

6. Pendidikan Islam untuk masyarakat madani, yaitu membangun sistem pendidikan yang mampu mengembangkan sumberdaya manusia yang berkualitas yang dilandasi dengan nilai-nilai ilahiyah, kemanusiaan (insaniyah), masyarakat, lingkungan dan budaya. Dalam kerangka ini maka pendidikan Islam harus berupaya untuk: mengembangkan konsep pendidikan integralistik, konsep pendidikan humanistik, konsep pendidikan pragmatis, konsep pendidikan yang berakar pada budaya.

7. Strategi perubahan dan pengembangan pendidikan, tidak hanya bersifat “tambal sulam” yang didasarkan pada kebutuhan dan keinginan yang bersifat sementara, tetapi harus merupakan suatu upaya strategis, terencana dan menyeluruh yang dapat mewujudkan peningkatan kualitas iman yang aplikatif, pengetahuan dan keterampilan yang profesional, proses pembebasan, proses pencerdasan, menjadikan peserta didik berwawasan integrative, proses pemberdayaan potensi manusia, menjunjung tinggi hak-hak anak, menghasilkan manusia cinta perdamaian dan peduli lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Fadjar, A. Malik, 1999, Reformasi Pendidikan Islam, Jakarta: Fajar Dunia.

Freire, Paulo, 1999, Menggugat Pendidikan Fundamental Konservatif Liberal Anarkis, Terj. Omi Intan Naomi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tilaar, H.A.R 1994, Manajemen Pendidikan Nasional, Kajian Pendidikan Masa Depan,Bandung: Remaja Rosdakarya.

----------, 1998, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam Perspektif Abad 21, Cet. I, Magelang: Tera Indonesia.

----------,1999, Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia, Strategi Reformasi Pendidikan Nasional,Bandung: Remaja Rosdakarya

-----------,1984, Pendidikan Sebagai Praktik Pembebasan, Jakarta: Gramedia.

Usman, Husaini, 2001, Menuju Masyarakat Madani Melalui Demokratisasi Pendidikan From http:www.depdiknas.go.id/Jurnal/28/menuju-masyarakat-madani-melalui.htm,tgl 11-9-2001.

Catatan kaki:


[1] Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam: Membangun Masyarakat Madani Indonesia, (Yogyakarta, Safiria Insania Press, 2003), hlm. 228-268.

[2] H.A.R Tilaar, 1998, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam Perspektif Abad 21, (Magelang: Tera Indonesia, 1998), hlm.25.

[3] Ibid....hlm.28

[4] Pengkajian dan Perumusan Filosofi Kebijakan dan Strategi Pendidikan Nasional Kelompok Kerja Depdikbud, Konferensi Pendidikan Indonesia mengatasi Krisis Perubahan Menuju Pembaruan, Jakarta, 23-24 Februari 1999, hlm. 11.

[5] Ibid ...hlm. 11

[6] H.A.R Tilaar, Pendidikan, Kebudayaan, dan .......hlm. 171.

[7] A. Malik Fadjar, Reorientasi Pendidikan Islam, hlm. 42.

[8] Husaini Usman, Menuju Masyarakat Madani Melalui Demokrasi Pendidikan, From http:www.depdiknas.go.id/Jurnal/28/menuju-masyarakat-madani-melalui.htm,tgl 11-9-2001.

[9] Shannon, Gagasan Baru Dalam Pendidikan,(Jakarta: Mutiara, 1978), hlm.32.

[10] P. Freire, Pendidikan Sebagai Praktik Pembebasan, (Jakarta: Gramedia, 1984), hlm. 24.

[11] Taroepratjeka, “ Pengembangan, Pendidikan Tinggi dalam Pembangunan jangka panjang KeduaI” makalah seminar Temu alumni IKIP Yogyakarta , 18 Mei 1996, hlm. 3.

[12] H.A.R. Tilaar, Pendidikan,kebudayaan dan,,,,hlm.172-174

[13] A. Malik Fadjar, Reorientasi Pendidikan Islam , hlm. 52.

Tags: artikel

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment