hujair.sanaky@staff.uii.ac.id

Entries Tagged as 'Uncategorized'

RIBKHAN NASRULLOH; MOMOK, STANDAR KELULUSAN PENDIDIKAN DI INDONESIA

July 16th, 2012 · No Comments

MOMOK, STANDAR KELULUSAN

PENDIDIKAN DI INDONESIA

Disusun Oleh:

RIBKHAN NASRULLOH Sos I

makalah ini disusun untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah

Pengantar Sistem Pendidikan Islam

Dosen Pengampu:

Hujair AH. Sanaky,

A. Pendahuluan

Membicarakan persoalan dunia pendidikan tak pernah usai. Kenapa ? karena, pendidikan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Dan kehidupan sendiri merupakan pendidikan (live is education). Beragam perpektif senantiasa menyertai tatkala kita memperbincangkan tentang dunia pendidikan. (more…)

Tags: Uncategorized

YULIA SISNAWATI; REORIENTASI PENDIDIKAN ISLAM

July 16th, 2012 · No Comments

Book Review

REORIENTASI PENDIDIKAN ISLAM

Oleh :

YULIA SISNAWATI

NIM : 11913123

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah

PENGANTAR SISTEM PENDIDIKAN ISLAM

Dosen Pengampu :

Hujair AH. Sanaky

A. A. Pendahuluan

Berbicara pendidikan adalah berbicara tentang keyakinan pandangan dan cita- cita tentang hidup dan kehidupan umat manusia dari generasi ke generasi. Sejarah pendidikan Indonesia sesungguhnya sangat di warnai oleh peran maupun pengalaman umat Islam dalam menampilkan pendidikannya. Kehadiran organisasi- organisasai Muhammadiyah atau Nu selalu menempatkan pendidikan sebagai basis sekaligus motor penggeraknya, Berbagai jenjang pendidikan yang didirikan oleh organisasi Islam tersebut telah memberikan andil besar dan merupakan wujud nyata dari apa yang sekarang diharapkan sebagi usaha menuju “pendidikaan berbasis masyarakat”.(community based education). (more…)

Tags: Uncategorized

KHOIRUNISA KHANIFAH; MAZHAB PENDIDIKAN KRITIS

July 16th, 2012 · No Comments

Resume Buku

Mazhab Pendidikan Kritis

(Menyingkap Relasi Pengetahuan Politik dan Kekuasaan)[1]

Dr. M. Agus Nuryatno

Oleh :

Khoirunisa Khanifah
NIM: 11913117

makalah ini disusun untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah

PENGANTAR SISTEM PENDIDIKAN ISLAM

Dosen Pengampu:

Hujair AH Sanaky

A. PENDAHULUAN

Pendidikan kritis (critical pedagogy) adalah mazhab pendidikan yang meyakini adanya muatan politik dalam semua aktivitas pendidikan. Henry Giroux menyebut mazhab ini dengan pendidikan radikal (radical education), sedangkan Paula Allman menyebutnya dengan pendidikan pendidikan revolusioner (revolutionary pedagogy). Mazhab ini tidak merepresentasikan satu gagasan yang tunggal dan homogen. Namun, para pendukung mazhab ini disatukan dalam satu tujuan yang sama, yaitu memberdayakan kaum tertindas dan mentransformasi ketidakadilan sosial yang terjadi di masyarakat melalui media pendidikan (Peter McLaren,1998). (more…)

Tags: artikel · Uncategorized

MENATA ULANG PEMIKIRAN SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DALAM ABAD 21

July 13th, 2012 · No Comments

Review Buku

MENATA ULANG PEMIKIRAN SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DALAM ABAD 21 Prof. Dr. Mastuhu, M.Ed

Oleh;

Immawati Muflichah, S.Ag[1]

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah

PENGANTAR SISTEM PENDIDIKAN ISLAM

Dosen Pengampu:

Hujair AH Sanaky

A. Pendahuluan

Persoalan pendidikan seiring sejalan dengan persoalan kehidupan manusia. Artinya bahwa selama kehidupan manusia berjalan selama itu pula persoalan pendidikan menjadi perhatian serius bagi semua kalangan. Pendidikan adalah jantungnya kehidupan setiap bangsa, karena pendidikan merupakan salah satu indikator kemajuan suatu bangsa. Bangsa maju adalah bangsa yang mengarusutamakan kepentingan pendidikan di atas kepentingan yang lain. Bangsa maju adalah bangsa yang memberikan pelayanan pendidikan secara maksimal bagi warga negara.

Setiap negara di dunia ini pasti memiliki problem dalam mengelola pendidikan. Begitu pun Indonesia. Pendidikan Indonesia sampai sekarang pun masih meninggalkan persoalan yang kadang mengundang pro dan kotra bagi masyarakat Indonesia. Contohnya: masalah Ujian Nasional (UN) yang dianggap tidak memegang prinsip keadilan bagi semua peserta didik di sekolah Indonesia, Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang terkesan adanya kastanisasi pendidikan, Pendidikan Nasional yang tidak mengapresiasi pengembangan karakter peserta didik, dan persoalan-persoalan lainnya. Selain masalah internal, secara global, posisi pendidikan Indonesia masih tertinggal jauh dari negara-negara lain.

Pada tanggal 2 Nopember 2011, UNDP mengeluarkan Daftar Human Developtmen Index (HDI) dan Indonesia berada pada posisi 124 dari 187 negara. HDI Bidang Pendidikan, Indonesia No.119 dari 187 Negara. Di Asia Pasifik, Indonesia No.12 dari 21 Negara. Di bidang Kesehatan, Indonesia No.118 dari 187 Negara. Di Asia Pasifik, Indonesia No.11 dari 21 Negara, dan Income Percapita Indonesia, No.122 dari 187 Negara. Sedang di Asia Pasifik, Indonesia No.9 dari 21 Negara.[2] Ukuran penilaian HDI adalah bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi melalui income per kapita. Di lihat dari hasil HDI tersebut, khusus bidang pendidikan, Indonesia masih tertinggal jauh dengan negara lain, dan bahkan negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, maupun Australia.

Dari sinilah pentingnya bagaimana bangsa Indonesia harus melakukan perubahan dan pengembangan dunia pendidikan agar bangsa ini semakin maju dan sejahtera. Pendidikan merupakan langkah utama untuk pengembangan SDM agar bangsa ini semakin berkembang. Salah satu tokoh pendidikan nasional yang mencoba melakukan perubahan adalah Mastuhu, dalam bukunya Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21. Sebenarnya, kritik yang disampaikan Mastuhu dalam buku ini adalah salah satunya tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam UU SPN No. 2 Tahun 1989 yang menurutnya masih terkesan tidak demokratis[3] atau sudah “ketinggalan kereta api”, sudah tidak mampu lagi melayani tantangan jamannya[4].

Walau pun sejarah lahirnya buku ini seiring dengan lahirnya UU Sisdiknas No..20 Tahun 2003, tapi Mastuhu tidak menyinggung sama sekali UU Sisdiknas terbaru ini. Hal ini dimungkinkan UU Sisdiknas 2003 belum disahkan, sehingga kritikan yang diberikan Mastuhu masih pada UU SPN No. 2 Tahun 1989. Apakah kritik ini masih relevan atau tidak, itu tidak penting dibicarakan di sini, tapi penulis menangkap kritik-kritik yang disampaikan Mastuhu bukan hanya terkait UU SPN No. 2 Tahun 1989 tapi juga dibahas persoalan-persoalan dunia pendidikan menghadapi era globalisasi.

B. Permasalahan

Ada beberapa permasalah yang diangkat dalam buku Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Abad 21. Dalam review ini tidak akan menampilkan semua persoalan di atas, tapi persoalan-persoalan pendidikan yang sampai sekarang masih relevan dan hangat dibicarakan. Ada tiga pokok persoalan yang akan dibahas dalam review ini, yaitu Sistem Pendidikan Nasional pada UU SPN No. 2 Tahun 1989, Bagaimana Menata Ulang Sistem Pendidikan Nasional untuk menyelenggarakan pendidikan bermutu pada abad 21, dan Prospek Politik Pendidikan Nasional.

C. Pembahasan

1. Sistem Pendidikan Nasional

a. Diskriminasi Pendidikan

Persoalan yang masih relevan adalah pelaksanaan sistem pendidikan nasional yang tidak demokratis. Misalnya, Mastuhu memberikan contoh kasus penyelenggaran pendidikan yang tidak demokratis seperti adanya Sekolah/ Perguruan Tinggi Swasta (S) dan Sekolah/Perguruan Tinggi Negeri (N). Sekolah “S” dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu: Terdaftar, Diakui, dan Disamakan dengan Sekolah “N”. Perguruan “N” dibiayai oleh pemerintah, sedangkan perguruan “S” dibiayai oleh masyarakat sendiri. Hanya sebagian kecil anak bangsa yang dapat diterima di perguruan “N”, sebagian mereka berada di perguruan “S”. (Hal. 33) Akhirnya Sekolah “S” kekurangan dana, sarana/fasilitas dari pemerintah karena sebagai besar perhatian pemerintah kepada sekolah “N”. [5]

Kritik Mastuhu terkait perlakuan diskriminatif ini untuk saat ini masih juga relevan. tapi terkait pendanaan, pemerintah sekarang telah mengganggarkan Dana BOS sebagai dana operasional bagi penyelenggaran pendidikan, baik swasta maupun negeri, walau pun jumlahnya berbeda, tapi pemerintah pusat sudah ada perhatian bagi sekolah swasta, selain itu juga ada Sertifikasi Guru bagi guru Negeri dan Swasta sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan guru. Untuk saat ini, penyelenggaran pendidikan model SBI, bisa juga dikatakan sebagai tindakan diskrimatif pemerintah, hingga akhirnya pemerintah sekarang melakukan kajian ulang sekolah model RSBI/SBI. Kebijakan RSBI/SBI memang terkesan terjadinya kastanisasi pendidikan, sebagaimana bahasa Mastuhu, terjadinya diskriminasi pendidikan., pendidikan terkesan ekslusif dan elite bagi the have student (siswa kaya)[6]. Hal ini bisa dilihat bagaimana pemerintah memberikan pelbagai fasilitas dan dana yang besar bagi sekolah model RSBI/SBI berbeda dengan sekolah reguler lainnya, atau bahkan sekolah swasta.

b. Kurikulum yang Fragmentaris (terpecah-pecah)

Mastuhu berpendapat bahwa kurikulum atau bahan ajar pendidikan nasional masih terkesan fragmentaris (terpecah-pecah), kurang kontinuasi atau berkelanjutan dan kurang konsisten. Padahal tuntutan zaman modern, kurikulum harus memenuhi sifat-sifat integrality, holistic, wholistic, continuity, dan consistency – utuh, satu kesatuan, menyeluruh, berkesinambungan, dan ajeg, serta dapat memenuhi kebutuhan peserta didik, pasar, dan pengembangan IPTEK. Dalam kaitannya dengan agama, ilmu (umum) dan agama diajarkan terpisah, materi agama diajarkan secara fragmentasi. Terdapat dikotomi (pemisahan) antara ilmu agama dan umum. [7]

Akibatnya, materi ajar lepas dari nilai agama dan hanya mampu mengembangkan Kecerdasan Akal (intelektual) (IQ, Intelengencia Quotient) dan tidak menyentuh Kecerdasan Emosi (EQ, Emotional Quotient) dan Kecerdasan Spiritual (SQ). Dalam zaman modern ini, harapkan ketiga kecerdasan ini bersumber dan berkembang dalam RQ, Religious Quotient. Kecerdasan akal (IQ) bersifat rasional, logis, dan harus menurut hukum sebab-akibat dan probabilitas dan predictive. Kecerdasan Emosional (EQ) bersifat intuitive. Kecerdasan Spiritual (SQ) akan mampu mengantar peserta didik menangkap makna kebenaran dari hati nurani, sedangkan Kecerdasan Religius (RQ), peserta didik mampu menagkap hikmah kehidupan dan memahami sunnatullah (hukum alam).[8]

Kritik Mastuhu di atas masih relevan sampai sekarang, di mana dunia pendidikan nasional terlalu disibukkan persoalan pendidikan yang hanya menekankan pada kemampuan kognitif saja, misalnya UN dijadikan sebagai standar kelulusan dan kecerdasan peserta didik. Ada stigma negatif bagi peserta didik yang nilai UN-nya rendah, padahal UN hanya mengukur kecerdasan IQ saja. Padahal kita tahu, selain kecerdasan IQ masih banyak kecerdasan-kecerdasan yang lain sebagaimana dikenal dengan teori Multiply Intelligences, Kecerdasan Majemuk yang ditelorkan oleh Howard Gardner dalam bukunya Frames of Mind yang diterbitkan pada tahun 1983. Menurut Gardner ada Sembilan kecerdasan, yaitu Kecerdasan Linguistik (bahasa), Logis-Matematis, Visual-Spasial (kemampuan berpikir menggunakan gambar), Musikal (music), Kinestetik-Tubuh, Interpersonal (Sosial), Intrapersonal, Naturalis, dan Kecerdasan Eksistensial.[9]

2. Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21

Menurut Mastuhu, setidaknya ada 16 syarat penyelenggaraan pendidikan bermutu, yaitu[10]:

a. Paradigma Akademik: Para penyelenggara pendidikan dituntut memiliki visi, misi, orientasi, tujuan, strategi mencapai cita-cita pendidikan yang diselenggarakannya.

b. Tata Among: Governance. Meliputi struktur organisasi lembaga pendidikan lengkap dengan unit-unit kerjanya, posisi, peran, dan otoritas kewenangan masing-masing.

c. Demokrasi Pendidikan. Demokrasi memberikan peluang terbaik yang dapat memberikan kesempatan yang sama dan adil, menghormati harkat dan martabat sesama manusia, dan peluang kerjasama yang dapat menenangkan semua pihak. Tidak terjadinya diskriminasi pendidikan.

d. Otonom. Pendidikan bermutu harus otonom. Misalnya penyelenggaraan pendidikan berbasis sekolah dan sekolah berbasis masyarakat (school based management and school based community). Dengan otonomi, penyelenggaraan pendidikan dapat menetapkan, mencari, dan mengelola dana, sumber daya manusia dan asset-asetnya sendiri.

e. Akuntabilitas. Penyelenggara wajib melaksanakan penyelenggaraan sekolah secara terbuka dan bertanggung jawab akan mutunya pada semua pihak terkait: siswa, orang tua, pemerintah, masyarakat, dan pasar atau pengguna jasa pendidikan lainnya.

f. Evaluasi Diri. Penyelenggaraan pendidikan bermutu diperlukan kegiatan evaluasi diri yang dilaksanakan secara konsisten dalam periode-periode tertentu oleh institusi agar diketahui kelemahan, penyimpangan, kekuatan, dan peluang bisa diperbaiki.

g. Akreditasi. Jika evaluasi diri merupakan penilaian dari dalam, maka akreditasi merupakan penilaian dari pihak luar dalam rangka memberikan pengakuan akan mutu pendidikan.

h. Kompetensi. Kemampuan (kompetensi) yang perlu dikembangkan dalam penyelenggaraan pendidikan bermutu di abad mendatang, yaitu: memahami Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa, menangkap makna perubahan, menerima pendapat dari luar, memprediksi apa yang bakal terjadi jika telah terjadi berdasarkan fakta, data, dan bukti-bukti empiris, menyusun kurikulum yang bermutu, dan lain sebagainya.

i. Kecerdasan. Mengembangkan kecerdasan IQ, EQ, SQ, dalam satu wadah Kecerdasan Agama (RQ). (hal.97) RQ, Religious Quotient, dimaksudkan bahwa semua kecerdasan baik IQ, EQ, SQ, bersumber pada spiritual yang tauhid, yaitu agama-agama langit bukan agama-agama yang dibuat manusia[11]. Dengan RQ diharapkan orang mampu memahami hikmah sesuatu, semua hal pada akhirnya diyakini berawal dari Tuhan, berproses menurut hokum-Nya, dan berakhir pada kebenaran-Nya.

j. Kurikulum. Kurikulum meliputi rancangan seluruh mata pelajaran yang akan diberikan, lengkap dengan isi, dan implementasinya. Meliputi kesesuaian visi, misi, orientasi, tujuan, lengkap dengan kecerdasan komplit (IQ, EQ, SQ, RQ).

k. Metologi Pembelajaran. Metodologi pembelajaran yaitu proses bagaimana mengajar belajar atau “learn how to learn”. Metodologi pembelajaran yang terbaik adalah yang mampu mengembangkan semangat dan kemampuan belajar lebih lanjut. Caranya, melalui dialog atau diskusi.

l. Sumber Daya Manusia. Penyelenggaraan pendidikan bermutu sangat tergantung pada jumlah atau mutu civitas akademika: siswa dan guru, pimpinan, seluruh tenaga kependidikan, seperti: pustakawan, laboran, karyawan, dan lain-lain.

m. Dana. Penyelenggaraan pendidikan bermutu tidak mungkin dapat dicapai tanpa tersediannya dana dan sarana yang lengkap dan canggih. Bahkan terkesan pendidikan bermutu adalah pendidikan yang mahal dan menggunakan fasilitas atau alat-alat yang mahal pula.

n. Perpustakaan, Laboratorium, dan Alat Pembelajaran. Perpustakaan dan laboratorium sangat penting untuk mencapai pendidikan bermutu. Sebagaimana fokus pembelajaran “learn how to learn”, belajar bagaimana belajar yang baik.

o. Lingkungan Akademik (Academic Athmosphere). Lingkungan akademik biasa disebut Kampus Akademik. Yang dimaksud dengan “kampus” di sini meliputi bangunan atau tata ruang fisik dan non fisik dan system kehidupan akademik di mana civitas akademika melakukan interaksi

p. Kerja Jaringan (Network). Penyelenggara pendidikan bermutu dituntut mampu bekerja dalam jaringan. Tidak ada suatu kekuatan pun yang mampu berdiri sendiri tanpa kerjasama dengan yang lain.

3. Prospek Politik Pendidikan Nasional

Menurut Mastuhu, Indonesia di abad mendatang telah berubah dengan cepat. Sedikitnya telah muncul sembilan ketegangan kehidupan yang makin mendesak untuk dipecahkan, yaitu[12]:

a. “Lokal” vs “Nasional” vs “Global”. Bagaimana orang “local”, dan “nasional” mampu menjadi warga “global” tanpa tercerabut dari akarnya atau tanpa kehilangan jati dirinya.

b. “Individual” vs “Universal”. Bagaimana agar individu dimana pun berada mampu memasuki dunia global lengkap dengan nilai-nilai universal tanpa kehilangan nilai-nilai luhurnya, sebagai manusia.

c. “Tradisional” vs “Modernitas”. “Modernitas” tidak mungkin ada tanpa “tradisional”, dan “tradisional” akan sia-sia dan tidak berdaya tanpa membuka diri dan siap memasuki “modernitas”.

d. “Jangka Pendek “ vs “Jangka Panjang”. Membuat program jangka pendek tetap dalam bingkai program jangka panjang yang menjadi cita-cita negara dan nilai kemanusiaan-universal dalam era globalisasi.

e. “Kebutuhan Pemerataan” vs “Kebutuhan Bersaing”. Konsep “win-win solution” dalam persaingan. Meskipun demikian, kesenjangan (tidak merata) masih ada.

f. “Kebutuhan Menguasai IPTEK Canggih dengan Cepat” vs “Kemampuan Mencerna yang Rendah dan Peluang yang Sempit”. IPTEK berkembang dengan cepat tetapi SDM masih rendah dan kemiskinan merupakan masalah pelik yang harus dipecahkan.

g. “Kebutuhan Pendekatan Keseragaman dan Otoriter” vs “Kebutuhan Pendekatan Keragaman dan Demokratis”. Sampai akhir abad 20 sistem pendekatan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia didominasi oleh pendekatan keseragaman (etatisme) lengkap dengan kekuasaan birokrasi yang ketat (otoriter). Tuntutan luar negeri dan dalam negeri akan pendekatan yang semakin beragam dan demokratis.

h. “Pendidikan sebagai Proses Pengucilan” vs “Pendidikan sebagai Proses Demokratisasi”. Masyarakat industry yang kapitalis dan materialistis besar kontribusinya pada proses alienasi atau “terkucilkan”. Padahal, pendidikan ditujukan untuk menumbuhkembangkan perilaku/ kepribadian demokratis.

i. “Kebutuhan Moral Spiritual” vs “Kebutuhan Materi”. Oleh karena itu, system pendidikan nasional yang dibutuhkan pada abad mendatang yang tidak hanya mengembangkan kecerdasan IQ, tapi juga EQ, SQ, dan RQ.

D. Simpulan

Dalam buku, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21, Mastuhu berpendapat bahwa UU SPN No. 2 Tahun 1989 sudah “ketinggalan kereta”, sudah tidak mampu lagi melayani tantangan zamannya, baik tantangan internal (kebutuhan dalam negeri) maupun tantangan eksternal (dalam menghadapi tantangan globalisasi). Sistem pendidikan nasional berorientasi pada kepentingan kekuasaan pemerintah yang sedang berkuasa pada waktu itu. Pemerintah “Orde Baru” yang berkuasa selama 32 tahun, dari tahun 1966-1998. Sistem pendidikan nasional ini diselenggarakan dengan manajemen yang sangat sentralis dan seragam lengkap dengan semangat etastism yang sangat kuat berlaku di seluruh pelosok tanah air tanpa menghiraukan keragaman kepentingan, kebutuhan dan kemampuan serta peluang daerah-daerah. Sebaliknya, “Era Reformasi” atau “Era Pasca Orde Baru” menuntut pendidikan yang diselenggarakan secara desentralisasi, lengkap dengan kemandirian dan keterbukaan sesuai dengan keragaman daerah-daerah dan golongan-golongan masyarakat. Oleh karena itu “mind set lama”, yaitu tata piker lama sebagaimana tertuang dalam UU SPN No. 2 Tahun 1989 tersebut, harus diganti dengan “mind set baru”.[13]

Kritik Mastuhu di atas memang lebih diperuntukkan bagi UU SPN No. 2 Tahun 1989. Sejak tahun 2003, Indonesia sudah memiliki UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 sebagai ganti UU SPN No. 2 Tahun 1989. Tetapi, walau pun sudah ada UU Sisdiknas baru, persoalan pendidikan di Indonesia masih saja terjadi, misalnya penyelenggaraan UN, kebijakan RSBI/SBI, Dana BOS, dan lain sebagainya.

Di samping itu, dalam bukunya, Mastuhu memberikan gambaran bagaimana merancang pendidikan bermutu dalam menghadapi era globalisasi. Ada 16 syarat yang setidaknya dilakukan oleh penyelenggara pendidikan bermutu untuk menyongsong masa depan, yaitu: paradigm akademik, tata among, demokrasi pendidikan, akuntabilitas, evaluasi diri, akreditasi, kompetensi, kecerdasan, kurikulum, metodologi pembelajaran, SDM, Dana, Perpustakaan, Laboratorium, dan Alat Pembelajaran, Lingkungan akademik, dan kerja jaringan (network).

Catatan penting dari pemikiran Mastuhu yang sangat relevan dengan perkembangan pendidikan masa sekarang yang menekankan pendidikan karakter, yaitu bagaimana pendidikan masa depan dapat memberikan pelayanan yang mengapresiasi kecerdasan komplit peserta didik, yaitu IQ, EQ, SQ, dan muaranya pada RQ.

Daftar Pustaka

Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2003).

Rose, Colin dan J. Nicholl, Malcolm, Accelerated Learning For The 21st Century, Cara Belajar Cepat Abad XXI, (Bandung: Nuansa, 2002)

W. Gunawan, Adi, Born to be a genius, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003)

http://datakesra.menkokesra.go.id/.../human_developement_index_2011. Diunduh pada Rabu, 6 Juni 2012 jam.11.01 WIB.

http://duniabaca.com/pengertian-dan-karakteristik-agama-samawi-dan-ardhi.html). Diunduh pada Rabu, 6 Juni 2012, jam.11.36 WIB.[1] Immawati Muflicah, S.Ag (NIM. 11913116), adalah Mahasiswa Program Pascasarjana Magister Studi islam Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. review buku menata ulang pemikiran sistem pendidikan nasional dalam abad 21, Prof. Dr. Mastuhu, M.Ed, disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Sistem Pendidikan Islam, dosen pengampu: Hujair ah Sanaky.

[2] http:// datakesra.menkokesra.go.id/.../human_developement_index_2011. Diunduh pada Rabu, 6 Juni 2012 jam.11.01 WIB.

[3] Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Abad 21, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2003), hlm. 36.

[4] Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Abad 21,… hlm. 145.

[5] Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Abad 21,… hlm. 32-33

[6] Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Abad 21,… hlm. 34

[7] Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Abad 21,… hlm. 38

[8] Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Abad 21,… hlm. 38-29

[9] Baca bukunya, Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, Accelerated Learning For The 21st Century, Cara Belajar Cepat Abad XXI, (Bandung: Nuansa, 2002), hlm. 59-60 atau Adi W. Gunawan, Born to be a Genius, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003), hlm. 133-134.

[10] Baca Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Abad 21,… hlm. 66-124

[11] Agama samawi atau disebut juga agama langit, adalah agama yang dipercaya oleh para pengikutnya dibangun berdasarkan wahyu Allah. Beberapa pendapat menyimpulkan bahwa suatu agama disebut agama Samawi jika: Mempunyai definisi Tuhan yang jelas, Mempunyai penyampai risalah (Nabi/Rasul), Mempunyai kumpulan wahyu dari Tuhan yang diwujudkan dalam Kitab Suci. Di dunia ini agama-agama besar yang dianggap agama samawi diantaranya Yahudi, Kristen, Islam. Kebalikan dari agama samawi adalah Agama Ardhi. Misalnya agama budha yang diciptakan Sidharta Gautama, maupun agama-agama yang lain, seperti Hindu, Konghucu, Shinto, dan lain-lain. (http://duniabaca.com/pengertian-dan-karakteristik-agama-samawi-dan-ardhi.html) Diunduh pada Rabu, 6 Juni 2012, jam 11.36 WIB.

[12] Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Abad 21,… hlm. 125-131.

[13] Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Abad 21,… hlm. 146-147

Tags: artikel · Uncategorized

RANCANGAN PENYUSUNAN DESAIN PENELITIAN

July 2nd, 2011 · No Comments


RANCANGAN PENYUSUNAN DESAIN PENELITIAN

Oleh: Hujair AH. Sanaky[1]

A. Rancangan Penelitian

Proposal penelitian merupakan puncak akumulasi kegelisahan dan permasalahan akademik yang dicari pemcahannya oleh si peneliti. Tanpa kegelisahan akademik yang mendalam, proposal yang baik sulit tersusun. Karena itu, penyusunan proposal penelitian tidak dapat disusun secara mendadak.[2] Sebab dalam proposal yang baik, diperlukan kejelasan dan urgensi suatu masalah yang akan diteliti, memiliki kegelisahan akademik, diperlukan ”kerangka teori harus dibangun terlebih dahulu dengan baik oleh peneliti, diperlukan alat untuk membedah dan menganalisis problem akademik yang sedang dihadapi dan ingin dipecahkan”.[3]

Dalam menyusun proposal penelitian, biasanya peneliti menggunakan model atau stantar tertentu. Mengenai isi proposal penelitian, belum ada aturan atau stándar baku tertentu tentang unsur-unsur yang harus ada dalam suatu proposal penelitian. Biasanya tergantung pada institusi (PT), sponsor, pemberi dana, atau pengguna penelitian. Tapi paling tidak, dalam menyusun proposal penelitian, ada 3 unsur yang harus ada dalam suatu proposal penelitian, yaitu: (a) Latar belakang masalah yaitu pemahaman peneliti tentang peta permasalahan yang akan diteliti. (b) Kerangka teori dan telaah pustaka berupa pemahaman peneliti terhadap penelitian terdahulu dan peta teori dan posisi kerangka pikir dalam penelitiannya. (c) Metodologi yaitu pemahaman peneliti tentang cara untuk mencapai tujuan penelitiannya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, dalam penulisan proposal penelitian, yaitu: (a) Gagasan tentang sesuatu topik studi dilakukan dengan alasan-alasan tertentu, tujuan tertentu, pendekatan tertentu, dan metodologi untuk melakukannya. (b) Merupakan puncak akumulasi kegelisahan dan permasalahan akademik yang dicari pemcahannya. Kegelisahan akademik dengan argumen yang jelas dan didukung dengan data dalam setiap pointnya. (c) Ditunjukkan bagaimana masalah itu terintegrasi secara konseptual. (d) Unsur dalam proposal penelitian merupakan satu alur fikir yang logik dan utuh menggambarkan: gagasan, kerangka pikir, masalah, dan cara kerja untuk mencapai tujuan penelitian.

Dalam penyusunan proposal penelitian, peneliti akan berusaha mengungkapkan: (a) Apa yang akan diteliti?, (b) Mengapa masalah itu diteliti?, (c) Bagaimana penelitian itu dilakukan?, (d) Strategi apa yang digunakan dalam penelitian?, dan (e) Kapan setiap stage penelitian itu dilakuka.

Langkah-langkah penulisan proposal, dapat lihat pada diagram arus, sebagai berikut:

Ada hal-hal yang perlu diperhatikan adalah topik penelitian, problem, tujuan penelitian, strategi penelitian, teori, responden, dan pendekatan yang digunakan. Lihat diagram, sebagai berikut ini:

Research Question and Objectives (Norman Blaikie, 2000: 61)

Mely G. Tan, mengemukakan bahwa suatu rencana penelitian dapat dibagi dalam delapan langkah sebagai berikut:

(1) pemilihan persoalan,

(2) penentuan ruang lingkup penelitian,

(3) pemeriksaan tulisan-tulisan yang bersangkutan atau mengkaji penelitian penelitian terdahulu,

(4) perumusan kerangka teori,

(5) penentuan konsep-konsep,

(6) perumusan hipotesis-hipotesis,

(7) pemilihan metode pelaksanaan penelitian, dan

(8) perencanaan sampling.[4]

Dalam penulisan rencana peneltian, unsur-unsur yang lazim digunakan dalam penulisan proposal, adalah:

(1) judul penelitian atau problem penelitian,

(2) latar belakang masalah,

(3) rumusan masalah atau pertanyaan penelitian,

(4) tujuan penelitian,

(5) kegunaan atau manfaat penelitian,

(6) telah pustaka [kajian penelitian-penelitian terdahulu],

(7) kerangka teori,

(8) hipotesisi [jika ada],

(9) metode penelitian [teknik pengambilan data, teknik sampling, variabel penelitian, pendekatan, dan analisis data],

(10) sistematika pembahasan, dan

(11) daftar pustaka sementara.

B. Sistimatika Penulisan Proposal

Proposal penelitian, secara umum terdiri dari bagian awal, bagian pokok, dan bagian akhir:

1. Bagian Awal, berisi:

a) judul penelitian [sampul depan]

b) identitas peneliti.

2. Bagian Pokok, berisi:

a) latar belakang masalah

b) rumusan masalah atau pertanyaan penelitian

c) tujuan penelitian, dan

d) kegunaan penelitian

e) telaah pustaka

f) kerangka teori

g) hipotesis [jika ada]

h) metode penelitian

i) sistimatika pembahasan.

3. Bagian akhir, berisi:

a) daftar pustaka sementara

b) lampiran [bila ada].

Langkah-langkah penulisan proposal penelitian tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut :

a] Judul

[1] Penentuan Judul Penelitian

Dalam memilih dan menentukan judul penelitian, biasanya orang mengalami kesulitan. Mengapa demikian, karena tidak berangkat dari permasalahan atau problem penelitian yang akan diteliti, tetapi langsung menentukan judul.

Mungkin saja kita akan bertanya dari mana saja permasalahan peneltian tersebut. Permasalah penelitian dapat saja diperoleh dari hasil bacaan [buku, koran, majalah, jurnal, hasil-hasil penelitian terdahulu, dll], diskusi-diskusi, forum-forum seminar, fenomena sosial, diskusi dengan seseorang yang ahli, mungkin juga teman, dan intuisi atau ilham sendiri. Maka dari hasil bacaan dan kajian tersebut, baru kemudian merumuskan judul penelitian.

Dalam memilih dan menentukan judul penelitian, biasnya ada persoalan umum yang sering terjadi, yaitu :

[a] redaksi judul tidak jelas dipahami problem konseptualisasi,

[b] cakupan judul terlalu luas dan sangat umum,

[c] judul tidak mengesankan problematika yang dikandung dan penting untuk diteliti,

[d] substansi judul tidak tercermin dalam rumusan masalah [mismacht ].

[2] Syarat Pemilihan Judul Penelitian

Ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan dalam pemilihan judul penelitian, yaitu :

[a] Topik yang akan diteliti harus mengandung masalah dan tidak terlalu luas dan juga tidak terlalu sempit.

[b] Lebih spesifik, menarik, aktual secara akademik dan secara praktis.

[c] Belum banyak diteliti dan dikaji orang lain. Apabila sudah ada penelitian, maka harus mengambil sisi lain atau sisi tertentu dari hasil tersebut.

[d] Formulasi judul dalam kalimat simpel dan mampu menunjukkan dengan jelas atau terlihat secara jelas konsep yang berfungsi sebagai predictor [independent variable] dan konsep yang berfungsi sebagai kriterianya [dependen variable].

[e] Judul dapat menunjukkan problematik yang terkandung di dalam tema yang akan diteliti.

[f] Dapat dibuat judul dengan kalimat ganda kalimat pertama bersifat umum, diikuti dengan ungkapan yang menunjukkan fokus persoalan yang dikaji dan hindari kalimat bersifat bombastis.

[g] Judul, hendaknya ekspressif, menyatakan secara tepat, padat tentang permasalahan, lingkup penelitian, dan terlihat konsep yang bakal dikaji secara emperis.

[h] Bahasanya seekonomis mungkin, tetapi tidak mengaburkan makna spisifik dari konsep yang akn diteliti.

[i] Judul, dibuat seringkas mungkin, tanpa mengaburkan esensi. Jika perlu menggunakan anak judul.

[j] Judul, menggambarkan secara spesifik penelitian yang dilakukan baik objek, lokasi maupun metodenya.

[k] Judul, merupakan rangkaian kata-kata kunci, dan sebaiknya tidak lebih dari 6 - 10 kata.

[l] Judul, tidak menimbulkan interpretasi ganda dan hindari penggunaan kata-kata yang kabur, terlalu politik, bombastis, bertele-tele, dan tidak runtut.

[m] Judul, jangan lebih dari satu kalimat.

[3] Beberapa Contoh Judul Penelitian

[a] Pengaruh Kelengkapan Sarana dan Prasarana Terhadap Pencapaian Tujuan Kurikulum Pendidikan Keguruan Ditinjau dari Kemampuan Lulusan

[b] Perbedaan Antara Orientasi Guru Kelas dan Orientasi Bidang Studi Dalam Kurikulum SPG Terhadap Sikap Calon Guru Mengenai Profesi Mengajar

[c] Efisiensi Program Pendidikan Guru Teknik Titinjau dari Hasil Belajar Mahasiswa pada pembiayaan proyek dan MR rutin

[d] Kosep Kepercayaan Diri Untuk Menumbuhkan Kreativitas Anak Pada Proses Belajar Mengajar ditinjau dari Pendidikan Islam

[e] Dampak Program Siaran Televisi Terhadap Motivasi Belajar Siswa MTs Babadan Baru Dayu Sinduadi Ngaglik Sleman Yogyakarta

[f] Sosok Anak Dalam Buku Totto Chan, Gadis Cilik di Jendela Karya Tetsuko Kuroyanagi Ditinjau Dari Aspek Psikologi Perkembangan Anak [Usia Sekolah Dasar].

[g] Studi Kompetensi Guru Sebelum dan Sesudah Mengikuti Program Diploma Dua [D-2] Dengan Kemampuan Mengajar Di Madrasah Ibtidaiyah [MI] Se Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes.

[h] Nilai-nilai Pendidikan Akhlak dalam Kisah Nabi Yusuf AS

[i] Academics Underground [Studi Terhadap Layanan Biro-biro Bimbingan Skripsi di Daerah Istimewa Yogyakarta [Penelitian Individual Hujair AH. Sanaky, tahun 2007 ].

b] Latar Belakang Masalah

Latar belakang masalah, memuat pemikiran atau alasan yang jelas dan meyakinkan tentang mengapa penelitian itu mesti dilakukan. Dalam penulisan latar belakang peneltian mengungkapkan adanya kesenjangan yang terjadi antara problema dengan teori. Taufik Abdullah, mengatakan bahwa terjadi kesenjangan antara “apa yang seharusnya secara normative harus terjadi” [das sollen] dengan “apa yang tampak dalam kenyataan” [das sein].[5] Artinya, ada perbedaan antara apa yang seharusnya dan apa yang tersedia, antara harapan dan kenyataan. Selain itu, peneliti dapat mengungkapkan apa hendak diteliti, kegelisahan penelitian, indikator-indikator penelitian, dan bagaimana masalah itu dipecahkan.

Dalam penulisan pandahuluan atau latar belakang, biasanya yang ditemui atau terjadi adalah peneliti mengungkap gagasan dan pemikirannya pada latar belakang berpanjang-panjang [melelahkan untuk dibaca] dan belum pula sempat menggiring kata-kata kunci bahwa penelitian dengan judul yang diusulkan itu memang perlu atau bahkan suatu keharusan untuk dikerjakan. Maka, kata Prof. Amin Abdullah, latar belakang proposal skripsi/ tesis/ disertasi itu cukup satu atau dua halaman saja, namun harus memenuhi criteria penulisan latar belakang yang singkat dan padat. Tentu saja, latar belakang atau pendahuluan dalam penulisan proposal skripsi/ tesis/ disertasi, akan merangkum secara singkat garis besar,[6] persoalan yang akan diteliti.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan latar belakang penelitian, yaitu:

1) Beberapa persoalan yang di hadapi dalam latar belakang masalah penelitian adalah:

(a) Pemaparan latar belakang penelitian kurang fokus pada pokok masalah, tapi hanya ke sana ke mari dan kurang menyentuh persoalan yang akan diteliti.

(b) Tidak disertai dengan data-data pendahuluan yang mendukung kepada pentingnya masalah untuk diteliti

(c) Kurang mengelaborasi literatur dan hasil-hasil penelitian terdahulu.

2) Persyaratan Penyusunan Latar Belakang

Beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan untuk penulisan latar belakang masalah penelitian, adalah:

(a) Konteks di seputar soal yang dipermasalahkan, nilainya penting, manfaat, mendesak dan urgen.

(b) Ada kegelisahan dan menarik untuk diteliti dan harapan akan sesuatu seharusnya ada (das sollen dengan kenyataan yang ada das sein ).

(c) Referensi kepustakaan tentang konsep, teori, penemuan penelitian relevan dan diperlukan bantuan persepsi yang dieksplorasi dari kenyataan lapangan.

(d) Bukti yang kuat, penemuan serta teori yang ada masih belum menjawab secara memuaskan tentang permasalahan yang bakal diteliti.

(e) Teori, konsep, penemuan dijadikan kerangka acuan (frame of reference) di dalam mengkonstruksi konsep permasalahan juga perlu ditegaskan.

(f) Pada dasarnya berisikan argumentasi mengapa topik penelitian ini penting untuk diteliti dan bagaimana cara penelitiannya. Penting secara akademik [teoritik] atau penting untuk memecahkan masalah [problem solving] yang dihadapi.

(g) Dibangun dalam argumen yang jelas, di dukung dengan data dalam setiap pointnya dan ditunjukkan bagaimana masalah itu terintegrasi secara konseptual.

(h) Memuat argumen bersifat akademik (review teoritik atau review hasil-hasil penelitian sebelumnya) dan menyertakan alasan-alasan praktis kenapa penelitian ini penting dilakukan.

(i) Proposal harus mampu menunjukkan bahwa masalah-masalah yang diteliti belum pernah dikaji secara serius pada penelitian-penelitian sebelumnya.

(j) Pemaparan latar belakang, dimulai dari gejala yang umum sampai pada yang lebih spesifik.

(k) Berikan gambaran selintas mengenai hasil yang diharapkan dan kerangka waktu pelaksanaannya

(l) Latar belakang berisikan situasi problematik yang memberikan alasan mengapa penelitian tersebut penting untuk dilakukan.

c) Masalah Penelitian

Masalah adalah kesenjangan antara harapan akan sesuatu yang seharusnya ada (das sollen) dengan kenyataan yang ada (das sein). Misalnya saja, kesenjangan antara luapan jumlah lulusan SLTA (das sein) dengan harapan akan kemampuan perguruan tinggi menampung lulusan dari SLTA (das sollen).

Untuk meningkatkan kemampuan melihat suatu masalah yang akan diteliti, peneliti harus berusaha mencari masalah dari sumber-sumber, seperti :

(1) bacaan, kemampuan peneliti untuk membaca penomena, terutama jurnal-jurnal penelitian atau laporan hasil penelitian. Pada umumnya, penelitian ilmiah jarang menjawab permasalahan dengan tuntas.

(2) seminar, diskusi dan pertemuan ilmiah, pada kegiatan ini ada makalah-makalah atau kertas kerja yang mengajukan dan memecahkan permasalahan menurut bidangnya masing-masing dan mungkin saja masalah-maslah tersebut perlu diteliti pula dari segi ilmu yang lain.

(3) pernyataan dari orang yang memiliki otoritas, dalam suatu forum ceramah mungkin saja muncul pernyataan dari seorang ilmuan atau pejabat tinggi. Misalnya, seorang menteri menyatakan ada suatu masalah yang harus dipecahkan. Demikian pula pernyataan ahli-ahli tertentu dalam ceramah atau yang disiarkan melalui media massa mengenai suatu masalah. Mungkin saja, peneliti tergungah untuk menguji kebenaran pernyataan tersebut.

(4) pengamatan sekilas, mungkin saja seorang peneliti melihat suatu gejala yang tidak sehat yang perlu dipecahkan. Maka untuk pemecahan masalah tersebut terlebih dahulu diadakan penelitian. Misalnya, seorang peneliti melihat di daerah tertentu, terdapat banyak anak-anak usia sekolah dasar tidak sekolah walaupun SD Impres sudah ada di tempat itu atau SD-SD ditempat itu sudah bebas biaya sekolah.

(5) pengalaman pribadi, seseorang yang berniat melakukan penelitian mungkin muncul suatu pertanyaan yang mendorongnya untuk dipecahkan. Misalnya, seorang dosen yang telah mengajar beberapa tahun memperhatikan bahwa mahasiswa jurusan keguruan setelah menjadi guru, dalam mengajar kurang menguasai content [materi] bila dibandingkan dengan guru yang bukan berasal jurusan keguruan.

(6) perasaan, intuisi dan ilham, dalam benak seorang peneliti yang berpengalaman tiba-tiba muncul suatu pertanyaan yang mendorong melakukan penelitian. Mungkin saja, pertanyaan itu tiba-tiba ia rasakan ketika sedang santai-santai dengan anggota keluarganya, atau sedang membuat hajat besar, dan sebagainya. Umpamanya, seorang peneliti ketika santai dan berbincang-bincang dengan putra-putranya, memperhatikan putra-putranya yang sedang nonton film horor di satu stasium siaran TV dengan rasa ketakutan. Tiba-tiba mencul dalam pikirannya, ”sejauhman pengaruh tayangan film horor di stasiun siaran TV terhadap perilaku anak”.

Jelas bahwa permasalahan itu penting dan berguna untuk diteliti dan dipecahkan. Tetapi timbul pertanyaan, apakah kita mempunyai keahlian untuk menemukan dan memecahkan masalah tersebut. Tuntutan dalam suatu penelitian, pertanyaan atau permasalahan penelitian harus secara tepat dan akurat menggali apa yang akan diteliti. Tetapi biasanya dalam merumuskan masalah penelitian kurang menggali secara jelas dan tegas tentang apa persoalan yang akan diteliti. Maka peneliti perlu memperhatikan kriteria pemilihan dan pemecahan suatu masalah yang diteliti.

Untuk menentukan pemilihan masalah, ada beberapa kriteri yang harus dipertimbangkan, sebagai berikut :

(1) apakah masalah itu penting, berguna untuk diteliti, dan dipecahkan,

(2) apakah masalah tersebut menarik untuk diteliti dan dipecahkan,

(3) apakah masalah tersebut mampu dipecahkan,

(4) apakah mampu menghasilkan sesuatu yang baru, signifikan, dan untuk menambah pemahanan dan pengetahuan,

(5) apakah tersedia data-data yang cukup dan konsep untuk memecahkan masalah tersebut, dan

(6) permasalah dapat identifikasi dan dibatasi.

Beberapa hal yang diperhatikan ketika rumuskan masalah adalah: (1) diperlukan untuk mempertajam permasalahan yang akan dipecahkan, (2) diperlukan untuk memudahkan pemusatan perhatian pada jawaban yang akan dicari atau dicapai. Maka untuk merumuskan suatu masalah penelitian, perlu memperhatikan beberapa prinsip, sebagai berikut :

(a) Masalah penelitian merupakan elemen penting dalam disain penelitian untuk mempertajam masalah yang akan diteliti.

(b) Masalah penelitian merupakan starting point untuk masuk dalam penelitian yang akan dilakukan dan memudahkan memusatkan perhatian pada jawaban yang akan dicari.

(c) Pertanyaan penelitian merupakan hal yang paling esensial harus dirumuskan dengan jelas dan padat.

(d) Perumuskan masalah dapat disederhanakan dengan tipe: what- why - how untuk membedakan tujuan penelitian yang akan dilakukan. Sebagai contoh apabila pertanyaan dimulai dengan apa (what) sifatnya deskripsi, dan pertanyaan bagaimana (how) ditujukan pada upaya intervensi sebuah perubahan. Pertanyaan mengapa (why) untuk eksplanasi dan seterusnya.

(e) Rumusan pertanyaan dapat dibagi dalam pertanyaan secondary dan sub-secondary. Masing-masing dapat dihubungkan dengan latarbelakang serta konteks penelitian atau untuk mengelaborasi pertanyaan utama.

Selain itu, Karlinger (1986) juga mengemukakan tiga kriteria untuk perumusan masalah penelitian, yaitu :

(a) masalah harus menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih,

(b) masalah harus dinyatakan secara jelas, tanpa meragukan dalam bentuk pertanyaan, dan

(c) masalah harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga dapat diuji secara empirik.

Ada beberapa persoalan umum yang sering ditemukan dalam rumusan masalah penelitian, adalah :

(1) pertanyaan, jarang diungkapkan dalam bentuk pernyataan (statement),

(2) pertanyaan tidak tajam menggali persoalan yang akan diteliti,

(3) pertanyaan terlalu luas menjangkau masalah,

(4) jawaban dari pertanyaan yang diajukan sudah dapat diterka, tanpa harus dilakukan penelitian, dan mismacht dengan judul yang dirumuskan

Dengan demikian, dalam merumuskan masalah penelitian, peneliti dapat mengajukan: (1) pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban dari hasil penelitian, (2) pertanyaan-pertanyaan tersebut, harus memiliki hubungan antara konsep yang tercermin di dalam judul, dan (3) dapat diajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat umum.

d) Tujuan Penelitian

Dalam merumuskan tujuan penelitian, penelti harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) Tujuan dinyatakan secara tegas dan konkrit tentang hal-hal yang ingin diketahui dari hasil penelitian tersebut. (2) Perumusan tujuan, jangan mengulangi statmen rumusan masalah. (3) Tujuan penelitian pada dasarnya merupakan hal spesifik yang diinginkan dari kegiatan penelitian berdasarkan rumusan masalah. (4) Apa yang diperoleh dari penelitian tersebut harus ada konsistensi antara rumusan masalah, tujuan penelitian, dan kesimpulan.

Maka dalam merumuskan tujuan penelitian, paling tidak ada 8 [delapan] tujuan dalam penelitian yang harus diperhatikan, yaitu:

(1) To Explore, yaitu pengembangan awal untuk mencari gambaran kasar atau mencari pemahaman tentang fenomena sosial yang belum diketahui sebelumnya.

(2) To Describe, yaitu untuk menggambarkan realitas sosial dan pendidikan secara apa adanya atau melakukan pengukuran yang cermat terhadap fenomena sosial dan pendidikan tertentu termasuk keajegan-keajegan sosial dan pendidikan yang ada. peneliti mengembangkan konsep atau teori,tetapi tidak melakukan pengujian hipotesis.

(3) To Understand, yaitu untuk memahami fenomena sosial dan pendidikan secara mendalam termasuk menentukan alasan-alasan dari tindakan sosial yang ada.

(4) To Explain, yaitu untuk menjelaskan hubungan kausal dari fenomena sosial dengan mengembangkan pengujian hipotesis.

(5) To Predict, yaitu untuk melakukan dugaan kejadian tertentu dimasa mendatang. setelah melakukan pemahaman dan penjelasan atas fenomena sosial tertentu sebagai landasan postulatnya.

(6) To Change, yaitu untuk melakukan intervensi sosial, seperti membantu partisipasi

(7) To Evaluate, yaitu untuk memonitor program intervensi sosial atau menilai apakah program yang telah ditetapkan sesuai dengan outcome yang telah direncanakan dan membantu memecahkan masalah dan membuat kebijakan

(8) To Acses Social Impact, yaitu untuk mengindentifikasi kemungkinan konsekuensi/ dampak sosial-kebudayaan dari pelaksanaan proyek, perubahan teknologi atau kebijakan tindakan pada stuktur sosial, proses sosial dan sebagainya. Contoh :

(a) apabila perumusan masalah dimulai dengan what, tujuannya to explore atau to describe.

(b) apabila perumasan masalah dimulai dengan why, tujuan to explain dst.

e) Kegunaan Penelitian

Dalam merumuskan kegunaan penelitian, paneliti harus menyatakan apa kegunaan hasil penelitian yang dilakukan, sebagai berikut :

(1) Dinyatakan manfaat-manfaat dari penemuan yang bakal dihasilkan oleh peneliti, untuk dapat ”memberikan masukan bernilai ilmiah, informasi yang bermanfaat, memperkaya khazanah kepustakaan”.[7]

(2) Kontribusi teoritis keilmuan dan juga segi kontribusi praktisnya bagi pengambilan kebijakan.

(3) Hasil yang ditawarkan betul-betul berdasarkan keyakinan karena diperlukan dan hal serupa belum diajukan pihak lain. Karena itu tawaran ini harus diajukan berdasarkan informasi yang lengkap bahwa tawaran tersebut betul-betul akan bermanfaat.

(4) Kegunaan ini dirumuskan secara spesifik sesuai dengan [seukuran] problem yang akan dipecahkan/dijawab.

f) Telaah Pustaka

Telaah pustaka ini dilakukan dengan mengkaji hasil-hasil penelitian terdahulu/survey literatur (prior research on topic)[8] yang terkait dengan penelitian yang sedang dilakukan berupa skripsi, tesis, disertasi, kajian buku, jurnal dan lain-lain. Tujuannya, selain untuk mengkaji penelitian terdahulu yang relevan dan terkait langsung dengan persoalan yang akan diteliti, dipecahkan, dan juga untuk menghindari duplikasi penelitian yang sedang dilakukan dengan hasil-hasil penelitian terdahulu.

Biasanya dalam penulisan ”telaah pustaka” dikaburkan atau bahkan disamakan dengan ”kerangka teori”. Padahal keduanya berbeda, katakan saja ”telaah pustaka” adalah mengkaji hasil-hasil penelitian terdahulu dan buku-buku yang relevan dan terkait dengan penelitian akan dilakukan, dengan tujuan menghindari duplikasi penelitian dan juga untuk memposisikan penelitian yang akan dan sedang dilakukan. Sedangkan kerangka teori” adalah kajian teori-teori atau serangkaian konsep, definisi, dan proposisi yang saling berkaitan dan bertujuan untuk memberikan gambaran sistematis tentang suatu fenomena yang akan digunakan untuk menggas penelitian yang akan dilakukan.

Misalnya, untuk mengukur keberhasilan pendidikan, dikenal konsep: kualitas kurikulum, kualitas proses pembelajaran, kualitas lulusan [output], lulusan diserap pasar, dll. Untuk memahami mengapa mesin politik gagal menghantarkan Amin Rais menjadi Presiden, dengan perspektif teori bureaucratic polity dari Karl D Jackson, teori patronclient dari Wertheim, atau teori ekonomi politik dari Richard Robinson, dan sebagainya. Inilah yang disebut dengan kerangka teori, sehingga substansinya berbeda dengan ”telaah pustaka” atau kajian hasil-hassil penelitian terdahulu dan buku-buku yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan.

Selain sulit membedakan antara ”telaah pustaka” dan ”kerangka teori”, yang sering terjadi dalam penulisan telaah pustaka, adalah:

(1) Ketika mengkaji studi pustaka, peneliti menyebutkan semua judul-judul penelitian terdahulu dan buku, tanpa menjelskan apa isi penelitian dan buku tersebut yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan. Seringkali pula penulis proposal juga salah kaprah dengan istilah survey literatur, karena kemungkinan buku apa saja yang dapat diakses dan dibaca dimasukkan atau mungkin saja dipaksa masuk kepenulisan proposal. Padahal sebenarnya bukanlah demikian, karena hasil penelitian dan buku yang dibaca adalah yang terkait dan relevan dengan masalah penelitian yang akan dilakukan. Untuk menjaga salah kaprah dalam penulisan telaah pustaka, Prof. M. Amin Abdullah, menggunakan istilah prior research on topic, artinya istilah ini mengandung makna bahwa tidak semua buku yang dibaca harus masuk ke dalam penulisan ”telaah pustaka”, tetapi hanya hasil-hasil penelitian terdahulu dan buku-buku yang relevan dan terkait sajalah yang perlu dipertimbangkan secara cermat.

(2) Sering kali, penulis proposal tidak menyebutkan karya-karya yang sudah dikerjakan orang lain, seolah-olah dirinyalah yang paling pertama mengerjakan materi yang dibahas itu [fioner]. Bahkan ada yang hanya menyebutkan satu karya saja, dan kemudian berani menyatakan bahwa ”masalah penelitian ini” belum diteliti atau belum dikaji orang lain, sehingga penelitian yang dilakukan ini ”orsinil”. M. Amin Abdullah, menceritakan ketika menguji tesis yang mengutip hampir 15 halaman dari buku M. Amin Abdullah, tetapi penulis tesis tersebut tanpa menyebut sumber buku dan penulisnya. Inilah yang dikatakan ketidak jujuran ilmiah atau ketidak jujuran intelektual.[9]

(3) Selanjutnya M. Amin Abdullah, juga mengatakan bahwa: [a] apabila ternyata sudah ada yang menulis dengan hasil yang sama, maka batallah kajian hipotesis yang sedang dikerjakan itu, meskipun pada hakekatnya tidak menjiplak. Apalagi kalau jelas-jelas menjiplak. [b] tidak mengakui karya orang lain yang berarti ketidak jujuran, dan [c] tidak tahu karya orang lain berarti kekosongan teoritis dan kemiskinan pustaka[10] atau juga kekurangan membaca.

g) Kerangka Teori

Teori yaitu konsep yang digunakan untuk mengkritisi permasalahan penelitian. Teori adalah serangkaian konsep, definisi, dan proposisi yang saling berkaitan dan bertujuan untuk memberikan gambaran sistematis tentang suatu fenomena (sosial). Teori mengandung tiga hal, yaitu :

Pertama : teori serangkaian proposisi antara konsep-konsep yang saling berhubungan.

Kedua : teori menerangkan secara sistematis suatu fenomena sosial dengan cara menentukan hubungan sosial antara konsep.

Ketiga : teori menerangkan fenomena tertentu dengan cara menentukan konsep mana yang berhubungan dengan konsep lainnya dan bagaimana bentuk hubungannya.[11] Kemudian, pembahasan lebih rinci dari kerangka teori ini, akan dijelaskan pada bagian ke ketiga yang khusus membahas kerangka teori.

h) Metode Penelitian

Metode penelitian yang diguanakan dalam penelitian, sangat tergantung pada macam penelitian yang akan dilakukan serta maksud dan tujuan yang ingin dicapai. Langkah-langkah yang dilakukan adalah pertama dimulai dengan sumber data. Kedua, teknik pengumpulan data, pendekatan, hipotesis, populasi dan sampel, variabel, teknik analisis data dan laporan penelitian, sebagai berikut:

(1) Penentuan jenis penelitian, apakah penelitian masuk kategori penlitian pustaka (library research) atau penelitian lapanagan (penelitian kancah, field research), atau penelitian kuantitatif dan kualitatif.

(2) Sumber data berupa: (1) data primer (yang menjadi andalan utama atau yang sangat berkaitan), dan (2) data sekunder (sebagai data pendukung atau suplemen).

(3) Teknik pengambilan data yang dapat digunakan, yaitu: (1) angket, (2) interview, (3) wawancara, (4) observasi, (5) test, (6) studi literatur, dan sebagainya. Sering dijumpai dalam penulisan proposal penelitian, semua teknik pengambilan data ini disebut satu persatu, seakan-akan seperti sedang menulis buku metodologi penelitian, padahal yang dimaksud adalah teknik pengambilan data apa “yang paling tepat” digunakan untuk mengumpulkan data penelitian sesuai dengan permasalah penelitian tersebut.

(4) Pendekatan yang digunakan berupa: pendekatan filsafat, histories, sosiologi, antropologi, yuridis, agama, pendidikan, dan lain-lain. Pendekatan yang digunakan sesuai dengan permasalah penelitian yang ingin dipecahkan.

(5) Hipotesis (jika ada atau bagi penelitian yang menggunakan hipotesis).

(6) Populasi dan Sampel penelitian, yaitu menentukan populasi, sampel, dan kemudian tentik penentuan sampel (secara khusus akan dijelaskan pada bagian populasi dan sampel).

(7) Variabel penelitian (akan dijelaskan pada bagian variable penelitian).

(8) Teknik analisis data, dapat dilakukan dengan analisis kuantitatif dan atau analisis kualitatif, tergantung sifat dan jenis penelitian.

Metode mana yang akan dipakai dan dinilai paling tepat, sangat tergantung pada macam dan tujuan penelitian yang ingin cipai. Misalnya saja, kita kenal penelitian yang bersifat eksploratif-menjelajah yang bertujuan untuk memperdalam pengetahuan mengenai suatu gejala tertentu atau mendapatkan ide-ide baru mengenai gejala itu dengan maksud untuk merumuskan masalahnya secara terperinci atau untuk mengembangkan hipotesis. Penelitian diskriptif yang bertujuan menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala, kelompok tertentu, menentukan frekuensi, penyebaran suatu gejala tertentu. Penelitian explanatory (menerangkan) yang bertujuan menguji hipotesis-hipotesis tentang adanya hubungan sebab akibat antara berbagai variabel yang diteliti.

Setelah mengetahui macam-macam penelitian tersebut. Pertanyaannya, bagaimana cara mengumpulkan data, katakan saja untuk ketiga macam penelitian tersebut, bagaimana cara mengolah data-data tersebut, bagaimana cara mendeskripsikannya, menganalisisnya, dan menyimpulkannya. Untuk penelitian yang bersifat eksploratif misalnya, teknik pengumpulan data melalui wawancara terbuka yang memberikan keleluasan bagi penjawab untuk memberi pandangan secara bebas. Untuk penelitian yang bersifat deskriptif dapat menggunakan data kualitatif. Penelitian yang bersifat explanatory [menerangkan] dapat menempuh cara eksperimen seperti keadaan dalam laboratorium ilmu eksakta dan dapat pula berbentuk perbandingan sistematis atau dapat disebut dengan studi komporatif.[12]

Setelah itu menentukan teknik analisis. Peneliti harus menentukan kerangka dan pola analisis mana yang akan digunakan, apakah analisis statistik atau analisis nonstatistik. Pemilihan teknik analaisis sangat tergantung pada jenis data yang dikumpulkan. Analisis statistik dengan data kuantitatif atau data yang dikuantifikasikan, yaitu data dalam bentuk bilangan. Sedangkan analisis nonstatistik sesuai untuk data deskriptif atau data textuar. Untuk data yang bersifat deskriptif sering hanya dianalisis menurut isinya dan karena itu disebut juga analisis isi (content analysis).[13]

i) Sistimatika Pembahasan

Dalam penyusunan sistematika pembahasan biasa tidak dapat dibedakan dengan daftar isi. Penyususn sistematika pembahasan, memuat atau menjelaskan hal-hal sebagai berikut :

(1) Memuat alasan atau rasionalisasi penyusunan bab dan isi bab.

(2) Keterkaitan antara bab yang satu dengan bab yang lain.

(3) Penulisan sistematika pembahasan, tidak seperti menampilkan atau memindahkan daftar isi. Hal ini sering ditemui dalam penulisan sistimatika pembahasan pada skripsi maupun tesis mahasiswa.

(4) Penulisan sistimatika pembahasan adalah semacam ulasan terhadap bab per-bab, sehingga memudahkan orang memahami arah penulisan.

Jadi, dalam penulisan sistematika pembahasan, ”yang terpokok adalah logical sequence (urut-urutan logik) dari penulisan dan bentuk urut-urutan logik bisa bermacam-macam”.[14]

j) Daftar Pustaka dan Kutipan

Dafatr pustaka adalah referensi yang digunakan berupa buku-buku, jurnal, hasil penelitian, internet, surat kabar, majalah, dan lain-lain, yang digunakan dalam penulisan. Daftar pustaka yang memuat semua acuan/buku/referensi yang telah digunakan.

Kutipan adalah sumber pengambilan dari buku, jurnal, hasil-hasil penelitian, internet, surat kabar, majalah, pidato, dan lain-lain.

1] Penulisan Kutipan

Teknik penulisan kutipan, ada yang menggunakan [1] catatan kaki [footnotes], dan Ibid, Op.Cit, Loc.Cit, [2] bodynotes, dan [3] in-notes.

a] Penulisan Catatan Kaki [Footnotes]

Teknik penulisan catatan kaki terdapat berbagai versi, sesuai dengan standar yang ditentukan oleh suatu instituti perguruan tinggi maupun lembaga-lembaga penelitian. Penjelasan tentang stantar penulisan catatan kaki disini, yaitu standar yang dipahami dan digunakan penulis dalam penulisan buku maupun penelitian.

[1] Rujukan Berupa Kitab Suci

[a] Al-Qur’an

Apabila mengutip ayat-ayat al-Qur’an, penulisan catatan kakinya, adalah : [1] Nama surat, yang didahului singkatan QS [al-Qur’an Surat], [2] nomor surat, diletakkan dalam tanda kurung, [3] nomor ayat sesudah titik dua, dan [4] titik.

Contoh :

1QS. Al-Baqarah (2):5.

[b] Bibel

Apabila mengutip ayat-ayat Bibel, penulisan catatan kaknya adalah : [1] Nama kitab atau pengarang kitab, [2] Nomor pasal sesudah tanda koma, [3] Nomor ayat sesudah titik dua, dan [4] Titik.

Contoh :

2Matius, 24:3.

[2] Rujukan Berupa Buku

Nama lengkap [tanpa gelar dan tanpa dibalik], judul buku, [tempat terbit, nama penerbit, tahun terbit], halaman. Contoh:

3Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam: Membangun Masyarakat Madani Indonesia, (Yogyakarta : Safiria Insania Press dan MSI, 2003), hal. 200.

[3] Rujukan dari Internet

Nama lengkap [tanpa gelar], judul tulisan, dikutip dari [from]: http://202.159.18.49/ isipekerti1. htm, acses, 20/ 10/ 2003]. Contoh:

4Muhammad, “Ekonomi Islam: Redefinisi Sistem, Ilmu dan Metodologi”, dikutip dari http://www.msi-uii.net/-artikel1108/acses 29 Oktober 2004.

[4] Penyusun adalah Penghimpun

Apabila penyusun adalah penghimpun, maka dalam penulisan catatan kaki ditulis pengh. Dalam tanda kurung dan jika sealigus penterjemah, ditambah pen. Contoh:

5Chaidir Ali, (pengh], Yurisprudensi Hukum Perdata Islam di Indonesia, Cet.I (Bandung: P.T. Al-Ma’arif), hlm. 6.

[5] Penyusun lebih dari seorang

Apabila penyusun ada dua orang, mana nema kedua penyusun tetap ditulis dengan diberi kata penghubungan ”dan”. Apabila penulis lebih dari dua orang, cukup menulis nama penyusun pertama saja dan nama lain diganti dengan dkk [singkatan dari dan kawan-kawan]. Contoh :

6Amir Mu’allim dan Ysdani, Ijtihad Suatu Kontroversi antara Teori dan Fungsi, cet.I (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1997), hlm.10.

7Hujair AH. Sanaky dkk, Academics Underground, (Yogyakarta: DPPM UII, 2008), hlm. 25.

[6] Sumber Pidato

Apabila mengutip pidato, harus disebutkan dalam catatan kaki acara dan tanggal pidatonya. Contoh: Dalam teks tesis ditulis: Menurut Mentri Agama, pengiriman dosen IAIN ke luar negeri itu tujuannya untuk memperdalam metodologi ilmiah8 Penulisan catatan kaki :

8Pidato disampaikan dalam acara Briefing dengan Jajaran Kanwil Depag DIY dan IAIN, tanggal 1 Februari 1988.

[7] Penulisan : Ibid, Op.Cit, Loc.Cit

Dalam penulisan catatan kaki juga dikenal dan digunakan ibid, op.cit, dan loc.cit. Ada juga tidak menggunakan op.cit dan loc.cit, tetapi langsung menulis nama pengarang, judul buku, dan halaman.

[a] Penulisan Ibid,

Ibid, kependekan dari ibidem = “pada tempat yang sama”, dipakai apabila suatu kutipan diambil dari sumber yang sama dengan yang langsung mengdahuluinya, dengan tidak disela oleh sumber lain. Maka boleh dipakai ibid, walaupun di antara kedua kutipan itu terdapat beberapa halaman.[15] Contoh :

1Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam: Membangun Masyarakat Madani Indonesia, (Yogyakarta : Safiria Insania Press dan MSI, 2003), hal. 200

2bid.

3Ibid, hal.205

4Ibid, hal.205 – 207

5Imam Syafi’ie, Konsep Guru Menurut Al-Ghazali; Pendekatan Filosofis Pedagogis, Cet.1 (Yogyakarta: Duta Pustaka,1992), hal.16.

Ibid tidak boleh dipakai, apabila di antara sumber itu terdapat sumber yang lain. Maka dalam hal ini yang dipakai adalah op.cit, dan loc.cit.

[b] Penulisan Op.Cit

Op.Cit [Opere Citato], “dalam karangan yang telah disebut” dipakai utnuk menunjuk kepada suatu buku yang telah disebut sebelumnya dengan lengkap pada halaman lain dan telah diselingi oleh sumber-sumber lain.[16] Contoh:

6Hujair AH. Sanaky,dkk., Meraih Suskses di Perguruan Tinggi (Yogyakarta: UII Press, 2003), hal. 4

7Ibid, hlm. 203.

8Imam Syafi’ie, Konsep Guru Menurut Al-Ghazali; Pendekatan Filosofis Pedagogis, Cet.1 (Yogyakarta: Duta Pustaka,1992), hal.16.

9Hujair AH. Sanaky, op.cit, hlm. 5.

[c] Penulisan Loc.Cit

Loc.Cit [ Loco Citato ] mengutip pada halaman yang sama pada buku yang sama – tetapi sudah diselingi oleh buku-buku yang lain. prosedur penulisannya: menuliskan nama akhir pengarang, loc.cit. [diberi bergaris atau dimiringkan] dan tidak perlu di beri nomor halaman, sebab dengan sendirinya sama dengan halaman buku yang telah disebut sebelumnya.[17]

Contoh :

10Hujair AH. Sanaky, Media Pembelajaran, (Yogyakarta : Safiria Insania Press dan MSI, 2008), hal.100

11Imam Syafi’ie, Konsep Guru Menurut Al-Ghazali; Pendekatan Filosofis Pedagogis, Cet.1 (Yogyakarta: Duta Pustaka,1992), hal.16.

12R.F. Beerling, Filsafat Desa Ini, [Jakarta: Balai Pustaka, 1951], hal. 23.

13Hujair AH. Sanaky, Loc.cit.

Sering dijumpai pada penulisan buku, makalah, artikrl, maupun laporan penelitian, ada yang tidak menggunakan penulisan op.cit maupun loc.cit. Sebagai Contoh:

14Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam: Membangun Masyarakat Madani Indonesia, (Yogyakarta : Safiria Insania Press dan MSI, 2003), hal. 200

15Imam Syafi’ie, Konsep Guru Menurut Al-Ghazali; Pendekatan Filosofis Pedagogis, Cet.1 (Yogyakarta: Duta Pustaka,1992), hal.16.

16R.F. Beerling, Filsafat Desa Ini, [Jakarta: Balai Pustaka, 1951], hal. 23.

17Hujair AH. Sanaky,Paradigma Pendidikan,hlm. 250.

b] Penulisan Bodynotes dan in-notes

Ada juga yang menggunakan penulisan kutipan dengan teknik bodynotes. Artinya kutipan dimasukkan ke dalam teks yang ditulis. Prosedur dan cara penulisannya, sebagai berikut:

[1] Nama pengarang secara lengkap, tanpa gelar.

[2] Setelah nama pengarang diberi koma [ , ]

[3] Setelah koma [,] dituliskan tahun penerbit,

[4] Setelah tahun penerbit diberi titik dua [:],

[5] Setelah titik dua [:] dituliskan halaman.

Contoh :

Tentu saja, latar belakang atau pendahuluan dalam penulisan proposal skripsi/ tesis/ disertasi, akan merangkum secara singkat garis besar [M.Amin Andullah, 2005:19] persoalan yang akan diteliti.

Sedangkan yang menggunakan in-notes, angka kutipan tetap diletakan dalam teks, tetapi tidak seperti footnotes. Catatan kaki diletakan dibagian belakang setelah pembahasan satu bab atau setelah keseluruhan bab per-bab, baru dituliskan kutipannya.

Contoh:

Tentu saja, latar belakang atau pendahuluan dalam penulisan proposal skripsi/ tesis/ disertasi, akan merangkum secara singkat garis besar1 persoalan yang akan diteliti. Kemudian kutipan angka 1 dan seterusnya dituliskan setelah satu bab atau satu topik bahasan selesai atau keseluruhan bab per bab selesai. Tetapi yang lebih banyak digunakan adalah setelah satu bab selesai atau satu topik bahasan selesai.

2] Penulisan Daftar Kepustakaan

Ketentuan dan prosedur penulisan daftar kepustakaan, dalam penulisan karya ilmiah, sebagai berikut:

a] Prosedur Penulisan Kepustakan:

(1) Tidak menggunakan nomor urut.

(2) Penulisan menggunakan urutan abjat atau alfabet.

(3) Penulisan nama belakang dulu diberi koma, baru nama depan, tahun terbut, judul buku, tempat terbit, penerbit.

b] Teknik Penulisan Daftar Kepustakaan

(1) Buku

Nama [tanpa gelar] nama akhir, baru nama awal, tahun terbit, judul buku. tempat terbit: nama penerbit.

(2) Internet

Nama [tanpa gelar] nama akhir baru nama awal, judul tulisan. from: http://202.159.18.49/isipekerti1. htm, acses,20/10/2003].

(3) Contoh penulisan daftar kepustakaan:

Sanaky, Hujair AH, 2003, Paradigma Pendidikan Islam: Membangun Masyarakat Madani Indonesia, Yogyakarta, Safiria Insania Press dan MSI.

Hamzah Suleiman, Amir, 1985, Media Audio-Visual Untuk Pengajaran, Penerangan dan Penyuluhan, Jakarta, PT. Gramedia.

Teda Ena, Ouda, Membuat Media Pembelajaran Interaktif dengan Piranti Lunak Presantasi, From: http:// www. ialf.edu/kipbipa/ papers/ Ouda TedaEna.doc, acses, 20/10/2003]


[1] Hujair AH. Sanaky, Dosen tetap Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.

[2] M. Amin Abdullah, Metodologi Penelitian dalam Pengembangan Studi Islam, dalam Dudung Abdurrahman (editor), Metodologi Penelitian Agama, Pendekatan Multidisipliner (Yogyakarta: Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga, 2006), hlm. 3.

[3] Ibid. hlm. 4

[4] Mely G. Tan, “Masalah Perencanaan Penelitian” dalam Koentjaraningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: Cet.V, Gramedia, 1983), hlm. 14.

[5] Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian , (Jakarta: RajaGrafindo Persada, cet.VIII, 1994), hlm.60

[6] M.Amin Andullah, 2005, Metodologi Penelitian untuk Pengembangan Studi Islam: Perspektif Delapan Poin Sudut Telaah, Relegi Jurnal Studi Agama-Agama, Vo.IV, No. 1, Januari 2005, hlm. ISSN: 1412-2634,hlm.19

[7] M.Amin Abdullah, 2005,Metodologi Penelitian untuk Pengembangan Studi Islam, hlm. 24.

[8] Ibid, hlm. 21.

[9]M.Amin Abdullah, 2005, Metodologi Penelitian untuk Pengembangan Studi Islam, hlm.21

[10] Ibid.

[11] Singarimbun & Effendi,1989, Metode Penelitian Survai, hlm. 37.

[12] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, Cetakan Kesembilan, 2004), hlm. 188.

[13] Ibid.hlm. 189.

[14] M.Amin Abdullah, 2005, Metodologi Penelitian untuk Pengembangan Studi Islam, hlm.25.

[15] S. Nasution dan M. Thomas, 1985:48.

[16] S. Nasution dan M. Thomas, 1985:48.

[17] Ibid. hlm. 49.

Tags: artikel · Uncategorized

ALIRAN ALIRAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

June 29th, 2011 · No Comments

MAKALAH DISKUSI

ALIRAN ALIRAN PENDIDIKAN

ISLAM DI INDONESIA

Materi Kuliah Pengantar Pendidikan Islam

Dosen Pengampu:

Drs. Hujair AH. Sanaky, MSI

Disusun oleh :

Wahyuddin usman

PROGRAM PASCA SARJANA (S2)

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

YOGYAKARTA

2010

A. PENDAHULUAN

Kondisi perkembangan abad terkini menghendaki adanyanya suatu sistim pendidikan yang kompreshensif dan representative. Karena perkembangan masyarakat dewasa ini menghendaki adanya pembinaan yang dilaksanakan secara seimbang antara nilai dan sikap, pengetahuan, kecerdasan,ketrampilan dan kemampuan berkomunikasi.

Telah beredar pemahaman di kalangan masyarakat tentang adanya dualisme pendidikan, yaitu lembaga pendidikan yang disebut sekolah umum dan lembaga pendidikan yang disebut madrasah atau perguruan agama. Meskipun dikotomi menjadikan pendidikan islam terbelah tetapi bagaimanapun konsep filosofis pendidikan islam, adalah berpangkal tolak pada hablun min Alloh dan hablun minannas juga hablun min al alam hubungan manusia dengan alam sekitarnya.

Pendidikan merupakan sistem dan cara meningkatkan kualitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan manusia. Dalam sejarah umat manusia, hampir tidak ada kelompok manusia yang tidak mengunakan pendidikan sebagai alat pembudayaan dan meningkatkan kualitasnya,sekalipun dalam masyarakat yang masih terbelakang.

Pendidikan merupakan bagian terpenting dari kehidupan manusia yang sekaligus membedakan manusia dengan hewan. Hewan juga ”belajar”, tetapi lebih ditentukan oleh instink, sedangkan bagi manusia, belajar berarti rangkaian kegiatan menuju pendewasaan guna menuju kehidupan yang lebih berarti. Oleh karena itu berbagai pandangan yang menyatakan bahwa pendidikan itu merupakan proses budaya untuk mengangkat harkat dan martabat manusia dan berlangsung sepanjang hayat. Apabila demikian, maka pendidikan memegang peranan exixtensi dan perkembangan manusia, karena pendidikan merupakan usaha melestarikan dan mengalihkan serta menstransformasikan nilai nilai kebudayaan dalam segala aspeknya dan jenisnya kepada generasi penerus, untuk mengangkat harkat dan martabat manusia.

Mengingat pendidikan merupakan kebutuhan penting bagi setiap manusia, Negara, maupun pemerintah, maka pendidikan harus selalu di tumbuh kembangkan secara sistematis oleh para pengambil kebijasanaan yang berwenang di republik ini. Berangkat dari kerangka ini, maka upaya pendidikan disuatu bangsa selalu memiliki hubungan yang siknifikan dengan rekayasa bangsa tersebut di masa datang, sebab pendidikan selalu dihadapkan pada perubahan baik perubahan zaman maupun perubahan masyarakat. Oleh karena itu, mau tidak mau pendidikan harus didesain mengikuti irama perubahan tersebut, kalau tidak pendidikan akan ketinggalan zaman.

B. PERMASALAHAN

Pada awalnya metode pendidikan islam dilaksanaan secara informal. Sebagai mana dalam sejarah perkembangan pendidikan islam tersebar lewat perantara para pedagang sekaligus mereka juga berda’wah menyampaikan ajaran ajaran islam. Dalam setiap perdagangan yang mereka lakukan setiap ada kesempatan mereka memberikan pendidikan dan ajaran agama islam.

Didikan dan ajaran islam mereka berikan denga perbuatan, dengan contoh dan tiru tauladan. Sopan santun ikhlas amanah jujur adil menghormati adapt istiadat, dengan demikian tertariklah penduduk negeri hendak memeluk agama islam. System pendidikan islam informal ini, terutama yang berjalan dalam lingkungan keluarga sudah diakui kemapuannya dalam menanamkan sendi sendi agama dalam jiwa anak-anak. Anak-anak dididik dengan ajaran agama sejak kecil dalam keluarganya.

Sementara usaha-usaha pendidikan agama di masyarakat, yang kelak dikenal dengan pendidikan non formal, ternyata mampu menyediakan kondisi yang sangat baik dalam menunjang keberhasilan pendidikan islam dan memberi motifasi yang kuat bagi umat islam untuk menyelengarakan pendidikan agama yang lebih baik dan lebih sempurna.

Tapi era terkini berkata lain berbagai corak model pendidikan menjadi terbelah dengan berbagai alirannya. Banyak pakar pendidikan mengklasifikasikan sebagai mana yang akan sedikit dikaji sebagai berikut.

C. PEMBAHASAN

Aliran-aliran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena setiap kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda keturunannya yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya. Di dalam kepustakaan tentang aliran-aliran pendidikan, pemikiran-pemikiran tentang pendidikan telah dimulai dari zaman Yunani kuno sampai kini. Oleh karena itu bahasan tersebut hanya dibatasi pada beberapa rumpun aliran klasik.

Aliran-aliran klasik yang dimaksud adalah aliran empirisme, nativisme, naturalisme, dan konvergensi. Sampai saat ini aliran aliran tersebut masih sering digunakan walaupun dengan pengembangan-pengembangan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.

1.     Aliran-aliran Klasik dalam Pendidikan dan Pengaruhnya Terhadap Pemikiran Pendidikan di Indonesia.

a.   Aliran Empirisme

Aliran empirisme bertolak dari Lockean Tradition yang mementingkan stimulasi eksternal dalam perkembangan manusia, dan menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung kepada lingkungan, sedangkan pembawaan tidak dipentingkan. Pengalaman yang diproleh anak dalam kehidupan sehari-hari didapat dari dunia sekitarnya yang berupa stimulan-stimulan. Stimulasi ini berasal dari alam bebas ataupun diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk pendidikan. Manusia dapat dididik menjadi apa saja (kearah yang baik atau kearah yang buruk) menurut kehendak lingkungan atau pendidik-pendidiknya. Dengan demikian pendidikan diyakini sebagai sebagai maha kuasa bagi pembentukan anak didik. Karena pendapatnya yang demikian, maka dalam ilmu pendidikan disebut juga Aliran Optimisme Paedagogis. Tokoh perintisnya adalah John Locke.

b.   Aliran  Nativisme

Aliran Nativisme bertolak dari Leinitzian Tradition yang menekankan kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan termasuk faktor pendidikan, kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Hasil prkembangan tersebut ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperoleh sejak kelahiran. Lingkungan kurang berpengaruh terhadap dan pendidikan anak. Nativisme berkeyakinan bahwa pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaaan. Dengan demikian menurut mereka pendidikan tidak membawa manfaat bagi manusia. Karena keyakinannya yang demikian itulah maka mereka di dalam ilmu pendidikan disebut juga aliran Pesimisme Paedagogis. Tokoh aliran ini adalah Schopenhaeur seorang filosof bangsa jerman.

c.   Aliran Naturalisme

Aliran ini dipelopori oleh J.J Rosseau. Rosseau berpendapat bahwa semua anak baru dilahirkan mempunyai pembawaan BAIK. Pembawaan baik akan menjadi rusak karena dipengaruhi lingkungan. Pendidikan yang diberikan orang dewasa malah dapat merusak pembawaan baik anak itu.

d.   Aliran Konvergensi

Aliran Konvergensi dipelopori oleh Wlliam Stern, ia berpedapat bahwa seorang anak dilahirkan di dunia sudah disertai pembawaan baik maupun pembawaan buruk. Proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama sama mempunyai peranan sangat penting. Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan sesuai untuk perkembangan anak itu.

Kedua-duanya (pembawaan dan lingkungan) mempunyai pengaruh yang sama besar bagi perkembangan anak. Pendapat ini untuk pertama kalinya dikemukakan oleh William Stern. Pendapat ini semua bermaksud menghilangkan pendapat berat sebelah dari aliran nativisme dan empirisme dengan mengkombinasikannya. Pada mulanya pendapat ini diterima oleh banyak orang karena mampu menerangkan kejadian-kejadian dalam kehidupan masyarakat. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya banyak orang yang berkeberatan dengan pendapat tersebut dan mengatakan kalau perkembangan manusia itu hanya ditentukan oleh pembawaan dan lingkungan, maka hal ini tak ubahnya kehidupan hewan. Sebab hewan itu pertumbuhannya hasil dari pembawaan dan lingkungan. Hewan hanya terserah kepada pembawaan keturunannya dan pengaruh-pengaruh lingkungannya. Perkembangan pada hewan seluruhnya ditentukan oleh kodrat, oleh hukum alam.
Sedangkan manusia berbeda dengan hewan disamping dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan, manusia aktif dan kreatif dalam mewujudkan perkembangan itu. Drs. M Ngalim Purwanto mengatakan dalam hal ini sebagai berikut:
“Manusia bukan hasil belaka dari pembawaan dan lingkungannya; manusia hanya diperkembangkan tetapi memperkembangkan dirinya sendiri. Manusia adalah makhluk yang dapat dan sanggup memilih dan menentukan sesuatu yang mengenai dirinya secara bebas. Karena itulah ia bertanggung jawab terhadap segala perbuatannya: ia dapat juga mengambil keputusan yang berlainan daripada yang pernah diambilnya. Proses perkembangan manusia tidak hanya ditentukan oleh faktor pembawaan yang telah ada pada orang itu dan faktor lingkungan yang mempengaruhi orang itu. Aktivitas manusia itu sendiri dalam perkembangan sendiri turut menentukan atau memainkan peran juga. Hasil perkembangan seseorang tidak mungkin dapat dibaca dari pembawaannya dan lingkungannya saja.

e.   Pengaruh Aliran Klasik terhadap Pemikiran dan Praktek Pendidikan di Indonesia

Di indonesia telah di terapkan berbagai aliran-aliran pendidikan, penerimaan tersebut dilakukan dengan pendekatan efektif fungsional yakni diterima sesuai kebutuhan, namun ditempatkan dalam latar pandangan yang konvergensi.

2.     Gerakan Baru Pendidikan dan Pengaruhnya terhadap Pelaksanaan di Indonesia

a.   Pengajaran Alam Sekitar

Gerakan pendidikan yang mendekatkan anak dengan sekitarnya adalah gerakan pengajaran alam sekitar,perintis gerakan ini adalah Fr. A. Finger di Jerman dengan heimatkunde, dan J. Ligthart di Belanda dengan Het Voll Leven.

b.   Pengajaran Pusat Perhatian

Pengajaran pusat perhatian dirintis oleh Ovideminat Decroly dari Belgia dengan pengajaran melalui pusat-pusat minat, disamping pendapatnya tentang pengajaran global. Decroly menyumbangkan dua pendapat yang sangat berguna bagi pendidikan dan pengajaran, yaitu:Metode Global dan Centre di internet.

c.   Sekolah Kerja

Gerakan sekolah kerja dapat dipandang sebagai titik kulminasi dari pandangan-pandangan yang mementingkan pendidikan keterampilan dalam pendidikan. J.A. Comenius menekankan agar pendidikan mengembangkan pikiran, ingatan, bahasa, dan tangan. J.H. Pestalozzi mengajarkan bermacam-macam mata pelajaran pertukaran di sekolahnya.

d.   Pengajaran Proyek

Pengajaran proyek biasa pula digunakan sebagai salah satu metode mengajar di Indonesia, antara lain dengan nama pengajaran proyek, pengajaran unit, dan sebagainya. Yang perlu ditekankan bahwa pengajaran proyek akan menumbuhkan kemampuan untuk memandang dan memecahkan persoalan secara konprehensif. Pendekatan multidisiplin tersebut makin lama makin penting, utamanya masyarakat maju.

3. Pandangan Islam Tentang Keberhasilan Pendidikan

Islam menyatakan bahwa manusia lair di dunia membawa pembawaan yang fitrah. Fitrah ini berisi potensi untuk berkembang, profesi ini dapat berupa keyakinan beragama, prilaku untuk menjadi baik ataupun menjadi buruk dan lain sebagainya yang kesemuanya harus dikembangkan agar ia bertumbuh secara wajar sebagi hamba Allah.
Rasulullah SAW. Bersabda:


كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى اْلفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْيُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ (الحديث)


Artinya:
“Semua anak dilahirkan membawa fitrah (bakat keagamaan), maka terserah kepada kedua orang tuanya untuk menjadikan beragama Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.”
Demikian pula Rasulullah SAW yang menasihati agar memilih wanita yang baik agar keturunan itu baik.
Rasulullah SAW bersabda:


تَخَيَّرُوْالِنُطَفِّكُمْ فَاءِنَّالعَرَقَ سَاسٌ (الحد يث)


Artinya
“Pilihlah untukmu benihmu karena keturunan itu dapat mencelupkan”
(Al Hadits)
Disamping keturunan juga menekankan kepada pendidikan dan usaha diri manusia untuk berusaha agar mencapai pertumbuhan yang optimal.
Allah berfirman:


قُوْآأَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا... (التحريم : 6)


Artinya:
“Jagalah dirmu dan keluargamu dari api neraka”

Allah berfirman pula:


وَأَنْ لَيْسَ لِلاْءِ نْسَانِ إِلاَمَاسَعَى (مالنج:39)


Artinya:
“Bahwa bagi manusia itu apa yang mereka usahakan.”

D. KESIMPULAN

Pendidikan islam dengan berbagai model dan corak metode aliranya harus berupaya membangun pendidikan yang relevan dan bermutu sesuai dengan kebutuhan masyarakat islam Indonesia, menyelenggarakan pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, pendidikan yang demokratis dan profesional, berusaha mengurangi peran pemerintah dalam implementasi pendidikan dan merampingkan birokrasi pendidikan sehingga lebih fleksibel dalam pelaksanaan pendidikan.

Konsep pendidikan islam senantiasa terus berkembang dan menghendaki pembaruan yang disesuaikan dengan irama perkembangan dan kemajuan peradapan serta persoalan-persoalan yang dihadapai umat manusia.

E. REFERENSI

1. Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

2. Sanaky, Hujair AH. 2003, Paradigma Pendidikan Islam: Membangun Masyarakat Madani Indonesia. Yogyakarta: Safiria Insani Press

3. Dra. Zuhairini, dkk. 2000. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara

4. Azra, azyumardi.1999. Pendidikan Islam tradisi dan modernisasi menuju millennium Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

5. Nasir, Ridlwan. 2005. Mencari Tipologi Format Pendidikan Idial Pondok Pesantren di Tengak Arus Perubahan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

6. Mastuhu. 2004. Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21. Yogyakarta: Safiria Insani Press

Tags: Uncategorized