hujair.sanaky@staff.uii.ac.id

YULIA SISNAWATI; REORIENTASI PENDIDIKAN ISLAM

July 16th, 2012 · No Comments

Book Review

REORIENTASI PENDIDIKAN ISLAM

Oleh :

YULIA SISNAWATI

NIM : 11913123

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah

PENGANTAR SISTEM PENDIDIKAN ISLAM

Dosen Pengampu :

Hujair AH. Sanaky

A. A. Pendahuluan

Berbicara pendidikan adalah berbicara tentang keyakinan pandangan dan cita- cita tentang hidup dan kehidupan umat manusia dari generasi ke generasi. Sejarah pendidikan Indonesia sesungguhnya sangat di warnai oleh peran maupun pengalaman umat Islam dalam menampilkan pendidikannya. Kehadiran organisasi- organisasai Muhammadiyah atau Nu selalu menempatkan pendidikan sebagai basis sekaligus motor penggeraknya, Berbagai jenjang pendidikan yang didirikan oleh organisasi Islam tersebut telah memberikan andil besar dan merupakan wujud nyata dari apa yang sekarang diharapkan sebagi usaha menuju “pendidikaan berbasis masyarakat”.(community based education).

Tentu saja semua itu perlu adanya reorientasi, sehingga hasilnya dapat mendukung proses gerakan reformasi menuju Indonesia Baru “masyarakat madani”. Selain bertumpu pada tradisi dan nilai- nilai keislaman dan keindonesiaannya, juga mampu membuka orientasinya pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi guna mewujudkan suatu peradaban global yang modern dan religious. Berbagai pengalaman menunjukkan bahwa tokoh- tokoh pergerakan Islam yang berkiprah di bidang pendidikan mampu berbuat untuk kemajuan hari depannya. Reorientasi itu memang harus dilaksanakan terus menerus dan berkesinambungan. Karena kalau berhenti berarti mati.

Oleh karena itu pelaku pendidikan Islam dituntut segera melakukan reorientasi. Dalam hal yang bersifat normative- filosofis, reorientasi dilakukan dengan cara menguji ulang terhadap nuktah- nuktah ilahiyah dalam Al- Qur’an yang berhubungan dengan persoalan pendidikan seperti tentang manusia, ilmu, nilai yang berhubungan dengan tujuan pendidikan, dan lain sebagainya.[1]

Pada sejarah awalnya pendidikan Islam pernah mencapai puncak kejayaannya. Tetapi dalam realitas praktis sekarang, pelaksanaan pendidikan telah berorientasi pada capaian-capaian kebendaan, hedonis, materialistik, sehingga terjadinya kerusakan moral, erosi terhadap nilai-nilai keagamaan sebagai akibat berorientasi pada Barat. Pola hidup seperti ini, tentunya sebuah tantangan berat bagi pendidikan Islam yang berkarakteristik balancing antara kepentingan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, umat Islam masa kini dituntut untuk melakukan gerakan reorientasi pemikiran pendidikan Islam untuk menuju sistem ideal pendidikan Islam sehingga tercapai konseptual pendidikan Islam yang berorientasi pada kebahagian dunia dan akhirat yaitu penggunaan nilai-nilai Islam, sebagai sudut pandang secara menyeluruh mengenai persoalan-persoalan yang berkaitan dengan gejala-gejala dalam pendidikan Islam dalam rangka menyusun, mengembangkan, menemukan konstruk paradigma pendidikan yang berangkat dari pandangan-pandangan dunia Islam.[2]

B. Permasalahan

Di Era Reformasi ini banyak persoalan yang harus dituntaskan baik oleh pemerintah maupun pengelola lembaga Pendidikan Islam sendiri. Pemerintah diharapkan segera mereformasi pandangan yang mengaggap Pendidikan Islam sebagi “kelas kedua”. Padahal sebagai sesuatu yang niscaya menurut Naquib Al Attas Pendidikan Islam memiliki keunggulan yang komparatif dibanding pendidikan umum lainnya, karena PI mengandung konsep agama, insan, ilmu dan ma’rifah, hikmah, ‘adl, dan ‘amal.

Tantangan utama terhadap usaha mengembalikan Pendidikan Islam ke pangkuan umat Islam adalah masalah warisan kolonial yang sengaja dibuat untuk melemahkan umat Islam. Saat- saat runtuhnya Majapahit dan jatuhnya malaka merupakan saat- saat turunnya peradaban Islam secara tajam.

Dalam tataran normative- filosofis, hingga kini persoalan Islam selalu berkutat pada perdebatan semantik, dari segi muatan (content), pendidikan Islam masih dihadapakan pada persoalan dualisme- dikotomi antara ilmu-ilmu agama dan ilmu- ilmu umum. Oleh karena itu Pendidikan Islam dihadapkan pada persoalan ketidak jelasan orientasi kultural. Bukti adanya persoalan ini nampak pada belum di selesaikannya hubungan Islam dengan modernitas.

Dalam buku ini dapat di perkirakan tantangan dan kendala utama Pendidikan Islam di masa depan berkisar pada kurangnya SDM yang berkualitas pada umat Islam, umat Islam tidak hanya kalah dahulu oleh umat- umat lain, umat Islam juga kalah dalam bidang linkage Internasional, karena belum satupun Negara Islam tampil sebagai Negara modern, lemahnya linkage ini berdampak pada kesulitan relative umat Islam mengembangkan pendidikan modern di Indonesia- sebuah negeri dengan mayoritas Muslim.

C. Pembahasan

I. Filosofi Pendidikan Islam

1. Paradigma Pendidikan Islam

Bertolak dari asumsi Islam is Education dan Education is Life (Ladge 1947) dalam arti pendidikan merupakan persoalan hidup dan kehidupan, dan seluruh proses hidup dan kehidupan manusia adalah proses pendidikan maka Pendidikan Islam pada dasarnya hendak mengembangkan pendidikan hidup Islami yang diharapkan tercermin dalam sikap hidup dan keterampilan hidup orang Islam.[3] Islam dan Pendidikan mempunyai hubungan filosofis yang sangat mendasar, baik secara ontologis, epistimologis maupun aksiologis. Dalam peta pemikiran Islam yang dikemukakan oleh Munawir Sadzali (1990), bahwa dikalangan kaum muslimin ada empat pendapat yang sering menimbulkan kontrofersi:

a) Islam sebagi agama terakhir dan penyempurna dari agama- agama wahyu

b) Islam hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya

c) Islam bukanlah sebuah sistem kehidupan yang praksis dan baku, melainkan sebuah sistem nilai dan norma

d) Islam tidak memberikan petunjuk terhadap semua aspek kehidupan manusia yang bersifat baku dan operasional. Karena hal ini akan mematikan kreatifitas dan memasung kebebasan manusia.

Kaitannya dengan persoalan hidup dan kehidupan ini, menurut penulis pendapat ketiga dan keempat lebih mendekati kepada prinsip- prinsip ajaran Islam, antara lain memudahkan dan mendorong kepada kemajuan.

Dalam Konsep Islam Rahmatan lil’alamin dapat tercipta secara dinamis, apabila manusia dapat mengemban fungsinya sebagai khalifah secara konsekuen dan penuh tanggung jawab. Dalam arti dapat menempatkan dirinya secara proposional dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia dengan alam. Inilah yang dimaksud fitrah atau potensi pembawaan, yang dengan potensi itu manusia berkembang dan melaksanakan tugas hidupnya sebagai khalifah, kemudian Allah melengkapinya dengan petunjuk langsung melalui wahyu sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Uraian di atas menjelaskan kepada kita, bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan yang berwawasan semesta, berwawasan kehidupan yang utuh dan multidimensional, yang meliputi wawasan tentang Tuhan, manusia dan alam secara Integratif. Dalam mengkaji tentang hakekat pendidikan Islam, Dr. Hasim Amir (1999) mengemukakan, pendidikan yang integralistik, humanistik, pragmatik, dan berakar budaya kuat. [4]

2. Islam Sebagi disiplin Ilmu dalam Pendidikan Agama

Jika ada pengajaran dan pendidikan yang selalu dapat sorotan luas dari masyarakat, sudah dipastikan itu adalah pengajaran dan pendidikan Islam. Beberapa hal yang menjadi sorotan masyarakat:

a) Masalah materi atau muatan (content) pendidikan agama.

Materi pendidikan agama yang bersumber dari ajaran Islam dinilai hanya menekankan pada dimensi teologis. Akan tetapi kritik yang muncul karena dimensi teologis dalam pelaksanaan pendidikan agama tidak diletakkan dalam suatu kekayaan wacana.

b) Persoalan yang berhubungan dengan kerangka metodologi

Jika dibandingkan dengan disiplin keilmuan lainnya, pelaksanaan pendidikan agama masih terpaku pada model konvensional yang lebih menekankan metode ceramah sebagaimana layaknya sebuah pengajian yang yang cenderung monolog dan doktrinatif.

Munculnya perilaku keagamaan (fundamentalisme) yang mengandung ciri skripularistik dalam hal teologinya dan eksklusif dalam hubungan sosial bisa jadi bertitik pangkal pada kelemahan metodologi yang menyebabkan dualisme dan dikotomi dengan disiplin keilmuan yang lainnya. Masalah tersebut dapat dilihat dalam dua hal:

a. Pendidikan agama tidak pernah diikaitkan dengan disiplin keilmuan lainnya, kecuali penekanan yang berlebihan terhadap dimensi teologis dan ritual

b. Agama dalam pendidikan agama jarang sekali dijelaskan dari sudut pandang ilmu lain, seperti ekonomi, politik, filsafat.

Sejauh ini sudah banyak usaha yang dilakukan pemerintah maupun pembaharu pendidikan baik dalam proses maupun output yang dihasilkan, namun demikian masih saja terdapat kesenjangan dengan pelaksanaannya. Maka perlu dukungan dari banyak faktor sehingga dapat dihindari adanya reduksionisasi, seperti kecenderungan penekanan yang berlebihan pada dimensi teologis dan ritual.[5]

3. IDI (Islam sebagai Disiplin Ilmu) Sebagai Pendekatan Alternatif

Tujuan dari IDI ini adalah untuk mengintregasiakn agama dengan disiplin keilmuan lainnya. Dalam pandangan Al- Qur’an kerja ilmu pengetahuan bukan sekedar dimaksudkan untuk membaca hasil ciptaan Allah secara deskriptif, semata mata diletakkan sebagai obyek ilmu, apalagi seperti paradigma keilmuan modern yang menolak penjelasan metafisis dan filosofis terhadap alam kosmis. Ilmu pengetahuan dalam Islam pada tataran metafisis- filosofis dan praksisnya sangat kaya dengan pertimbangan teologis, spiritual, etis dan moral.

Kerangka teologis dan filosofis inilah yang dijadikan titik tolak utama dalam mengintregasikan ilmu- ilmu modern dengan Islam yang kemudian di kembangkan di perguruan tinggi dengan menggunakan metode IDI.

4. Qur’anic Theory Building

Meskipun penekanan pada dimensi metafisis- filosofis ini penting, dengan suatu landasan kerja keilmuan sangat tergantung pada asumsi metafisis- filosofis yang berkaitan dengan aspek teologis, epistimologi dan aksiologi ilmu pengetahuan, tetapi dirasa kurang memadai kalau tidak dilakukan pada tahap teoritisasi dengan melakukan kegiatan yang oleh Kuntowijoyo disebut dengan Quranic Theory Building.[6]

II. Reorientasi Wawasan Pendidikan Islam

1. Reorientasi Wawasan Pendidikan Muhammadiyah dan NU

Faktor determinant (penentu) sehingga muhammadiyah dan NU mampu mempertahankan gerakan dan perannya dalam elan sejarah yang begitu panjang hingga kini adalah terletak pada kepiawaian kedua gerakan Islam itu dalam mengkombinasikan dua hal:

a. Keduanya konsisten berpegang teguh pada tradisi keislaman, yaitu keyakinan pada doktrin yang tertuang di dalam Al- Qur’an dan As-sunnah.

b. Keduanya memiliki sikap positif terhadap perubahan yang terjadi di sekitarnya, sekalipun dalam tingkat responsivitas yang berbeda pada setiap kasusnya.

Namun dalam penggunaan kedua faktor tersebut, NU lebih menekankan pada faktor pertama, sehingga NU sering dikategorikan sebagai gerakan tradisional,sementara Muhammadiyah lebih menekankan kepada faktor yang kedua, sehingga Muhammadiyah sering disebut sebagai gerakan Modernis.

Ideologi kedua gerakan tersebut terlihat dalam pola pendidikan, yang mana NU lebih condong pada bentuk pondok pesantren, sementara Muhammadiyah pada pendidikan umum. Namun keduanya menempatkan Islam sebagai acuan cita Idealnya. Namun pada tingkat yang lebih rendah keduanya juga harus membangun ikatan- ikatan struktural yang khas untuk kelestarian dan pengembangan organisasinya. Akibatnya, pola pendidikan yang dikembangkan oleh keduanya memiliki watak ambiguity.

Untuk itu, reorientasi dalam bidang pendidikan harus diarahkan pada:

Ø pemberian ruang gerak yang seluas luasnya pada fungsi esensial dari pendidikan

Ø untuk melakukan pembaruan di bidang pendidikan, baik dalm aspek formalnya maupun substansialnya adalah tidak bisa dilakukan sepihak, tetapi harus memperhatikan aspirasi yang berkembang di masyarakat.

Ø Tidak bisa tidak semua institusi pendidikan formal yang didirikan oleh Muhammadiyah dan NU baik sistem ataupun penyelenggaraannya akan sangat terikat oleh sistem yang dibakukan oleh pemerintah

Ø Muhammadiyah dan NU juga harus mengembangkan alternatif sistem, terutama untuk kepentingan alokasi yang sangat srategis.[7]

2. Posisi Strategis Pendidikan Agama di Tengah Masyarakat Modern

Era globalisasi diabad 21 yang tahapannya sudah di mulai pada masa sekarang ini, ternyata telah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap dunia pendidikan. Dunia pendidikan dimasa sekarang benar-benar dihadapkan pada tantangan yang cukup berat yang penangananya memerlukan keterlibatan berbagai pihak yang terkait. Berkenaan dengan hal tersebut diatas, perlu dilakukan upaya-upaya strategis, antara lain:

Ø tujuan pendidikan dimana sekarang tidak cukup dengan hanya memberikan bekal pengetahuan, keterampilan, dan ketakwaan saja tetapi juga harus diupayakan melahirkan manusia yang kreatif, inovatif, mandiri dan produktif mengingat dunia yang akan datang adalah dunia yang kompetitif.

Ø guru dimasa yang akan mendatang adalah guru yang disamping memiliki informasi berakhlak baik dan mampu menyampaikan secara metadologis

Ø bahan pelajaran umum dan agama perlu di integrasikan dan di berikan kepada siswa sebagai bekal yang memungkinkan ia dapat memiliki kepribadian yang utuh, yaitu pribadi yang pada gilirannya dapat menimbulkan masyarakat belajar.[8]

Berdasarkan pemikiran yang berperspektif Islam Pendidikan sekolah untuk masa depan haruslah memiliki kurikulum utama yang terdiri atas: pendidikan agama, pendidikan bahasa inggris aktif, pendidikan keilmuan, pendidikan ketrampilan kerja.[9]

Pendidikan adalah upaya merekonstruksi pengalaman- pengalaman peradaban umat manusia secara berkelanjutan guna memenuhi tugas kehidupannya. Upaya rekonstruksi pengalaman ini dapat kita pahami dari dua sisi sekaligus, yakni sisi proses dan sisi lembaga, seperti madrasah yang secara harfiah identik dengan sekolah agama diakui telah mengalami perubahan, walaupun tidak melepaskan diri dari makna asal sesuai dengan ikatan budayanya, yakni budaya Islam. Berbekal kerangka konseptual sejarah dan budaya tersebut, maka madrasah merupakan sebuah pranata pendidikan Islam formal.

Realitas lain yang tidak bisa diabaikan adalah banyaknya penyelenggraan MI,MTS dan MA yang berada dalam naungan pesantren dan pondok pesantren. Madrasah- madrasah seperti ini menciptakan suatu mekanisme tersendiri guna menutupi kekurangan pelajaran dan pendidikan agama dalam kurikulum madrasah.[10]

a. Perguruan Tinggi dan Pesantren: Integrasi Ilmu Pendidikan Islam dan Umum

Dalam tulisan ini construct (kerangka penjelas) yang ditawarkan bagi PTI adalah perguruan tinggi yang diprakarsai dan dikelola oleh umat Islam dan keberadaannya disemangati oleh keinginan mengejawantahkan nilai- nilai keislaman.

PTI tidak akan survive tiba-tiba melainkan berawal dari embrio adanya fungsi- fungsi studi pasca atau purna yang dilakukan oleh sebagian cendekiawan muslim. Dorongan melaksanakan studi purna di dunia Islam mencapai puncaknya sekitar abad ke 10 tatkala para cendekiawan muslim waktu itu menyadap dan mengembangbiakan gagasan Hellenis yang berasal dari Yunani Klasik, ciri yang menonjol dari gagasan Hellenis yaitu pemberian porsi yang amat besar pada otoritas akal, mengutamakan sikap rasional serta gandrung pada ilmu- ilmu sekuler (umum). Beberapa Cendekiawan Muslim Hellenis Al- Kindi, Al- Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd.

Akan tetapi gagasan Hellenis yang kian berkobar itu bertabrakan dengan gagasan Semitis, yang juga dikembangkan oleh sebagian kalangan Islam. Ciri gagasan Semitis ini adalah pemberian porsi yang sangat besar kepada otoritas wahyu, sikap patuh kepada dogma seta berorientasi terhadap ilmu- ilmu keagamaan.Namun pola kesemangatan Semitis ini penyebab utama mantapnya pertumbuhan disiplin ilmu keagamaan di dunia Islam.

Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk menyatukan disiplin ilmu umum dengan ilmu agama agar berada dalam satu atap, namun PTIS-PTIS hingga kini belum menemukan bentuk yang mendekati Ideal. Salah satu bentuk yang dikembangkan oleh PTIS adalah disandingkannya fakultas- fakultas agama dengan fakultas umum. Bentuk ini disebut Pendekatan Institusional. Salah satu cara yang ditempuh kebanyakan PTIS untuk memberikan warna “Islam” dalam kependidikannya adalah pendekatan kurikuler.

Ada sebuah Pendekatan konstektual- fungsional, yaitu upaya menjawab pertanyaan agar semua bidang studi yang disajikan selalu memakai kacamata tinjauan Islam. Namun sandungan utama untuk merealisasikan gagasan ini terletak pada tenaga pengajar.[11]

Perguruan tinggi dan pesantren adalah dua tradisi pendidikan yang mempunyai banyak perbedaan. Perguruan tinggi lebih menekankan pendekatan yang bersifat liberal, sedangkan pesantren lebih menekankan sikap konservatif yang bersandar, karena berpusat pada figure sang kyai.

Persepsi dualisme- dikotomi semacam itu mungkin saja kurang begitu tepat. Karena dalam kenyataannya banyak pesantren yang telah melakukan perubahan, baik secara struktural maupun kultural. Munculnya banyak pesantren dengan klaim pesantren modern yang bisa saja terkesan superfisial bagaimanapun telah menjadi petunjuk penting, bahwa pesantren tidak selamanya memperlihatkan perkembangan yang statis.Maka sudah waktunya untuk dicari usaha kearah terciptanya suatu sintesa, konvergensi atau sinergisitas, sehingga dapat dicapai kesatuan antara moralitas dan rasionalitas.[12]

Dikotomi Agama dan Umum di Indonesia yang terjadi, berakibat kurangnya perhatian lembaga Pendidikan Islam tehadap ilmu umum terutama sains dan teknologi, maka hal itu mendorong lahirnya upaya menciptakan sistem dan konsep Pendidikan Islam yang tidak dikotomistik. Ada beberapa konsep Integrasi Pendidikan Islam yang menjadi solusi dikotomi PI: Konsep Kebenaran metodologi dan Konsep Islamisasi Ilmu yang melahirkan beberapa paradigma:[13]

Ø Menjadiakan tauhid sebagai landasan dari tujuan Islam

Ø Menurunkan konsep teoritik ilmiah dari ideologi yang bersumber dari konsep agama

Ø Menguatkan hasil temuan ilmiah dengan ajaran Agama

Maka, menurut Amin Abdullah terapi yang diperlukan untuk mengobati kecenderungan konservativisme dan eksklusifisme pendidikan agama di era modern adalah bagaimana menghubungkan antara ‘ulumu ad-diin, al-fikr al-islamiy, dan diraasat Islamiyah.[14]

b. Agama dan Masalah Pergeseran Nilai Budaya

Dalam perbincangan tentang pendidikan, seringkali dihadapkan pada dua orientasi pendidikan yang saling bertolak belakang, satu sisi lebih menekankan pada aspek humaniora dan yang lain lebih berorientasi pada penguasaan hi-tech.

Sedikitnya terdapat tiga kerangka teoritik yang sering digunakan untuk menjelaskan secara substansial terjadinya perubahan dalam masyarakat:

Ø Teori yang memandang perubahan sebagai suatu proses diferensiasi dan integrasi.

Ø Teori sosial yang memandang perubahan dan perkembangan masyarakat sebagai suatu proses pertumbuhan dan pembentukan nilai- nilai

Ø Teori sosial yang memandang bahwa perubahan dan perkembangan masyarakat merupakan proses pembebasan dan ketergantungan.

Secara umum gerak perubahan itu menuntut adanya perubahan pola secara stimulant terhadap semua aspek kehidupan masyarakat. Kalau tidak, masyarakat akan mengalami ketertinggalan budaya (cultural lag). Perubahan tersebut tidak akan mendatangkan kecemasan jika diikuti keimbangan nilai- nilai budaya dalam suatu kerangka nilai sistem.

Kemajuan manusia yang bertitik tumpu di bidang keilmuan selamanya tidak akan memberikan kepuasan bagi kehidupan manusia, karena itu terdapat suatu kesadaran baru untuk kembali pada nilai- nilai agama. Dalam kedudukannya agama sebagian dari sistem nilai, agama hanya akan mengalami proses revitalisasi. Dalam rangka revitalisasi dan transformasi nilai- nilai agama adalah bagaimana merekonstruksi peran agama tersebut. Peran itu dapat dilakukan, manakala dalam agama tersedia formulasi- formulasi sistem nilai yang lengkap, yakni totalitas sistem makna yang berlaku bagi seluruh kehidupan, baik individu maupun sosial.[15]

D. Kesimpulan

Dari pemaparan makalah yang di kutip dari buku A. Malik Fadjar dengan judul Reorientasi Pendidikan Islam maka dapat di ambil kesimpulan bahwa dalam Konsep Islam Rahmatan lil’alamin, pendidikan Islam adalah pendidikan yang berwawasan semesta, berwawasan kehidupan yang utuh dan multidimensional, yang meliputi wawasan tentang Tuhan, manusia dan alam secara Integratif.

Maka dalam konsepnya, A. Malik Fadjar mengemukakan bahwasanya IDI (Islam sebagai Disiplin Ilmu) sebagai pendekatan alternative yang bertujuan untuk mengintegrasikan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan lainnya. Ilmu pengetahuan dalam Islam pada tataran metafisis- filosofis dan praksisnya dengan pertimbangan teologis, spiritual, etis dan moral. Kerangka teologis dan filosofis inilah yang dijadikan titik tolak utama dalam mengintregasikan ilmu- ilmu modern dengan Islam.

Reorientasi dalam bidang pendidikan harus diarahkan pada: pemberian ruang gerak pada fungsi esensial dari pendidikan, memperhatikan aspirasi yang berkembang di masyarakat, mengembangkan alternatif sistem, terutama untuk kepentingan alokasi yang sangat srategis. Beberapa lembaga pendidikan Islam yang dikembangkan oleh organisasi Islam yang terkait, berpengaruh pada Orientasi Pendidikan Islam. Madrasah contohnya, merupakan realitas pendidikan yang menampung aspirasi sosial, budaya, dan agama penduduk Muslim Indonesia. Untuk ini madrasah perlu diarahkan kepada lembaga yang sanggup melahirkan SDM yang memiliki kesiapan memasuki era globalisasi, era industrialisasi dan era informasi serta diikuti oleh kesimbangan nilai- nilai budaya dalam suatu kerangka nilai sistem.

Begitu juga halnya dengan Perguruan Tinggi yang lebih menekankan pendekatan yang bersifat liberal, dan pesantren yang lebih menekankan pada sikap konservatif karena berpusat pada figure sang kyai. Bagaimanapun klaim pesantren modern yang terkesan superfisial telah menjadi petunjuk penting, bahwa pesantren tidak selamanya memperlihatkan perkembangan yang statis.

Kaitannya dengan Reorientasi Pendidikan Islam pada umumnya tetap membutuhkan keterlibatan dari banyak pihak dilihat dari kualitas SDM yang ada, seperti kebijakan Pemerintah, pembaharu pendidikan, peran para ulama’, guru, dan orang tua sehingga dapat tercipta suatu sintesa, konvergensi atau sinergisitas, sehingga dapat dicapai kesatuan antara moralitas dan rasionalitas.

DAFTAR PUSTAKA

Fadjar, A. Malik, Reorientasi Pendidikan Islam, Fajar Dunia, Jakarta, 1999

M. A Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001

Abdullah, M Amin, Ahmad Tafsir, Yunus Abdullah Rahim, Mereka Bicara Pendidikan Islam sebuah Bunga Rampai, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta 2009

http://blog.uin-malang.ac.id/sarkowi/2010/06/26/reorientasi-pendidikan-islam

http://wahanakreasi4.blogspot.com/2010/12/re-orientasi-sistem-pendidikan-islam.html

Catatan kaki:


[1] A. Malik Fadjar, Reorientasi Pendidikan Islam, (Jakarta: Fajar Dunia, 1999), hlm. Xiii.

[2] http://blog.uin-malang.ac.id/sarkowi/2010/06/26/reorientasi-pendidikan-islam/Diunduh pada Rabu, 4 Juli 2012 jam 15.45 WIB.

[3] Muhaimin, M. A, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001), hal. 39

[4] Malik Fadjar, Reorientasi Pendidikan Islam,… hlm. 27-30

[5] Malik Fadjar, Reorientasi Pendidikan Islam,… hlm. 51-53

[6] Malik Fadjar, Reorientasi Pendidikan Islam,… hlm. 54-58

[7] Malik Fadjar, Reorientasi Pendidikan Islam,… hlm. 66-71

[8] http://wahanakreasi4.blogspot.com/2010/12/re-orientasi-sistem-pendidikan-islam.html Diunduh pada Rabu, 4 Juli 2012 jam . 15.48 WIB

[9] Ahmad Tafsir, Pendidikan untuk masa Depan, Mereka bicara Pendidikan Islam, sebuah Bunga Rampai, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009) hal. 42

[10] Malik Fadjar, Reorientasi Pendidikan Islam,… hlm. 89-94

[11] Malik Fadjar, Reorientasi Pendidikan Islam,… hlm. 97-99

[12] Malik Fadjar, Reorientasi Pendidikan Islam,… hlm. 113

[13] Abdullah Rahim Yunus, Integrasi Ilmu Agama ke dalam Ilmu Umum dalam konteks Pendidikan Nasional, Mereka bicara Pendidikan Islam, sebuah Bunga Rampai, hal. 331-333

[14] M. Amin Abdullah, Mempertautkan ‘Ulumud ad-diin, Al-fikr Al-Islamiy, dan Dirasat Islamiyah Sumbangan Keilmuan Islam untuk Peradaban Global, Mereka bicara Pendidikan Islam, sebuah Bunga Rampai, hal. 289

[15] Malik Fadjar, Reorientasi Pendidikan Islam,… hlm. 122-125

Tags: Uncategorized

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment